Mataram, 18/10 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melibatkan instansi vertikal dalam memberantas buta aksara yang ditargetkan tuntas pada 2010.

   "Instansi vertikal yang dilibatkan antara lain Universitas Mataram (Unram) beserta sejumlah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB Rosiady H Sayuti di Mataram, Minggu.

   Selain itu, Pemprov NTB juga menjalin kerja sama dengan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dan TNI dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di wilayah ini.

   Rosiady mengatakan pemberantasan buta aksara merupakan bagian dari program peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah NTB.

   IPM NTB masih tergolong rendah karena menempati peringat 32 dari 33 provinsi di Indonesia, dan penyebab utamanya yakni angka buta aksara serta angka kematian ibu yang masih tinggi. 

Data buta aksara versi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB menyebutkan jumlah penyandang buta aksara masih sebanyak 250.158 orang dari total penduduk NTB sebanyak 4.257.306 jiwa.

   Secara nasional angka buta aksara di wilayah NTB pada 2006 mencapai 615.823 orang, dan pada akhir 2007 terjadi pengurangan  sebanyak 365.665 orang, sehingga saat ini masih tersisa 250.158 orang.

   "Dari data yang ada diupayakan pemberantasan buta aksara dapat dituntaskan pada 2010, sehingga tidak ada lagi buta aksara setelah itu," kata Rosiady.

   Sebelumnya, Komandan Korem (Danrem) 162/Wira Bhakti Kolonel Inf Andreas Yomar Purwoko Bhakti mengatakan pihaknya mulai terlibat aktif membantu pemerintah daerah di NTB dalam memberantas buta aksara. 

Kegiatan pemberantasan buta aksara merupakan bagian dari program manunggal TNI bidang pendidikan.  

Namun, sejauh ini kegiatan pembelajaran terhadap warga buta aksara usia 15-45 tahun masih sebatas wilayah teritorial Kodim 1606/Lombok Barat yang mencakup Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

   Jajaran Kodim 1606/Lombok Barat baru menyiapkan 50 orang babinsa untuk mengajar program Paket A (setingkat sekolah dasar) di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.

   Seorang babinsa menangani satu kelompok belajar yang jumlahnya mencapai 10 orang, sehingga jumlah sasaran buta aksara yang akan ditangani 50 orang babinsa yang telah dibekali pengetahuan dan kecakapan mengajar itu mencapai 500 orang.

   Kegiatan belajar-mengajar untuk pemberantasan buta aksara tersebut berlangsung selama 1-2 jam yang waktunya disesuaikan dengan kesediaan kelompok belajar.

   "Kodim lainnya yang menyebar di wilayah NTB juga akan melakukan kegiatan serupa, dan kami akan koordinasikan dengan instansi teknis pemda demi kelancaran program manunggal TNI bidang pendidikan itu," katanya.(*)

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026