Dompu (ANTARA) - Balai Taman Nasional Tambora (Balai TN Tambora), Nusa Tenggara Barat, mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan melalui penyediaan 10.000 bibit kemiri sebagai bagian dari program pemulihan ekosistem di kawasan tersebut.

Kepala Balai TN Tambora, Abdul Azis Bakry kepada ANTARA, Selasa, mengatakan langkah tersebut dilakukan melalui penguatan koordinasi dengan BPDAS Dodokan Moyosari dalam penyediaan bibit tanaman kehutanan produktif yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

"Awal Maret lalu, jajaran kami melaksanakan kunjungan kerja ke Pusat Persemaian Mandalika untuk memastikan kesiapan dukungan bibit dalam mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di wilayah Nusa Tenggara Barat," ujarnya.

Dalam kunjungan itu, lanjut Abdul Azis, rombongan meninjau sarana dan prasarana persemaian, meliputi area pembibitan, rumah naungan (greenhouse), sistem irigasi, serta fasilitas pemeliharaan bibit.

"Tim juga mempelajari tahapan pembibitan mulai dari penyemaian benih, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, hingga penyiapan bibit siap tanam," katanya.

Baca juga: BTNT: Peneliti asing ilegal di Tambora publikasikan hasil riset secara bebas

Melalui koordinasi tersebut, Balai TN Tambora memperoleh dukungan sebanyak 10.000 bibit kemiri (Aleurites moluccanus) yang akan dimanfaatkan untuk rehabilitasi kawasan, khususnya pada area yang mengalami penurunan tutupan vegetasi akibat gangguan alam maupun aktivitas manusia.

Azis mengatakan, dukungan bibit kemiri tersebut menjadi langkah konkret dalam mempercepat pemulihan ekosistem sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.

"Selain berfungsi secara ekologis dalam memulihkan tutupan vegetasi dan kesuburan tanah, kemiri juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sistem agroforestry," ujarnya.

Baca juga: BTNT tutup jalur ilegal di Tambora karena kerap digunakan peneliti asing

Ia menambahkan, penanaman bibit kemiri direncanakan dilakukan pada April 2026 di zona khusus kawasan dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari program pemberdayaan dan perhutanan sosial.

Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan konservasi.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan fungsi ekologis kawasan Taman Nasional Tambora, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan.

Baca juga: Jalur pendakian ilegal ke Gunung Tambora ditutup



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026