Dompu (ANTARA) - Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menjelma sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas tebu di Pulau Sumbawa dengan perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah setiap pekan saat musim panen.

Kepala Desa Sorinomo Supardi mengatakan sektor tebu kini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat, dengan sekitar 80 persen warga menggantungkan hidup pada komoditas tersebut.

"Perputaran uang dari aktivitas tebang muat saja bisa mencapai sekitar Rp700 juta per minggu. Secara keseluruhan, aktivitas ekonomi bisa menembus Rp1 miliar setiap pekan selama masa panen," katanya.

Menurutnya, peningkatan minat masyarakat terhadap budidaya tebu tidak lepas dari sistem tanam yang efisien melalui metode ratun, yakni teknik yang memungkinkan panen berulang hingga lima sampai delapan tahun tanpa penanaman ulang.

Dengan metode tersebut, produktivitas lahan meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya berkisar 50–60 ton per hektare, kini mampu mencapai hingga 120 ton per hektare.

Selain itu, pendapatan petani dari komoditas tebu dinilai cukup menjanjikan. Rata-rata petani dapat meraup sekitar Rp45 juta per hektare per tahun dengan biaya produksi yang relatif rendah, sehingga margin keuntungan tergolong tinggi.

Kondisi ini turut mendorong regenerasi petani di Desa Sorinomo. Sejumlah generasi muda mulai kembali menekuni sektor pertanian setelah melihat peluang ekonomi yang menjanjikan dari komoditas tebu.

Fenomena serupa juga mulai terlihat di desa sekitar, seperti Kadindi, yang mengalami perluasan lahan dan peningkatan produktivitas. Dukungan insentif dari pabrik gula turut memperkuat daya tarik komoditas ini dibandingkan tanaman lain seperti jagung.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan tebu di Desa Sorinomo masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait infrastruktur jalan.

Baca juga: Tanaman tebu dongkrak ekonomi warga Dompu, kini bergantung pada industri gula

Supardi mengungkapkan tingginya mobilitas ratusan truk pengangkut tebu setiap hari menyebabkan kerusakan jalan yang cukup parah, sementara upaya perbaikan belum berjalan optimal.

"Minimnya koordinasi antara pemerintah desa dan pihak perusahaan membuat beban perbaikan sering kali ditanggung secara swadaya oleh desa," ujarnya.

Di sisi lain, komoditas tebu dinilai belum menjadi prioritas utama pemerintah daerah yang saat ini masih berfokus pada pengembangan jagung. Padahal, kontribusi tebu terhadap ekonomi lokal cukup signifikan, khususnya bagi desa-desa di sekitar kawasan industri gula.

Selain itu, belum optimalnya intervensi kebijakan dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani menjadi kekhawatiran tersendiri. Kondisi ini berpotensi menghambat ekspansi pengembangan tebu ke wilayah timur Kabupaten Dompu.

Baca juga: Terpopuler: Cuaca tak berpola menguji NTB, harga emas UBS, hingga tebu ubah wajah desa di Dompu

Tidak hanya dari sisi ekonomi, dampak sosial juga mulai dirasakan masyarakat. Lonjakan pendapatan saat musim panen mendorong peningkatan konsumsi warga, namun di sisi lain memunculkan potensi risiko sosial seperti masuknya peredaran narkoba ke desa.

Pemerintah desa bersama aparat keamanan dan pemerintah kabupaten diharapkan dapat mengantisipasi persoalan tersebut melalui pengawasan dan edukasi kepada masyarakat.

Dengan potensi yang besar, pengembangan tebu di Desa Sorinomo dinilai membutuhkan sinergi lebih kuat antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Langkah strategis seperti perbaikan infrastruktur jalan, kebijakan harga yang berpihak kepada petani, hingga skema subsidi transportasi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi berbasis tebu.

Jika didukung secara optimal, komoditas tebu tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama, tetapi juga fondasi transformasi ekonomi pedesaan di Kabupaten Dompu.

Bagi masyarakat Desa Sorinomo, keberlanjutan sektor ini menjadi harapan utama agar kesejahteraan warga terus meningkat seiring berkembangnya industri tebu di wilayah tersebut.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026