Ia mengemukakan bahwa pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian, alih fungsi lahan pertanian, dan produktivitas tanaman pangan yang tidak optimal berisiko menimbulkan defisit pangan. Suplai pangan yang sebagian bertumpu pada impor, ia melanjutkan, akan mendatangkan kerentanan dalam penyediaan pangan.
"Risiko atas pasokan yang berakibat pada kelangkaan stok dan kenaikan harga, serta risiko gejolak kurs mewajibkan kita membayar lebih mahal," katanya. Dia juga mengemukakan pentingnya mengambil pelajaran dari gangguan pasokan pangan dan energi dunia yang terjadi akibat konflik geopolitik global.
Baca juga: Ketua DPR katakan reformasi birokrasi modal kekuatan percepatan kemajuan Indonesia
Baca juga: DPR apresiasi Pertamina masuk Fortune Global 500
Pemerintah, menurut dia, harus meningkatkan upaya untuk mewujudkan kemandirian pangan dan ketahanan energi nasional supaya tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri. "Perlahan kita harus mulai mengurangi kecanduan ekspor komoditas. Kita perlu memperkuat kebijakan investasi yang diarahkan pada menguatnya industri nasional dalam mengelola nilai tambah komoditas ekspor," tuturnya.
Selain itu, dia menekankan pentingnya penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan serta investasi besar pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) pada masa perkembangan cepat teknologi. "Tidak ada pilihan bagi kita untuk tidak investasi besar-besaran pada SDM," demikian Puan Maharani.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026