Mataram (ANTARA) - Institut Elkatari menyelenggarakan wisuda ke-2 dengan mengusung tradisi budaya khas berupa prosesi sembeq buraq kepada lima wisudawan terbaik di Grand Madani, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (29/12).
Prosesi sembeq buraq dipimpin Pengrakse MAS Dr. H. L. Sajim Sastrawanaan sebagai simbol pemberkatan dan doa bagi para wisudawan sebelum memasuki fase pengabdian di tengah masyarakat.
Acara wisuda tersebut dihadiri Gubernur NTB Dr. H. L. Mohammad Iqbal. Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan apresiasi atas eksistensi Institut Elkatari yang mengintegrasikan nilai budaya dan nilai keislaman sebagai fondasi keilmuan.
Menurutnya, diferensiasi menjadi kunci bagi perguruan tinggi di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
“Perguruan tinggi harus memiliki pembeda. Lulusan yang keluar tanpa keunikan akan sulit mendapatkan tempat di masyarakat. Institut Elkatari memiliki kekuatan karena mempertemukan ilmu agama dan budaya sebagai ilmu dasar,” ujar Iqbal.
Gubernur juga menyinggung lemahnya pembangunan keilmuan di Indonesia yang selama ini dinilai kurang memberikan ruang pada penguatan ilmu-ilmu dasar, seperti sosiologi, antropologi, dan sejarah.
Baca juga: Empat wisudawan UMMAT raih penghargaan khusus pada wisuda ke-61
Ia menilai absennya pendekatan tersebut kerap menyebabkan kebijakan publik tidak selaras dengan karakter sosial masyarakat.
“Banyak kebijakan pembangunan gagal diterapkan karena minim kajian sosiologis dan antropologis. Kami mendorong Institut Elkatari untuk terus mengembangkan kajian budaya dan bahkan membuka program studi berbasis ilmu dasar,” katanya.
Sementara itu, Rektor Institut Elkatari Dr. Asbullah Muslim mengawali sambutannya dengan mengajak hadirin mengheningkan cipta untuk mendoakan masyarakat Aceh dan Sumatra yang tengah menghadapi musibah.
Ia menegaskan pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan melahirkan insan cerdas, tetapi juga manusia yang berakhlak dan berbudaya.
“Transformasi akhlak dalam perspektif budaya menjadi ciri khas Institut Elkatari. Hal itu diwujudkan melalui integrasi kurikulum keislaman, kearifan lokal, dan praktik budaya dalam proses akademik,” ujarnya.
Menurut Asbullah, transformasi akhlak merupakan kata kunci dalam upaya pemajuan sumber daya manusia yang berkelanjutan.
Baca juga: STKIP Tamsis Bima bakal mewisuda lebih 250 mahasiswa
Wisuda ke-2 Institut Elkatari juga dihadiri Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im.
Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan makna filosofis prosesi pergeseran tali toga dari kiri ke kanan.
“Pergeseran tali melambangkan pergeseran paradigma dari mahasiswa menjadi pengabdi, dari menjawab soal-soal di kelas menjadi menjawab tantangan kehidupan,” ujarnya.
Ia menambahkan setiap individu adalah pemimpin, dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, mengelola potensi, serta memberi manfaat bagi sesama.
“Jadilah sebaik-baik manusia, yaitu yang paling banyak memberi manfaat,” kata Rafiq.
Wisuda ini menegaskan komitmen Institut Elkatari dalam memadukan pendidikan akademik, nilai keislaman, dan kekayaan budaya lokal sebagai bekal lulusan menghadapi tantangan sosial di masa depan.
Baca juga: Institut Elkatarie di Mataram menggelar wisuda dengan tradisi "besembek"
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026