Petani bawang di Bima menjerit merugi
Kamis, 1 November 2018 19:23 WIB
Seorang warga petani melihat lahan yang ditanami benih bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Sabtu (28/4). (Foto Antaranews NTB/Sadim) (Foto Antaranews NTB/Sadim/)
Bima (Antaranews NTB) - Petani bawang merah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meminta pemerintah memberikan solusi terkait masalah rendahnya harga bawang merah karena tidak sebanding dengan biaya usaha tani yang dikeluarkan.
"Harga bawang merah pada musim panen raya tahun ini hanya Rp700 ribu per kuintal. Kalau tahun sebelumnya bisa mencapai Rp2 juta," kata Tasrif, salah seorang petani bawang merah yang ditemui di Desa Tawali, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Kamis.
Menurut dia, harga bawang yang relatif rendah tersebut tidak bisa memberikan keuntungan bagi para petani karena harga sarana produksi pertanian justru semakin tinggi, terutama pestisida.
Tasrif mengaku harus mengeluarkan biaya produksi hingga Rp10 juta untuk satu hektare tanaman bawang merah. Biaya tersebut terdiri atas pembelian benih bawang, pupuk, dan pestisida sebesar Rp6 juta. Belum termasuk biaya tenaga yang harus dikeluarkan petani mulai dari masa tanam hingga panen.
Selain itu, pengeluaran untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium untuk menghidupkan mesin pompa air yang digunakan menyiram tanaman. Nilainya mencapai Rp4 juta mulai dari tanam hingga panen.
"Sampai saat ini belum ada solusi yang diberikan pemerintah terkait masalah rendahnya harga bawang merah. Makanya, petani sudah berunjuk rasa beberapa waktu lalu menuntut tindakan nyata pemerintah," tuturnya.
Ia juga berharap pemerintah tidak hanya meminta para petani memproduksi bawang merah sebanyak-banyaknya, tapi tidak memperhatikan harga ketika musim panen raya.
"Pemerintah perlu memperhatikan masalah pasar. Produksi sudah banyak, tapi petani hanya bisa menjual dalam bentuk gelondongan, belum mampu mengolah. Di Kecamatan Wera belum ada petani yang bisa mengolah bawang merah," ucap Tasrif.
Rendahnya harga bawang merah di tingkat petani juga diakui Anggota Komisi II DPRD NTB, Raihan Anwar. Politikus dari Partai Nasdem tersebut menemukan fakta ketika melakukan ketika turun rese ke sejumlah sentra produksi bawang merah di Kabupaten Bima.
"Semua petani bawang merah yang saya temui mengeluhkan kondisi harga saat ini. Mereka meminta pemerintah segera memberikan solusi," ujarnya.
Menurut dia, salah satu solusi yang bisa melindungi para petani adalah pemerintah harus menerbitkan aturan harga pembelian terendah untuk bawang merah. Dengan begitu, para tengkulak tidak mudah mempermainkan harga pada saat panen raya.
"Pemerintah harus menerbitkan aturan seperti yang diberlakukan pada komoditas jagung dan padi. Jangan biarkan harga bawang merah terus menerus dimainkan oleh para pemain yang menguasai pasar," katanya.
"Harga bawang merah pada musim panen raya tahun ini hanya Rp700 ribu per kuintal. Kalau tahun sebelumnya bisa mencapai Rp2 juta," kata Tasrif, salah seorang petani bawang merah yang ditemui di Desa Tawali, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Kamis.
Menurut dia, harga bawang yang relatif rendah tersebut tidak bisa memberikan keuntungan bagi para petani karena harga sarana produksi pertanian justru semakin tinggi, terutama pestisida.
Tasrif mengaku harus mengeluarkan biaya produksi hingga Rp10 juta untuk satu hektare tanaman bawang merah. Biaya tersebut terdiri atas pembelian benih bawang, pupuk, dan pestisida sebesar Rp6 juta. Belum termasuk biaya tenaga yang harus dikeluarkan petani mulai dari masa tanam hingga panen.
Selain itu, pengeluaran untuk pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium untuk menghidupkan mesin pompa air yang digunakan menyiram tanaman. Nilainya mencapai Rp4 juta mulai dari tanam hingga panen.
"Sampai saat ini belum ada solusi yang diberikan pemerintah terkait masalah rendahnya harga bawang merah. Makanya, petani sudah berunjuk rasa beberapa waktu lalu menuntut tindakan nyata pemerintah," tuturnya.
Ia juga berharap pemerintah tidak hanya meminta para petani memproduksi bawang merah sebanyak-banyaknya, tapi tidak memperhatikan harga ketika musim panen raya.
"Pemerintah perlu memperhatikan masalah pasar. Produksi sudah banyak, tapi petani hanya bisa menjual dalam bentuk gelondongan, belum mampu mengolah. Di Kecamatan Wera belum ada petani yang bisa mengolah bawang merah," ucap Tasrif.
Rendahnya harga bawang merah di tingkat petani juga diakui Anggota Komisi II DPRD NTB, Raihan Anwar. Politikus dari Partai Nasdem tersebut menemukan fakta ketika melakukan ketika turun rese ke sejumlah sentra produksi bawang merah di Kabupaten Bima.
"Semua petani bawang merah yang saya temui mengeluhkan kondisi harga saat ini. Mereka meminta pemerintah segera memberikan solusi," ujarnya.
Menurut dia, salah satu solusi yang bisa melindungi para petani adalah pemerintah harus menerbitkan aturan harga pembelian terendah untuk bawang merah. Dengan begitu, para tengkulak tidak mudah mempermainkan harga pada saat panen raya.
"Pemerintah harus menerbitkan aturan seperti yang diberlakukan pada komoditas jagung dan padi. Jangan biarkan harga bawang merah terus menerus dimainkan oleh para pemain yang menguasai pasar," katanya.
Pewarta : Awaludin
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tajuk ANTARA NTB - Gudang penyimpan, harapan baru untuk petani bawang merah NTB
04 September 2025 9:11 WIB
Terapkan "electrifying agriculture", petani bawang di Bima tekan biaya operasional
24 October 2022 6:34 WIB, 2022