Dompu (ANTARA) - Pihak pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dompu Matua, Kecamatan Woja, secara resmi memberikan klarifikasi dan membantah informasi yang beredar di media sosial terkait menu makanan serta sistem pembagian yang disebut-sebut tidak sesuai standar.
Pemilik Yayasan Bintang Fauzan Perdana, Papy Daus di Dompu, Rabu, menegaskan bahwa seluruh menu yang disajikan telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) dan ketentuan program yang berlaku.
"Menu yang kami sajikan sudah sesuai dengan standar operasional yang berlaku. Kami memastikan kualitas bahan, kebersihan proses pengolahan, serta kandungan gizi tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.
Terkait isu pembagian makanan secara dobel, pengelola menjelaskan kebijakan tersebut dilakukan secara terencana dan bukan akibat kesalahan distribusi.
"Pemberian dobel memang kami lakukan selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu. Hal itu sudah menjadi bagian dari SOP internal yang kami terapkan," katanya.
Baca juga: Wali Murid di Dompu protes menu MBG dinilai tak layak
Menurut dia, kebijakan tersebut telah melalui pertimbangan teknis dan disesuaikan dengan kebutuhan serta jadwal sekolah penerima manfaat.
Pengelola juga menanggapi informasi mengenai perbedaan nilai harga menu di sejumlah lokasi sekolah atau tingkatan kelas.
Ia menyebutkan, variasi tersebut disesuaikan dengan anggaran dan kondisi masing-masing sekolah.
"Menu yang kami sajikan memiliki variasi nilai, ada yang Rp10.000 dan ada yang Rp8.000. Perbedaan tersebut disesuaikan dengan ketentuan serta kondisi masing-masing sekolah dan tingkatan kelas," tambahnya.
Baca juga: Keterbatasan SPPG hambat pemerataan MBG di Dompu
Meski terdapat perbedaan nilai anggaran, ia memastikan standar kualitas dan kelayakan gizi tetap menjadi acuan utama dalam setiap penyajian.
Pihak MBG Dompu Matua menilai informasi yang beredar tanpa konfirmasi langsung kepada pengelola berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, masyarakat diimbau agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Pengelola juga menegaskan, komitmennya untuk terus menjalankan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan serta melakukan evaluasi berkala guna meningkatkan kualitas layanan.
Sementara itu, ahli gizi yang mengawasi dapur MBG tersebut, Fitria Rizky Dwi Putri, menjelaskan bahwa penilaian menu MBG tidak dapat dilakukan hanya dari tampilan visual atau jumlah porsi.
Baca juga: SPPG Dompu salurkan ribuan MBG untuk siswa dan korban banjir di Kecamatan Hu'u
Menurut dia, setiap paket disusun berdasarkan perhitungan kebutuhan gizi anak usia sekolah dasar yang mencakup energi, protein, lemak, dan karbohidrat.
"Kurma berfungsi sebagai sumber energi cepat dan mineral, roti atau kue sebagai karbohidrat, sementara tempe dan kacang merupakan sumber protein nabati. Seluruhnya dihitung agar memenuhi kecukupan gizi sesuai pedoman," ujarnya.
Ia menambahkan, pedoman dari Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan ruang variasi menu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Keberadaan sayur atau lauk hewani, kata dia, tidak harus muncul pada setiap kali penyajian, melainkan diatur melalui rotasi menu harian dan mingguan agar keseimbangan gizi tercapai secara menyeluruh.
"MBG merupakan intervensi gizi terukur, bukan pengganti makan utama. Evaluasi dilakukan dalam satu siklus menu, sehingga kecukupan gizi dinilai secara kumulatif,” katanya.
Sebelumnya, menu dapur SPPG tersebut viral karena di protes wali murid di SDN 17 Woja, karena hanya berisi kurma, roti, tempe, dan sambal kacang. Mereka menilai pengelola dapur yang melayani MBG di sekolah tersebut tidak bekerja secara profesional dan tidak sesuai standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Baca juga: Kodim bangun 42 titik dapur umum untuk MBG di Dompu