​Ada satu hal yang nyaris tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun, kecuali kepada kawan-kawan yang saya anggap dekat. Saya mempunyai sebuah ketertarikan yang misterius, absurd, dan cenderung mendekati obsesi terhadap segala benda atau situs yang

Mataram (ANTARA) - Hari ini saya kembali ke Situbondo, Jawa Timur, tepatnya di Sukorejo Kecamatan Asem Bagus. Barangkali bagi sebagian orang tempat ini hanya sebuah jalur perlintasan di wilayah pantura, namun bagi saya, wilayah ini adalah salah satu episentrum kerinduan historis, kultural, sekaligus spiritual. Alasan primernya mungkin sangat sederhana, anak gadis saya nyantri di salah satu pondok pesantren besar yang ada di wilayah ini.

Kewajiban moral sebagai seorang ayah menuntut saya untuk sering-sering berkunjung, mengantarkan bekal, atau sekedar memastikan bahwa jiwa raga anak gadis saya tetap baik-baik saja di perantauan. Namun di balik rutinitas wajib ini, Situbondo diam-diam menjadi panggung bagi sebuah anomali psikologis yang sering bergejolak dalam dada saya.

Ada satu hal yang nyaris tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun, kecuali kepada kawan-kawan yang saya anggap dekat. Saya mempunyai sebuah ketertarikan yang misterius, absurd, dan cenderung mendekati obsesi terhadap segala benda atau situs yang berhubungan dengan Hindia Belanda dan atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Sebagai warga negara yang sudah kenyang mengonsumsi doktrin sejarah anti-kolonialisme sejak sekolah dasar, saya semestinya merasakan dorongan patriotik untuk membenci segala bentuk manifestasi kompeni. Namun entah mengapa, saya justru mengalami semacam tarikan gravitasi magis yang sangat ekstrim oleh puing-puing yang mereka wariskan. Puing-puing itu seolah memanggil-manggil struktur bawah sadar saya untuk masuk ke dalam mesin waktu.

Kegandrungan aneh ini seringkali membuat rasionalitas saya menyerah. Percaya atau tidak, saya bisa duduk berjam-jam di stasiun kereta api tua yang dibangun oleh arsitek Belanda tempoe doeloe, menatap dindingnya yang mengelupas dengan tatapan yang lebih puitis daripada seorang pujangga yang sedang jatuh cinta. Di stasiun itu, keramaian akan saya rasakan berbaur dengan dekonstruksi ruang dan waktu.

Memang secara ilmiah, stasiun tersebut tak lebih dari tumpukan batu bata lama yang direkat oleh semen abad ke-19, tapi bagi saya, tempat itu secara filosofis adalah monumen bagi hasrat manusia untuk menaklukkan ruang dan waktu, sebuah hasrat yang dipicu oleh ketamakan imperialisme global bernama Hindia Belanda.

Tidak jarang pula saya menemukan diri saya sedang berdiri berlama-lama di tepi ladang tebu, menatap nanar ke arah rel-rel lori yang kini sudah separuh tertimbun tanah. Saya tahu, rel lori itu mungkin salah satu artefak dari Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa yang pernah memeras keringat nenek moyang pribumi kita.

Namun tetap saja bagi saya, besi-besi berkarat yang mencuat dari balik rumput liar itu memiliki estetika magis yang sulit dijelaskan. Ada harmoni yang ganjil antara sisa-sisa mekanisasi kolonial dengan kesuburan tanah Jawa, sebuah dialektika antara besi dingin dan pucuk-pucuk tebu yang hijau, saya menyebutnya begitu. 

Zaman telah bergerak maju tanpa mengindahkan romantisisme sejarah yang bergejolak dalam dada saya sama sekali. Lori-lori besi yang dahulu ditarik mesin uap itu sekarang sudah tidak terpakai lagi, digantikan oleh truk-truk modern yang jauh lebih efisien secara matematika logistik.

Truk-truk masa kini memang bergerak lebih cepat, namun bagi saya kendaraan-kendaraan ini tidak memiliki jiwa melankolis yang dimiliki oleh lori tua. Melihat truk-truk itu berlalu lalang, saya sering tersenyum kecut, lalu bergumam sendiri, betapa modernitas telah menukar keindahan visual yang lambat dengan fungsi pragmatis yang bising dan berpolusi ini.

Petualangan melankolis ini juga pernah membawa langkah kaki saya mengunjungi beberapa pabrik gula di sekitar wilayah ini, yang dulunya didirikan dan dikuasai oleh pemodal-pemodal kaya dari Amsterdam atau Rotterdam. Lucunya, motivasi kunjungan saya sama sekali bersih dari hasrat saintifik.

Saya datang ke sana bukan untuk mempelajari proses termodinamika kristalisasi tebu menjadi gula, bukan pula untuk memahami manajemen rantai pasok agro-industri modern. Saya datang murni demi memuaskan dorongan misterius itu, kegandrungan neurotik terhadap segala sesuatu yang beraroma, berwujud, dan berarsitektur Hindia Belanda dan VOC.

Mungkin gejala psikologis yang saya alami ini tak lebih dari sekedar simtom Stendhal Syndrome lokal, di mana seseorang mengalami luapan emosi yang hebat saat berhadapan dengan objek bersejarah tertentu.

Bedanya, jika orang lain terpesona oleh lukisan Renaissance di Firenze, saya justru terpesona oleh karat besi pabrik gula dan aroma kayu lapuk peninggalan kolonial. Kalau dibikin jadi humor gelap, Ini akan jadi sangat lucu, seorang bapak yang datang ke Situbondo demi anaknya yang sedang belajar agama dan melepaskan diri dari keterikatan duniawi, justru kesandung di sudut pabrik tua lalu terkagum-kagum oleh sisa-sisa kejayaan kapitalisme global di masa lalu.

Hingga saat ini, kecenderungan "aneh" ini tetap menjadi misteri bagi diri saya, tapi saya yakin tidak demikian bagi teman-teman pembaca yang memiliki keahlian psikoanalisis. Karena itu saya akan sangat senang jika esai saya ini kalian komentari.

Pernah sih, ada seorang kawan karib saya berkomentar begini: "Bro, mungkin kamu ini reinkarnasi dari salah seorang bangsawan Jawa feodal yang sangat pro kompeni". Jadik jamak! Untungnya saya bisa maklumi, karena saya lebih melihat kawan ini sebagai seorang praktisi mistik daripada seorang ahli psikoanalisis, jika tidak begitu, wah'k noh jagur biwih'n. Hahahaha... 

Baca juga: Menjawab gugatan kaum puritan tentang hukum penyelenggaraan MTQ
Baca juga: Sastra Indonesia di tengah tirani algoritma

 

Situbondo, Akhir Mei 2026.





COPYRIGHT © ANTARA 2026