Lima warga Kota Mataram terindikasi terkena rabies

id rabies,mataram,gigitan,anjing

Petugas Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) menyuntikan vaksin rabies ke anjing peliharaan milik warga di kawasan Mangga Dua Selatan, Jakarta, Selasa (8/1/2019). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/pras) (1)

Belum lama ini saya mendapatkan laporan, lima warga kota terkena gigitan anjing dan terindikasi tertular rabies
Mataram (Antaranews NTB)- Dinas Pertanian Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat lima orang warga di kota itu terindikasi terjangkit penyakit rabies karena terkena gigitan anjing.

"Belum lama ini saya mendapatkan laporan,lima warga kota terkena gigitan anjing dan terindikasi tertular rabies, tetapi setelah kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut hasilnya negatif," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Senin.

Ia mengatakan, sebanyak lima orang warga yang terindikasi kena virus anjing gila itu, ada yang digigit oleh anjing kesayangan dan ada juga terkena gigitan anjing liar.

"Beruntung lima warga yang terkena gigitan anjing tersebut bisa ditangani segera dan melakukan uji laboratorium terhadap bekas gigitannya," katanya.
Dikatakan, dalam upaya pencegahan dan antisipasi mewabahnya penyakit rabies yang telah menyerang kabupaten di Pulau Sumbawa, Dinas Pertanian Kota Mataram meningkatkan kegiatan eliminasi hewan pembawa rabies (HPR) yakni anjing, kucing dan kera liar.

Program eliminasi HPR terutama jenis anjing liar ini, katanya, aktif dilakukan setiap tahun sekali sebulan. Namun, setelah adanya kasus di Kabupaten Dompu, kegiatan eliminasi dalam sebulan ditingkatkan.

"Sejak Januari sampai saat ini, kita sudah melakukan sekitar 6 kali kegiatan eliminasi anjing liar, dengan jumlah anjing yang dieliminasi dalam satu kali kegiatan mencapai 10-20 ekor," katanya.

Kegiatan eliminasi anjing liar akan terus ditingkatkan, apalagi indikasi anjing liar yang tertular semakin banyak sehingga perlu dilakukan penekanan untuk mengendalikan jumlahnya.

"Anjing-anjing yang sudah kita eliminasi, akan dibawa ke tempat pembuangan akir (TPA) sampah di Kebon Kongok Lombok Barat dan dimusnahkan dengan cara ditimbun," katanya.

Menurutnya, penanganan HPR dengan cara eliminasi ini dinilai lebih efektif dan cepat dibandingkan dengan sistem steril yang sudah pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

"Sistem steril sangat sulit karena kita harus melakukan penangkapan terhadap anjing-anjing liar dan dampaknya hanya pengurangan populasi itupun lambat, sementara dalam kondisi saat ini kita butuh penangan cepat sehingga eliminasi menjadi solusinya," ujarnya.

Mutawalli mengatakan, sebagai upaya antisipasi mewabahnya virus rabies, Dinas Pertanian juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat baik melalui kelurahan maupun media cetak, agar masyarakat juga bisa waspada saat berinteraksi dengan HPR.

Selain itu, pihaknya menyarankan kepada masyarakat yang memiliki HPR kesayangan untuk datang ke Puskesmas Hewan di Selagas untuk memberikan vaksin kepada HPR mereka.

"Pemberian vaksin kepada hewan kesayangan itu diberikan secara gratis, karenanya masyarakat jangan ragu untuk datang agar kita bisa terhindar dari penyakit rabies," ujarnya.
Sementara, tambah Mutawalli, masyarakat yang terkena gigitan HPR segera datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, bisa juga langsung ke Puskeswan Selagalas. ***3***


 
Pewarta :
Editor: Nirkomala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar