Lombok Timur (Antaranews NTB) - Pemerintah diharapkan dapat mengganti biaya pembangunan hunian tetap (Huntap) mandiri yang dibangun warga terdampak gempa dengan kategori rumah rusak berat di wilayah Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat(NTB).

"Harapan saya ketika masyarakat sudah membangun, tolong usaha mereka ini dihargai. Dalam arti ketika nanti uangnya sudah cair (huntap kategori rusak berat), hitung nilai pembangunannya berapa, kemudian bantu mereka," kata Kepala Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lalu Kanahan, kepada Antara, Selasa.

Harapan tersebut, menurut dia, telah disampaikannya kepada pihak pemerintah. Namun apakah biaya Huntap mandiri dengan konstruksi kayu itu akan diganti atau tidak, dia belum dapat memastikannya.

"Sudah kita sampaikan dan tawarkan, tapi masih menunggu jawaban dari pemerintah," ujarnya.

Kanahan menyadari bahwa konsep Huntap mandiri yang dibangun warganya ini tidak sama seperti dengan konsep Huntap rekomendasi dari pemerintah, yang salah satunya juga terbuat dari kayu, yakni rumah instan kayu (RIKA).

Namun dia mengaku tidak bisa menyalahkan atau menghalangi warganya yang sudah terlanjur membeli bahan baku kayu dan kemudian membangun huntap secara mandiri.

"Masalahnya begini, sampai sekarang satu pun belum ada Huntap dari pemerintah yang dibangun di Sembalun. Sedangkan masyarakat kita membutuhkan cepat, belum lagi musim penghujan yang sudah masuk bulan," kata Kanahan.

Karena itu banyak warganya yang dikatakan sudah membangun Huntap secara mandiri dengan menggunakan dana pinjaman atau pun tabungan pribadinya.

"Sumber dananya macam-macam, ada yang menggunakan dana pribadi, ada yang mengandalkan pinjaman ke bank," kata Kanahan.

Namun Kanahan dapat memastikan bahwa konstruksi huntap yang dibangun oleh warganya menggunakan bahan baku kayu sudah pasti tahan terhadap gempa.

"Tidak mungkin masyarakat kita ini bangun rumah asal-asalan. Ingat, hunian ini adalah tempat tinggal yang akan dia tempati sampai dia mati, sampai anak cucunya," ucapnya.

Apalagi pascagempa melanda ratusan kali, seluruh hunian warga yang terbuat dari kayu masih kokoh berdiri.

Kanahan menegaskan bahwa tidak ada satu pun bangunan dari kayu yang roboh akibat gempa.

"Memang untuk bangunan dari kayu ini belum tersertifikasi seperti RISHA, tetapi faktanya di lapangan sudah teruji goncangan gempa 7 Skala Richter sampai sekarang, bangunan kayu di sini masih kokoh, kalau RISHA kan belum ada buktinya," tandasnya.
 

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026