Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membuka lahan alternatif di Kelurahan Babakan sebagai lokasi relokasi tempat penampungan sementara (TPS) Sandubaya yang sudah kelebihan kapasitas.

"TPS Sandubaya saat ini sudah mengalami kelebihan kapasitas (overload), sehingga aktivitas TPS segera kami relokasi ke Babakan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Senin.

Menurutnya, luas lahan yang disiapkan di TPS Babakan sekitar 23.000 meter per segi, dan akan digunakan dalam waktu dekat untuk mengurangi beban di TPS Sandubaya.

Volume sampah di TPS Sandubaya saat ini mencapai sekitar 10.000 ton, sementara kapasitas yang ada sekitar 100 ton. TPS Sabdubaya menjadi penampungan sampah untuk dua kecamatan, yakni Kecamatan Cakranegara dan Sandubaya.

Menurutnya, TPS alternatif di Babakan tersebut akan menggunakan metode gali timbun (landfill) agar kawasan bisa tetap rata dengan tanah dan tidak menimbulkan dampak lingkungan.

Baca juga: Sebanyak 375 ton sampah di TPS Sandubaya Mataram diangkut

Karena itu, tiga unit insinerator di TPS Sandubaya tetap berada di Sandubaya sambil melakukan pembakaran sampah untuk mengurangi tumpukan sampah di TPS tersebut.

Tiga unit insinerator itu masing-masing memiliki kapasitas 10 ton per hari, sehingga sampah yang bisa dikurangi dalam sehari bisa mencapai 30 ton.

"Setelah persiapan lahan rampung, dalam waktu dekat TPS alternatif Babakan segera kami operasionalkan," katanya.

Sejak 10 Desember 2025, Pemerintah Provinsi NTB mengurangi ritase pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, dari empat ritase menjadi satu ritase.

Baca juga: 20 hari ke depan, TPS Sandubaya Mataram ditarget steril dari sampah

Kondisi itu memicu penumpukan sampah di sejumlah TPS di Kota Mataram, sehingga terjadi kelebihan kapasitas dan membuat Kota Mataram kembali menyandang kota darurat sampah.

"Berbagai upaya dan inovasi terus kami lakukan agar sampah di Kota Mataram bisa tertangani secara maksimal," katanya.

Salah satu program yang digencarkan saat ini adalah mendorong partisipasi masyarakat mengolah sampah terutama sampah organik secara mandiri melalui pembuatan tempah dedoro.

"Pengolahan sampah organik dengan sistem tempah dedoro terbukti efektif mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPS hingga 60 persen," katanya.

Baca juga: Ditolak warga, Pemkot Mataram batal buang sampah ke TPA Kebon Kongok
Baca juga: Dinkes Mataram dampingi pemantauan kesehatan warga sekitar TPS