Mataram (ANTARA) - Balai Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) memperketat pengawasan lalu lintas komoditas jagung jelang panen raya untuk memastikan distribusi jagung terbebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina atau OPTK.
Kepala Karantina NTB Ina Soelistyani mengatakan pengawasan lalu lintas jagung dilakukan di Pelabuhan Bima yang menjadi salah satu pintu keluar-masuk komoditas jagung di wilayah Nusa Tenggara Barat.
"Langkah ini menjadi strategi proaktif untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan memastikan setiap bulir jagung yang keluar dari wilayah NTB bebas dari OPTK," ujarnya di Mataram, Kamis.
Karantina NTB melakukan pemantauan secara intensif dan mengambil sampel langsung terhadap jagung yang hendak keluar dari wilayah NTB.
Aktivitas pengawasan berfokus untuk mendeteksi keberadaan hama pasca panen berbahaya, seperti Sitophilus granarius dan Lophocateres pusillus. Kedua hama itu mengancam lumbung pangan karena mampu merusak bagian endosperma biji jagung dan memicu kehilangan hasil hingga 20 persen dalam waktu singkat.
Tanpa pengawasan ketat, maka kerugian dapat melonjak hingga 60 persen yang berisiko mengganggu stabilitas stok pangan daerah maupun nasional.
Karantina NTB berkomitmen memastikan kelancaran distribusi sekaligus membentengi wilayah Indonesia dari ancaman hama yang dapat melumpuhkan sektor pertanian nasional.
"Dengan demikian, program strategis pemerintah yang fokus pada ketahanan pangan nasional dapat berjalan dengan baik," kata Ina.
Sepanjang Januari sampai 15 April 2026, Karantina NTB mencatat ada 112.987 ton jagung yang keluar dari Pelabuhan Bima menuju ke berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Bali, Nusa Tenggara Timur, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi Selatan.
Penanggung Jawab Satuan Pelayanan Pelabuhan Bima Abdul Salam menegaskan bahwa peran pelabuhan sangat strategis dalam rantai distribusi hasil pertanian terkhusus jagung sebagai komoditas unggulan Nusa Tenggara Barat.
"Kami mengawal ketat setiap pergerakan jagung. Peningkatan produksi harus selaras dengan upaya menjaga standar keamanan hayati yang tinggi, sehingga komoditas yang didistribusikan tetap berkualitas dan aman dikonsumsi," pungkas Abdul Salam.
Pada 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut luas panen jagung di Nusa Tenggara Barat mencapai 173,09 ribu hektare yang berkontribusi terhadap produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sebanyak 1,18 juta ton.
BPS memproyeksikan potensi luas panen jagung periode Januari sampai Maret 2026 mencapai 80,93 ribu hektare dengan potensi produksi sebanyak 560 ribu ton.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026