Jakarta (ANTARA) - Program inkubasi kreator muda PINTU kembali menghadirkan residensi lintas budaya antara Indonesia dan Prancis sebagai bagian dari upaya memperluas peluang desainer muda tampil di panggung internasional.

Dalam konferensi pers yang digelar Kamis, salah seorang inisiator PINTU Incubator sekaligus pendiri LAKON Indonesia Thresia Mareta mengatakan program itu membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kreator muda dari dua negara melalui lokakarya, pendampingan, hingga produksi koleksi bersama.

"Para kreator muda dari Prancis sangat penasaran dan benar-benar ingin mengeksplorasi budaya Indonesia. Inilah semangat utama dari program ini," kata Thresia.

Tahun ini, dua desainer muda asal Prancis Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud mengikuti residensi di Indonesia untuk belajar teknik tenun dan batik langsung dari para perajin lokal. Keduanya akan menampilkan koleksi kolaborasi pada gelaran JF3 Fashion Festival 2025.

Baca juga: Tenunan khas Dompu tampil elegan di panggung Indonesia Fashion Week 2025

Dari Indonesia, kreator muda Nadia dan Tarisha dari label Dya Sejiwa juga turut ambil bagian. Mereka akan menampilkan karya berbahan tenun Garut dan kain tradisional lainnya dalam festival tersebut.

Baca juga: Fesyen dialog lintas budaya, jendela daya tarik wisatawan

Sebagai bentuk penguatan kerja sama internasional, PINTU menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan École Duperré Paris, institusi seni dan mode terkemuka di Prancis. Tiga siswa dari sekolah tersebut turut berpartisipasi dalam JF3 tahun ini.

Program residensi itu tidak hanya memberi pelatihan teknis, tapi, juga memperkaya pengalaman profesional dan personal para kreator muda ujar Thresia.

 

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026