Mataram (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau warga pesisir terkait dengan potensi cuaca ekstrem dan fenomena rob yang diprediksi puncaknya pada Februari hingga Maret 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Akhamd Muzaki di Mataram, Kamis, menjelaskan tentang prakiraan cuaca dikeluarkan BMKG mengenai siklon tropis yang berpotensi melanda hampir seluruh perairan Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk pesisir Kota Mataram.
"Dengan kondisi itu, kami mengimbau nelayan agar tetap waspada terhadap karakter cuaca laut yang bisa saja berubah kapan saja," katanya.
Pada prinsipnya, pihaknya tidak melarang nelayan melaut, akan tetapi mereka harus memperhatikan cuaca meskipun nelayan lebih paham tentang karakter laut.
Berdasarkan data, wilayah Ampenan diprediksi menghadapi gelombang setinggi 0,5 hingga 1,25 meter, sedangkan wilayah selatan NTB, gelombang bisa mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.
Kondisi itu, katanya, diperparah dengan ancaman hujan dengan angin yang tiba-tiba, dampak kondisi cuaca di kabupaten sekitar Mataram.
Baca juga: Tiga kecamatan di Lombok Barat dilanda banjir
Terkait dengan fenomena rob di wilayah pesisir, seperti Bintaro, Pondok Perasi, Kampung Bugis, hingga Mapak kini menjadi perhatian serius karena arusnya semakin deras dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Hal itu dipicu oleh abrasi dan pengaruh siklon tropis yang berembus dari Samudera Hindia di bagian selatan," katanya.
Menghadapi puncak hidrometeorologi basah, Pemerintah Kota Mataram telah mengaktifkan tim desa tangguh bencana (destana) di delapan kelurahan di kawasan pesisir.
Baca juga: Warga NTB diajak pahami mitigasi bencana
Sesuai instruksi Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, seluruh jajaran camat, lurah, dan lingkungan diminta untuk melakukan pemantauan ekstra di masing-masing wilayah.
"Selain itu, semua posko bencana di tingkat kelurahan dan kecamatan juga harus aktif serta siaga untuk antisipasi serta mengurangi risiko dampak bencana," katanya.