Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menekankan nilai-nilai toleransi dan menjaga keberagaman pada momentum peringatan Nuzulul Quran 1447 Hijriah di Masjid Jami' Praya, Kabupaten Lombok Tengah.
Didampingi Wakil Gubernur NTB, Hj Indah Dhamayanti Putri, Gubernur Iqbal mengingatkan bahwa kawasan sekitar Masjid Jami' Praya sejak lama menjadi contoh nyata kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. Di kawasan Peken Laek di belakang masjid juga menjadi tempat tinggal masyarakat Tionghoa.
"Di belakang masjid ini ada kawasan pecinan, Peken Laek. Teman-teman Tionghoa kita banyak tinggal di sini, bahkan dulu ada sekolah Tionghoa di dekat sini. Masjid ini dikelilingi oleh masyarakat Tionghoa, tetapi kita hidup berdampingan dengan damai," katanya dalam keterangan yang diterima, Sabtu.
Ia pun kemudian mengenang peristiwa kerusuhan tahun 1998 yang sempat melanda sejumlah daerah di Indonesia. Menurutnya, masyarakat Lombok menunjukkan sikap yang berbeda dengan menjaga keselamatan sesama warga tanpa memandang latar belakang.
"Ketika kerusuhan 1998 terjadi, di kawasan ini tidak ada satu pun orang yang terluka. Inilah bentuk toleransi masyarakat Lombok yang sangat saya banggakan," kata Iqbal.
Baca juga: Tausiyah - Nuzulul Quran, momentum umat islam kembali ke cahaya Al Quran
Gubernur juga berbagi pengalaman pribadinya saat berada di Jakarta pada masa kerusuhan tersebut. Ia segera menghubungi keluarganya di Lombok untuk memastikan keselamatan mereka.
"Saya ingat ketika kerusuhan 1998 di Jakarta, saya sedang berada di sana. Orang pertama yang saya telepon adalah paman saya. Saya minta beliau masuk ke pondok pesantren Al-Muhajirin agar aman. Alhamdulillah, kita patut bersyukur hidup di daerah dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi seperti di NTB," katanya.
Selain itu, Iqbal juga mengajak masyarakat untuk mulai melakukan gerakan menanam pohon sebagai upaya menjaga keseimbangan alam dan mencegah bencana banjir.
Hal ini disampaikan-nya bahwa dirinya baru saja melakukan kunjungan kerja ke berbagai wilayah di NTB, mulai dari Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, termasuk Kota Bima dan Kabupaten Bima. Dari hasil kunjungan tersebut, dirinya mencermati bahwa dalam dua bulan terakhir sejumlah daerah mengalami bencana, terutama banjir bandang yang sebelumnya jarang terjadi.
"Dalam dua bulan terakhir ini hampir semua tempat mengalami bencana, dan yang paling banyak kita hadapi adalah banjir bandang yang dulu tidak pernah ada, sekarang mulai terjadi," ujarnya.
Baca juga: Nuzulul Quran 2026 jatuh kapan? Ini jadwal, makna, dan amalan yang dianjurkan
Menurutnya, meningkatnya frekuensi bencana tersebut tidak terlepas dari terganggunya keseimbangan alam, salah satunya akibat kerusakan hutan. Penggundulan hutan untuk pembukaan lahan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan menyebabkan tanah mudah terbawa aliran air saat hujan deras. Kondisi tersebut memicu banjir bandang dan merusak berbagai infrastruktur.
"Ketika hutan gundul, air tidak lagi terserap dengan baik. Akibatnya, lumpur dan air mengalir deras ke wilayah pemukiman dan merusak berbagai fasilitas," jelasnya.
Melalui momentum tersebut ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dengan menanam pohon serta tidak merusak kawasan hutan.
"Mari kita mulai menanam pohon, pohon apa saja. Pohon keras, pohon buah, apa saja yang bisa kita tanam untuk menjaga keseimbangan alam," ajaknya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Provinsi NTB akan menyiapkan ratusan bibit pohon yang dapat diambil masyarakat secara gratis untuk ditanam di lingkungan masing-masing.
"Nanti mulai hari Senin saya siapkan di Kauman beberapa ratus bibit pohon, mulai dari durian, alpukat, kopi, dan lainnya. Silakan masyarakat mengambil dan menanam-nya," katanya.
Baca juga: Presiden putuskan Nuzulul Quran digelar di Istana Negara
Baca juga: Tradisi "maleman" di Mataram jadi potensi pariwisata
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026