Mataram (ANTARA) - Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin di dalam UUD 1945 sebagai komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun, apakah Negara mampu untuk memenuhinya ditengah kondisi saat ini. Isu ketahanan pangan kini tak lagi sebatas urusan produksi padi. Di era perubahan iklim dan ekonomi global yang fluktuatif, sistem pangan menghadapi tekanan besar mulai dari musim kekeringan yang kian panjang, kelangkaan dan harga pupuk mahal, hingga persoalan gizi masyarakat yang berlarut.

Ketahanan pangan berakar pada empat pilar utama yaitu; ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan. Pilar ini harus dipenuhi secara berkelanjutan agar masyarakat dapat hidup sehat dan produktif. Namun, berbagai faktor eksternal seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan volatilitas harga pangan mengancam pencapaian tujuan tersebut. Perubahan iklim, khususnya membawa ancaman perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu yang memengaruhi produktivitas pertanian, dengan risiko penurunan hasil panen yang signifikan pada komoditas utama seperti padi.

Dalam menghadapi tantangan ini, pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknologi menjadi sangat krusial. Misalnya, adopsi praktik pertanian berkelanjutan dan teknologi pertanian pintar (smart farming) mampu meningkatkan efisiensi serta ketahanan produksi pangan. Teknologi seperti Big Data dan Internet of Things (IoT) mendukung pengambilan keputusan berbasis data dalam mengelola rantai pasok pangan, mempercepat prediksi cuaca, dan deteksi dini penyakit tanaman, sehingga meningkatkan produktivitas dan mengurangi risiko gagal panen.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah contoh bagaimana kompleksitas ini terjadi. Sebagai daerah agraris sekaligus destinasi wisata, NTB kini harus menyeimbangkan kebutuhan pangan lokal, tantangan lingkungan, dan kesejahteraan petani.

Menurut FAO (2006), definisi ketahanan pangan adalah kondisi di mana setiap orang, setiap saat, memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi sesuai kebutuhannya. Konsep ini kini diperluas dengan dua aspek penting: agency (kemampuan masyarakat mengendalikan sistem pangan) dan sustainability (keberlanjutan ekologi dan sosial), (Béné et al. 2019). Lebih lanjut Lipper et al (2014) menyatakan “Ketahanan pangan bukan hanya tentang menanam lebih banyak, tetapi tentang menanam lebih cerdas dan berkeadilan.”

Produksi Padi

Data BPS NTB (2025), menunjukkan bahwa produksi gabah kering giling (GKG) tahun 2024 mencapai sekitar 1,45 juta ton, turun sekitar 5,5% dibanding tahun 2023 mencapai 1,53 juta ton. Penurunan ini terutama disebabkan oleh luas panen yang berkurang akibat kekeringan dan serangan hama.

Tahun 2025 ini Provinsi NTB menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) diangka 1,6 juta ton, Muhammad Taufieq Hidayat Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, mengatakan bertambahnya target produksi di tahun ini sebab adanya optimalisasi lahan pertanian seluas 10,5 ribu hektar di NTB, dengan ini optimistis mampu mendorong kenaikan luas panen tahun ini menjadi 310 ribu hektar, naik signifikan dari capaian tahun lalu yang sebesar 282 ribu hektar. Semoga bisa terwujud setidaknya menjadi salah satu faktor dalam menjaga ketahanan pangan dengan meningkatkan produksi.

Kondisi iklim juga menambah tekanan. Laporan Dinas Pertanian NTB (2024) mencatat beberapa kasus puso di Kabupaten Lombok Tengah dan Bima. Pola hujan yang tak menentu membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan panen.

Indeks Ketahanan Pangan menunjukkan disparitas antarwilayah: Kota Mataram dan Lombok Barat termasuk aman pangan, sementara Bima dan Dompu masih rentan. Ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan di NTB bersifat spasial artinya berbeda antara satu kabupaten dengan lainnya.

Angka Stunting

Pada Januari 2021, pemerintah menargetkan untuk menekan angka stunting di Indonesia hingga 14% pada tahun 2024. Namun, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting nasional masih berada di angka 21,6%, dengan Provinsi NTB mencatatkan angka 24,6%. Stunting menjadi perhatian serius khususnya bagi NTB. Meskipun angka stunting terus mengalami penurunan setiap tahunnya, namun masih berada di atas rata-rata nasional. Angka ini tetap menjadi sinyal bahwa akses dan pemanfaatan pangan bergizi belum merata di seluruh rumah tangga. Harus ada upaya yang mencakup peningkatan akses pelayanan kesehatan ibu dan anak, kampanye edukasi tentang gizi, serta intervensi gizi yang tepat sasaran. Kolaborasi antara Posyandu, pemerintah, dan berbagai pihak diperlukan untuk memastikan bahwa akses terhadap makanan bergizi dan pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan, sehingga dapat mengatasi dan mencegah stunting.

