Mataram (ANTARA) - Sebanyak 16 warga dibawa ke rumah sakit akibat banjir yang melanda Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (6/7).
"Informasi terakhir yang kami terima ada 16 warga yang dirujuk ke rumah sakit. Ini data sementara, kita akan perbaharui terus datanya," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Lalu Hamzi Fikri saat memantau kondisi banjir bersama Gubernur dan Wagub NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri di Mataram, Senin.
Ia mengatakan 16 warga harus dirujuk ke rumah sakit tersebut karena mengidap sejumlah penyakit sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
"Yang jelas dari banjir itu berdampak kesehatan, ada beberapa mengalami penyakit karena strok kita bawa rujukan ke rumah sakit, kalau penyakitnya masih ringan-ringan cukup kita tangani di puskesmas," ujarnya.
Baca juga: Banjir Mataram terparah sejak 40 tahun terakhir, kata Gubernur NTB
Dalam situasi seperti ini, pihaknya memfokuskan penanganan kedaruratan terlebih dahulu.
"Semua fasilitas kesehatan (faskes) kita sejak kejadian sudah siap. Di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Dari kemarin malam kami sudah cek di daerah terdampak," kata mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini.
Menurut dia, hal yang justru perlu diantisipasi, yakni pasca-banjir karena biasanya penyakit yang menghinggapi warga berupa risiko penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, ispa, penyakit kulit akibat terpapar air tidak bersih.
Bahkan, katanya, antisipasi setelah banjir berupa serangan demam berdarah dengue (DBD).
Baca juga: Tragis! Dua korban banjir di Mataram tewas tersengat listrik
Untuk posko pengungsian, seperti Asrama Haji NTB, di mana para lansia ditempatkan setelah dievakuasi dari Panti Jompo Dinas Sosial NTB saat banjir, ada yang menderita sejumlah penyakit.
"Tadi setelah kami lakukan pemeriksaan dari sejumlah lansia yang diungsikan di asrama haji ada yang menderita penyakit kronis, misalnya diabetes melitus sehingga perlu disuntik insulin, itu yang kita atensi," katanya.
Ia juga menjelaskan terkait dengan penanganan dampak psikologis warga terdampak banjir.
"Kemudian dari aspek psikologisnya, mereka (lansia) ini banyak yang kaget, dan trauma, sehingga kemarin malam kita jaga tidurnya. Karena mereka ini termasuk kelompok-kelompok rentan," kata Hamzi Fikri.
Baca juga: Pascabanjir, Jalan dan enam jembatan di Mataram dilaporkan aman
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya telah menyiagakan tim kesehatan guna memantau kondisi warga yang terdampak banjir di seluruh faskes, termasuk posko pengungsian di Asrama Haji NTB dari RSUP NTB dan RSUD Kota Mataram.
"Saat ini tim kami sudah menyebar di seluruh wilayah yang terdampak, tindakan surveilans kita aktifkan dan penilaian di lapangan. Tim sudah bergerak dan apa hasilnya kami sedang menunggu datanya pasca-banjir ini," katanya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB melaporkan 7.676 kepala keluarga atau 30.681 jiwa terdampak banjir akibat hujan melanda Kota Mataram dan daerah sekitarnya.
Baca juga: Bantu korban banjir, Pemkot Mataram dirikan dapur umum
Kepala BPBD NTB Ahmadi menyebut enam kecamatan di Kota Mataram terdampak banjir, yakni Sandubaya, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, dan Ampenan.
Korban luka-luka 15 jiwa dan pengungsi 520 jiwa, sedangkan, korban meninggal dunia dan korban hilang masih dalam proses pendataan.
Ia menjelaskan sungai-sungai yang mengalir di Kota Mataram meluap dan merendam pemukiman warga akibat hujan intensitas sedang hingga lebat pada Minggu (6/7), mulai pukul 14.00 Wita hingga sore.
"Peristiwa itu menyebabkan puluhan mobil terseret banjir, pohon tumbang, dan tembok keliling tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya roboh ke arah jalan. Kondisi saat ini sudah kondusif. Tim gabungan bersama saat ini sedang melakukan pembersihan material sisa banjir," katanya.
Baca juga: Puluhan ton sampah pascabanjir diangkut dari jalan-jalan utama Mataram
Baca juga: Gubernur Iqbal: ASN libur, fokus gotong royong bersihkan kantor pemerintahan
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026