Dompu (ANTARA) - Budidaya tebu mulai mengubah wajah sejumlah desa di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kecamatan Pekat, seiring beroperasinya pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS).
Tanaman tebu yang semula kurang diminati kini menjadi komoditas unggulan dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Abu Bakar, mengatakan luas tanam tebu di wilayahnya meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari yang semula tidak ada, kini luas lahan tebu di Desa Kadindi mencapai sekitar 22 hektare.
"Awalnya nol, sekarang sudah sekitar 22 hektare. Ini perkembangan yang sangat baik,” katanya.
Menurut dia, ada sejumlah faktor yang membuat petani beralih ke tebu. Salah satunya adalah realisasi pembangunan jalan usaha tani oleh PT SMS yang mempermudah akses pengangkutan hasil panen.
"Dulu akses sulit, sekarang jalan sudah dibangun. Ketika akses mudah, petani jadi tertarik menanam tebu," ujarnya.
Selain infrastruktur, perusahaan juga memberikan insentif finansial berupa bonus Rp50 per kilogram tebu yang disetorkan petani. Skema bonus ini dinilai cukup efektif meningkatkan minat petani dalam satu tahun terakhir. PT SMS juga menyiapkan program penghargaan bagi petani berprestasi, seperti hadiah sepeda motor dan perjalanan umrah.
Baca juga: Kadin NTB dan DPRD Dompu dorong roadmap pengembangan tebu
Faktor lain yang turut mendorong peningkatan produksi adalah meningkatnya pengetahuan petani dalam budidaya tebu. Abu Bakar menilai kesadaran petani terhadap pemupukan dan teknik tanam kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
"Sekarang petani sudah saling berbagi ilmu. Produktivitas ikut naik," ucapnya.
Ia menyebutkan, dengan pengelolaan yang baik, produktivitas tebu dapat meningkat dari rata-rata 50–60 ton per hektare menjadi sekitar 120 ton per hektare. Dari sisi pendapatan, petani bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp30 juta hingga Rp60 juta per hektare per tahun.
"Rata-rata petani bisa mendapatkan sekitar Rp45 juta per hektare, sementara biaya produksi di bawah Rp11 juta," katanya.
Baca juga: Akademisi-BI mendukung Dompu jadi pusat agroindustri tebu Indonesia Timur
Perkembangan ini juga didukung oleh akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tebu yang disalurkan sejumlah perbankan, seperti BNI dan Bank NTB Syariah. Informasi keberhasilan petani tebu pun menyebar luas dari mulut ke mulut dan menarik minat petani lain.
Meski demikian, Abu Bakar menilai peran pemerintah desa masih perlu diperkuat, terutama dalam sosialisasi dan fasilitasi infrastruktur pendukung. Ia menyebut keterlibatan kepala desa dalam mendorong pengembangan tebu di Dompu masih terbatas.
Keberadaan tebu disebut telah mengubah kondisi sosial-ekonomi desa-desa sekitar pabrik, seperti Sorinomo dan Doropeti. Aktivitas ekonomi meningkat, toko-toko bermunculan, dan pembangunan rumah baru semakin marak, terutama saat musim panen.
Ke depan, Abu Bakar berharap pengembangan tebu di Dompu terus didorong secara merata. Ia mengusulkan adanya skema subsidi silang angkutan tebu bagi petani di wilayah jauh seperti Tambora dan sebagian wilayah Bima agar tidak terbebani biaya transportasi yang tinggi.
"Kalau bisa ada subsidi angkutan, petani di zona jauh juga bisa menikmati keuntungan yang sama," ucapnya.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026