"Kami menilai upaya ini bagian dari sosialisasi pada masyarakat, agar bisa menjadi pemantau kinerja hakim di daerah mereka, mengingat prilaku hakim tetap menjadi sorotan msyarakat,"
Mataram (AntaraNTB) - Sejumlah tokoh masyarakat lintas agama di Nusa Tenggara Barat, budayawan, seniman dan Aliansi Jurnalis Independen Mataram, menyerukan peradilan bersih di NTB, bebas dari suap dan praktek-praktek yang mencemari rasa keadilan masyarakat.

Seruan itu disampaikan dalam Pentas Seni Rakyat, yang diadakan Penghubung Komisi Yudisial NTB bersama Perkumplan Ideaksi (sinergi ide dan aksi), di panggung terbuka taman Pantai Ampenan, Kota Mataram, Jumat.

Ketua Penghubung Komisi Yudisial, Ridho Ardian Pratama mengatakan Pentas Rakyat dan seruan peradilan bersih di NTB, merupakan rangkaian dari 1 dasawarsa Komisi Yudisial Republik Indonesia.

"Kami menilai upaya ini bagian dari sosialisasi pada masyarakat, agar bisa menjadi pemantau kinerja hakim di daerah mereka, mengingat prilaku hakim tetap menjadi sorotan msyarakat," kata Ridho.

Dia menambahkan Profesi Hakim adalah profesi luhur, yang harus menonjolkan profesionalitas bagi kepentingan pelayanan publik. Masyarakat adalah pemantau yang paling awas dalam melihat prilaku hakim, terutama di daerah mereka.

Karena kata dia, masyarakat akan terus memantau, apakah hakim yang melayani kepentingan publik memiliki integritas, etika dan moral yang baik.

"Komisi yudisial adalah lembaga yang siap menerima laporan masyarakat apabila mereka menemukan perilaku hakim yang menyimpang di lapangan, Komisi Yudisial berharap peradilan bersih, beretika dan profesional bisa terwujud di Indonesia," katanya.

Pentas Rakyat 1 dasawarsa Komisi Yudisial RI, adalah wujud keperdulian semua elemen untuk bersama sama mewujudkan harapan agar hakim hakim di NTB menjalankan profesi mereka dengan baik, berintegritas, bermoral dan beretika.

Pentas Rakyat akan diawali dengan keterlibatan masyarakat yang datang menuliskan harapan harapan mereka terhadap hakim, beragam harapan bisa mereka tuliskan, sebagai pengingat agar hakim menjalankan tugasnya dengan adil , menolak suap, anti korupsi, serta mewujudkan peradilan bersih, beretika dan Profesional.

Kegiatan dilanjutkan dengan suguhan musik sasak yang diciptkan oleh mahasiswa Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, musik orkestra kontemporer, berjudul Sekepat Ragi Genep, sebuah rangkaian musik yang mengambil falsafal nilai nilai pancasila atau empat pilar negara yang harus dijaga untuk mendapatkan keadilan yang sempurna atau Ragi Genep (bumbu yang sempurna atau diimplemantasikan dengan keadilan yang sempurna).

"Meskipun kita tahu bahwa keadilan sempurna hanya milih Tuhan, namun kesempurnaan Tuhan harus menjadi acuan dan pegangan bagi para Hakim yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat," kata M Arsyad Nur Kholis Sumardi, sang komposer.

Musik sekepat Ragi genep dirangkai dengan pertunjukan wayang sasak dari para siswa sekolah pedalangan alternatif wayang sasak. Yang menggambarkan setiap mahluk hidup mendambakan rasa keadilan. Kedaiaman dan kebahagiaan akan dirasakan jika keadilan bisa dirasakan oleh semua umat di dunia.

Karena itu, wujud rasa keadilan yang digambarkan oleh tokoh tokoh wayang Sasak, diharapkan bisa mengungah siapapun, baik masyarakat untuk tetap mengawasi kinerja para hakim. demikian halnya dengan hakim untuk menjaga amanat yang mereka emban.

Nur Kholis juga juga memadukan musik orkestra kontemporernya dengan paduan suara lagu Nenek Kaji (Tuhan yang Maha Esa), sebagai wujud rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa, terebih lagi yang akan hadir adalah tokoh masyarakat dari lintas agama, yang akan memberikan dukungan dan seruan bersama untuk peradilan bersih di NTB. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026