Dompu (ANTARA) - Anggota DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Akhdiansyah, mengapresiasi keberadaan layanan rintisan Kurir Dompu yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi mikro serta menyerap puluhan tenaga kerja di Kabupaten Dompu.

"Alhamdulillah, saya didampingi Yayasan Guru Toi Center (GTC) bisa bersilaturahmi langsung dengan pemilik dan para pekerja Kurir Dompu, pada Jumat (20/2). Ini satu kebanggaan bagi saya bisa melihat langsung bisnis rintisan yang mengandalkan media sosial dan jaringan kurir sebagai jantung usaha layanan publik berbasis small business," kata Akhdiansyah kepada ANTARA, Senin.

Ia menilai, model usaha berbasis kurir dan transportasi lokal tersebut telah berkontribusi nyata dalam menopang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus membantu pemerintah daerah Kabupaten Dompu dalam menekan angka pengangguran.

Akhdiansyah, yang telah dua periode menjadi anggota DPRD NTB, menyebutkan saat ini Kurir Dompu mampu menghimpun sekitar 80 tenaga kerja pada periode low season, terdiri atas 71 kurir dan sembilan tenaga administrasi. Jumlah tersebut dapat meningkat hingga lebih dari 100 orang pada musim ramai.

"Kelompok ini penting untuk kita lindungi dan dukung. Selain memudahkan layanan kurir dan transportasi masyarakat, mereka juga menyuplai denyut ekonomi mikro di Dompu," ujarnya.

Baca juga: Disnakertrans NTB dorong perekrutan pekerja lokal tambang Hu'u Dompu

Politisi yang akrab disapa Guru Toi itu, juga mengapresiasi keberanian pemilik usaha yang tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif dan keterbatasan dukungan dari pemerintah daerah.

Ia mendorong pemerintah agar memberikan perlindungan dan dukungan konkret bagi pekerja sektor informal, antara lain melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, akses permodalan, penyediaan peralatan yang memadai, serta pelatihan pengembangan diri seperti kewirausahaan dan keselamatan berkendara (safety riding).

Akhdiansyah menegaskan, bahwa keberlanjutan usaha rintisan lokal seperti Kurir Dompu perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar mampu bertahan di tengah persaingan dan dinamika ekonomi, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kerakyatan di NTB.

Sementara itu, pemilik Kurir Dompu, Amrin dan Bq Imelda Eviolina, menuturkan usaha tersebut dirintis sejak 2019 saat keduanya berprofesi sebagai tukang ojek.

"Kami memulai usaha ini dalam kondisi terlilit utang lebih dari Rp300 juta akibat bisnis sebelumnya. Saat itu kami mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan, mulai dari ojek, berjualan ayam, hingga jasa kebersihan,” kata Amrin.

Baca juga: Dinas Koperasi Dompu dorong KDMP kembangkan potensi tebu di Pekat

Ia menjelaskan, layanan kurir bermula dari jasa titipan barang melalui Facebook Messenger dengan keterbatasan satu sepeda motor dan satu telepon genggam yang digunakan secara bergantian. Seiring waktu, usaha tersebut berkembang setelah memperoleh bantuan telepon seluler dari relasi yang kemudian dimanfaatkan untuk layanan SMS dan WhatsApp.

"Awalnya hanya dua orang, lalu bertambah menjadi tujuh orang, hingga kini puluhan kurir. Alhamdulillah, ada yang bergabung dari nol hingga mampu menyelesaikan pendidikan sampai sarjana," ujar pasutri yang merupakan jebolan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT).

Saat ini, manajemen usaha telah dibenahi secara lebih profesional. Kurir senior ditunjuk sebagai pengawas, serta dibentuk tim audit internal yang mencatat pemasukan dan pengeluaran harian hingga penutupan buku setiap malam.

Baca juga: BPS catat UMKM di Kabupaten Dompu tumbuh pesat sepanjang 2025

Amrin menambahkan, legalitas usaha telah berbadan hukum dan memiliki omzet tetap bulanan. Secara bertahap, beban utang yang sebelumnya membelit juga telah dilunasi.

Dalam operasionalnya, kurir bekerja secara bergiliran mulai pukul 06.30 Wita hingga malam hari, sesuai dengan volume pesanan. Rata-rata minimal 10 kurir aktif setiap hari dan dapat mencapai 40 kurir saat pesanan meningkat. Selain pengantaran barang, layanan juga mencakup jasa antar penumpang hingga ke wilayah Bima dan Sumbawa.

Meski demikian, pihak pengelola mengaku masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama minimnya dukungan pemerintah dalam hal akses permodalan, perizinan, perlindungan kerja, serta penguatan manajemen dan pemanfaatan teknologi.

"Kami bertahan dengan modal kepercayaan, kecepatan layanan, dan jejaring relasi. Jika harus bersaing dengan brand besar, kami siap bersaing secara sehat dengan kemampuan yang kami miliki," kata Imelda.

Mereka berharap, adanya kepedulian yang berkelanjutan dari pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif, dalam bentuk perlindungan, pelatihan, pendampingan usaha, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia serta permodalan.

Baca juga: Bupati Jaelani: Dompu expo 2024 sarana promosi produk UMKM



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026