Lombok Barat (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan langkah mitigasi bencana jangka panjang sebagai respons atas peningkatan intensitas bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan penanganan banjir tidak hanya mengandalkan solusi jangka pendek melalui peninggian tanggul tanpa pembenahan kawasan hulu sungai.

"Untuk jangka menengah dan panjang, kondisi bukit-bukit yang sudah gundul harus diperbaiki," ujarnya saat meninjau pemukiman terdampak banjir di Lombok Barat, Rabu.

Iqbal mengungkapkan bahwa sedimentasi yang hanyut terbawa arus banjir terjadi akibat kerusakan lingkungan dan berkurangnya daerah resapan air di kawasan perbukitan.

Baca juga: Kelompok kerja AMPD mematangkan mitigasi bencana di NTB

Ia meminta pemerintah desa untuk lebih selektif dalam mengeluarkan rekomendasi pemanfaatan lahan yang berpotensi merusak lingkungan dan memperparah risiko bencana hidrometeorologi.

"Jika hulu tidak dibenahi, banjir terus berulang," kata Iqbal.

Saat ini Pemerintah NTB bersama pemerintah kabupaten melakukan upaya penanganan banjir secara bertahap dengan memetakan kebutuhan jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Pada tahap awal, pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, seperti selimut, sembako, dan berbagai perlengkapan pribadi lainnya.

Gubernur Iqbal menginstruksikan agar penanganan darurat berfokus terhadap pembersihan saluran air dan sungai yang mengalami sedimentasi.

"Kami sepakat membersihkan drainase terlebih dahulu, karena curah hujan masih tinggi," ujarnya.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya tercatat ada 570 kepala keluarga atau 1.711 jiwa yang terdampak bencana banjir di Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Baca juga: Warga NTB diajak pahami mitigasi bencana

Bencana banjir juga melanda Kabupaten Lombok Tengah dengan jumlah korban terdampak sebanyak 50 kepala keluarga di Desa Montong Ajang dan 250 kepala keluarga di Desa Selong Belanak.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir terjadi selama beberapa hari ke depan di Nusa Tenggara Barat.

Fenomena cuaca buruk tersebut terjadi akibat dinamika atmosfer, di antaranya kemunculan pusat tekanan rendah di Samudera Hindia bagian selatan NTB, Monsun Asia yang menguat, dan pembentukan zona konvergensi.

Baca juga: Wakil Wali Kota Bima mengingatkan mitigasi bencana hadapi banjir
Baca juga: Lombok Timur lakukan mitigasi bencana hidrometeorologi