Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan fenomena cuaca ekstrem yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan imbas dari keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di barat daya Teluk Carpentaria, Australia.
"Sistem tersebut mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB Satria Topan Primadi di Mataram, Rabu.
Satria mengatakan Bibit Siklon Tropis 97S memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 25 knot dengan tekanan udara minimum 998 hectopascal dan bergerak ke arah barat.
Menurutnya, sistem bibit badai tropis tersebut berdampak tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Nusa Tenggara Barat.
"Gangguan atmosfer lain seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan gelombang Kelvin juga terpantau aktif di NTB," papar Satria.
Baca juga: Waspada!! potensi hujan lebat di lereng Rinjani hingga Tambora
Lebih lanjut ia menambahkan saat ini ada potensi terbentuknya daerah tekanan rendah di perairan selatan NTB yang dapat menyebabkan pertemuan dan perlambatan kecepatan angin.
Keberadaan tekanan rendah menyebabkan kelembapan udara cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian serta meningkatkan labilitas atmosfer yang mendukung proses konvektif skala lokal.
"Kondisi itu berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang," ujar Satria.
Baca juga: Waspada!! Peningkatkan cuaca ekstrem di NTB akibat gangguan atmosfer
Berdasarkan analisa BMKG, kemunculan Bibit Siklon Tropis 97S juga menimbulkan dampak tidak langsung berupa peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB yang mempengaruhi tinggi gelombang laut.
Pada 21 Januari 2025, BMKG menyampaikan kecepatan maksimum angin permukaan yang berhembus di wilayah NTB mencapai 55 kilometer per jam.
Angin kencang tersebut menyebabkan perairan Samudera Hindia sebelah selatan Nusa Tenggara Barat menjadi zona merah pelayaran akibat gelombang laut setinggi empat sampai enam meter.
"Kami mengimbau seluruh pihak terkait dan masyarakat untuk senantiasa memantau perkembangan cuaca, peringatan dini, serta potensi risiko bencana melalui kanal resmi BMKG," pungkas Satria.
Baca juga: Kajian teknis penetapan tanggap darurat bencana di NTB disusun
Baca juga: Waspasda! Banjir rob berpotensi terjadi selama dua pekan di NTB