Mataram (ANTARA) - Tim optimalisasi pajak dan retribusi (Opjar) Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) berhasil melakukan penagihan pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp500 juta kepada masyarakat penunggak selama 10 hari turun melakukan penagihan.
"Ini langkah awal, dalam 10 hari pertama bekerja, kurang lebih Rp 500 juta berhasil di kumpulkan tim opjar dari para wajib pajak," kata Sekda Lombok Timur HM Juaini Taofik dalam rapat evaluasi bersama tim opjar di Lombok Timur, Rabu.
Ia mengatakan melihat hasil perdana ini dengan sisa waktu 6 bulan ke depan, pihaknya mengaku optimis apa yang menjadi harapan terkait penagihan hutang pajak yang mencapai lebih dari Rp55 miliar secara bertahap bisa tertagih.
"Penarikan tunggakan PBB Rp30 juta hingga Rp50 juta per hari, kini telah meningkat menjadi Rp80 juta sampai Rp100 juta per hari," katanya.
Baca juga: Pungutan PBB bermasalah, Ketua DPRD Lombok Timur siap panggil Bapenda
Melalui tim opjar berhasil melakukan penagihan mencapai Rp500 juta, tidak itu mereka berhasil memperbaiki Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) yang bermasalah yang ditemui di lapangan.
"Kami akan terus melakukan evaluasi bersama tim opjar, terutama berkaitan dengan apa kendala dialami di lapangan, terutama dalam hal proses penagihan dan perbaikan dokumen SPPT," katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aspek penagihan dan pelayanan terhadap masyarakat, terutama dalam hal pembaruan data SPPT.
“Kami harus seimbang antara aspek penagihan dan pelayanan perbaikan SPPT-nya,” tegasnya.
Baca juga: Tim operasi kejar pajak dibentuk di Lombok Timur
Dalam suasana rapat tersebut, Bupati Lombok Timur Haerul Warisin juga turut hadir memberikan arahan dan motivasi kepada tim opjar.
Kehadiran Bupati di tengah evaluasi menunjukkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).
"Program opjar ini merupakan langkah strategis Pemkab Lombok Timur dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan pajak dan retribusi, guna mendukung pembiayaan pembangunan daerah secara mandiri dan berkelanjutan," katanya.
Pewarta : Akhyar Rosidi
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026