Empat Tantangan Besar Pangan NTB
1.    Ketergantungan pada Komoditas Tunggal
Sebagian besar lahan masih didominasi padi, ketergantungan ini membuat sistem pangan rapuh terhadap perubahan iklim dan fluktuasi pasar.
2.    Kerentanan Iklim dan Degradasi Lahan
Perubahan curah hujan dan degradasi tanah akibat intensifikasi berlebihan menurunkan produktivitas jangka Panjang, belum lagi terjadinya alih fungsi lahan dimana lahan produktif banyak menjadi lahan hunian.
3.    Gizi dan Pola Konsumsi
Tingginya angka stunting menunjukkan masih lemahnya kesadaran gizi seimbang dan keterbatasan akses pangan bergizi di pedesaan. Pola konsumsi penganekaragaman pangan belum secara merata karena pengetahuan yang masih kurang. Akses ekonomi masih menjadi penghambat bagi banyak kelompok masyarakat, meskipun pangan tersedia secara nasional
4.    Keterbatasan Infrastruktur Pascapanen
Minimnya fasilitas cold storage dan pengolahan hasil pertanian menyebabkan kerugian besar, terutama pada komoditas sayur dan buah. Program Industrialisasi pada pemerintahan era sebelumnya belum sepenuhnya berdampak pada Masyarakat.

Peluang Pangan NTB

Meski penuh tantangan, NTB memiliki peluang besar untuk memperkuat sistem pangannya diantaranya melalui;
1.    Diversifikasi Komoditas Unggulan Lokal
Selain padi, NTB memiliki potensi besar pada jagung, kedelai, bawang merah, cabai, ubi jalar, ikan tangkap, dan budidaya laut. Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan pada beras dan memperkuat gizi masyarakat.
2.    AgroPariwisata Berbasis Komunitas
Kawasan seperti Sembalun dan Tetebatu serta Kawasan lainnya, telah menunjukkan bahwa pertanian dan pariwisata dapat tumbuh bersama. Agro-tourism menciptakan nilai tambah produk lokal dan membuka pasar baru bagi petani.
3.    Inovasi Teknologi Cerdas Iklim (Climate-Smart Agriculture)
NTB melalui inovasi teknologi pendekatan CSA dapat meningkatkan produktivitas, adaptasi, dan mitigasi terhadap perubahan iklim secara bersama, ini bisa diterapkan melalui irigasi hemat air, varietas tahan kering, serta penggunaan pompa tenaga surya. Ditambah lagi dengan revitalisasi saluran irigasi dan berbagai pembangunan bendungan disetiap pulau baik Lombok dan Sumbawa diharapkan mampu menopang ketersediaan air untuk penanaman yang nantinya mampu meningkatkan produksi.
4.    Sinergi Akademik dan Riset Lokal
Perguruan tinggi di NTB seperti UNRAM, Universitas Muhammadiyah Mataram serta perguruan tinggi yang lain memiliki peluang besar untuk menjadi motor inovasi pertanian, seperti teknologi pengeringan, pengolahan hasil pertanian, dan sistem informasi cuaca berbasis data lokal.

Solusi NTB Lebih Tangguh

1.    Reformasi Sistem Air dan Irigasi Lokal
Pemerintah perlu memperluas irigasi, embung kecil, dan pompa surya. Teknologi hemat energi ini mendukung pertanian sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim hujan. Pemanfaatan bendungan yang dibuat secara optimal diharapkan mampu menopang ketersediaan air untuk penanaman yang nantinya mampu meningkatkan produksi.
2.    Penguatan Rantai Nilai dan Industri Olahan Desa
Pusat pengolahan pertanian (agro processing center) di setiap kabupaten dapat mengurangi post-harvest loss dan meningkatkan nilai jual produk lokal. Misalnya, pengeringan bawang merah, jagung, tepung singkong, dan pengemasan hasil perikanan.
3.    Program Pertanian Sensitif Gizi
Kolaborasi Dinas Pertanian, Kesehatan, dan Posyandu perlu diperkuat. Setiap desa dapat memiliki kebun gizi yang ditangani oleh kelompok wanita tani untuk menyediakan sayuran, ikan, dan sumber protein bagi keluarga rawan stunting.
Pengelolaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan baik disetiap daerah, dapat dijadikan pintu masuk untuk memperkenalkan ke anak-anak dan masyarakat tentang keanekaragaman pangan lokal yang dimiliki daerah, memperkenalkan pola asupan gizi yang berimbang, manfaat untuk pertumbuhan dan kesehatan. Sehingga nantinya stunting bisa dicegah.
4.    Digitalisasi Pasar dan Informasi Iklim
Aplikasi berbasis Android dapat menghubungkan petani dengan pasar, memberikan info harga harian, serta memberi peringatan dini iklim. Universitas bersama start-up lokal bisa mengembangkannya.
5.    Asuransi Pertanian dan Sistem Peringatan Dini
Asuransi berbasis indeks curah hujan dapat melindungi petani dari gagal panen. Sementara itu, Sistem Kesiapsiagaan Pertanian dan Bencana (SKPB) perlu diperluas untuk memantau risiko iklim di seluruh kabupaten.

Penutup

Ketahanan pangan di NTB merupakan isu multidimensi yang membutuhkan pendekatan terpadu meliputi aspek sosial, ekonomi, kesehatan, teknologi, dan kebijakan publik. Sinergi antarpemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, komunitas lokal, sektor swasta, hingga lembaga filantropi, untuk menciptakan sistem pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan global yang cepat. Penguatan edukasi dan kebijakan berbasis ilmu sosial dan kesehatan masyarakat akan memperkokoh fondasi ketahanan pangan dengan memastikan keadilan dan kesehatan sebagai nilai utama. Dengan komitmen bersama dan inovasi berkelanjutan, ketahanan pangan di NTB dapat terwujud.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang, dan sebagai Dosen Prodi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram





COPYRIGHT © ANTARA 2026