Mataram (ANTARA) - Dinas Perhubungan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, segera mencanangkan program transportasi anak sekolah gratis melalui inovasi Trans Bening (transportasi anak sekolah menggunakan bemo kuning) guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di kalangan pelajar.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram Zulkarwin di Mataram, Kamis, mengatakan, program Trans Bening juga bertujuan untuk mengenalkan angkutan publik yang lama vakum.
"Selain itu, sebagai upaya pemberdayaan bagi sopir bemo kuning untuk penjemputan anak sekolah," katanya.
Menurutnya, program Trans Bening tersebut dijadwalkan dicanangkan pada Jumat (26/9-2025), sebagai salah satu program inovasi dari Dishub Kota Mataram dalam bidang transportasi layanan publik.
Baca juga: Jalur darat-laut-udara NTB diperkuat, Pembangunan dikebut
Dalam pelaksanaan, katanya, program tersebut sudah diuji coba sejak Oktober 2024 di SMP Negeri 7 Mataram dan dari hasil evaluasi, dinilai efektif dan capaian penumpang mencapai di atas 90 persen bahkan tidak jarang melampaui 100 persen atau kelebihan penumpang.
"Itu sebagai bagian sinyal program tersebut butuh pengembangan dan tambahan armada. Karena itulah, besok pagi program itu akan kami canangkan," katanya.
Dalam pelaksanaan program Trans Bening, lanjutnya, pihaknya bekerja sama dengan 10 sopir angkutan kota berupa bemo kuning yang sudah dinyatakan lolos uji KIR guna memastikan kendaraan tersebut memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan di jalan raya.
Baca juga: Gubernur NTB Iqbal bertemu Menhub bahas transportasi laut
Selain itu, untuk menjaga keselamatan pelajar dan pengguna jalan, memastikan kepatuhan terhadap standar lingkungan, dan mencegah kendala operasional.
"Dari sekitar 98 bemo kuning yang tercatat di data kami, baru 10 bemo kuning dinyatakan layak jalan," katanya.
Sebanyak 10 bemo kuning tersebut khusus melakukan antar jemput siswa di SMP Negeri 7 Mataram. Sekolah tersebut dipilih menjadi lokasi uji coba karena berdasarkan hasil survei banyak siswa yang diantar jemput orang tua sehingga memicu kemacetan lalu lintas, dan peminatnya banyak.
Selain itu, SMP 7 Mataram memiliki areal parkir yang luas sehingga memudahkan 10 bemo kuning masuk dan mengangkut siswa, tanpa harus parkir di pinggir jalan yang bisa memicu kemacetan lagi.
Baca juga: Terobosan transportasi laut Gubernur NTB dapat dukungan Komisi VII DPR
Kondisi kendaraan anter jemput di SMP Negeri 7 Mataram memang hampir sama dengan SMP Negeri 15, SMP Negeri 1, dan SMP Negeri 2 Mataram di Jalan Pejanggik, yang selalu padat kendaraan saat datang dan jam pulang, tapi ketiga sekolah itu tidak memiliki lahan luas untuk manuver bemo kuning.
"Kalau bemo kuning parkir di pinggir jalan, sama saja akan membuat macet arus lalu lintas. Karena itulah, kami lebih memilih SMP 7 yang berada di pinggiran," katanya.
Namun demikian, lanjutnya, setelah kegiatan pencanangan tersebut, Dishub Kota Mataram kembali akan melakukan survei terhadap sekolah-sekolah yang bisa dilayani Trans Bening.
Baca juga: Alternatif pilihan transportasi di Bandara Lombok untuk meningkatkan pelayanan
Sekaligus melakukan persiapan armada bemo kuning yang bisa bergabung bekerja sama dalam program tersebut, agar bemo kuning yang akan digunakan sudah lulus uji KIR.
Kerja sama dengan para sopir bemo kuning itu dilakukan dengan memberikan insentif sebesar Rp1,5 juta per bulan.
"Insentif tersebut sebagai tambahan untuk para sopir, sebab di luar jam antar jemput anak sekolah mereka bisa bebas cari penumpang," katanya.
Diharap melalui program Trans Bening bisa meningkatkan keselamatan pelajar di jalan, memudahkan akses pendidikan, mengurangi kemacetan, menekan biaya transportasi, serta mendukung kelancaran kegiatan belajar-mengajar dengan memastikan pelajar sampai sekolah dengan aman dan tepat waktu.
"Selain itu dapat mengurangi beban orang tua, menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, serta meningkatkan kesadaran penggunaan transportasi umum," katanya.