Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memastikan aktivitas pendidikan tinggi di wilayah terdampak bencana Sumatera kembali normal, setelah dilanda bencana yang terjadi pada akhir 2025 lalu.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani melalui keterangan di Jakarta, Rabu, menyebut secara umum aktivitas pendidikan tinggi di wilayah terdampak banjir bisa berjalan normal karena sebagian besar kampus tidak berada di kawasan terdampak langsung.
Ia juga memastikan pihaknya tetap memberikan perhatian serius terhadap mahasiswa dan keluarga yang terdampak, khususnya dalam aspek pembiayaan dan keberlanjutan studi.
"Kami memastikan perguruan tinggi tidak hanya hadir pada tahap tanggap darurat, tetapi juga dalam fase pemulihan dan pencegahan," kata Najib.
Baca juga: Kemendiktisaintek mengkampanyekan program Mahasiswa Berdampak di Undiksha
Dirjen Saintek mengatakan pihaknya telah mengoordinasikan puluhan perguruan tinggi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, untuk terlibat dalam penanganan darurat, pembukaan posko layanan, hingga penguatan program riset kebencanaan sebagai bagian dari upaya pemulihan dan mitigasi jangka panjang.
Hingga akhir Desember, lanjut dia, Kemdiktisaintek mendirikan 28 kampus posko di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yang dikoordinasikan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) XII (Aceh), LLDikti I (Sumatera Utara), dan LLDikti X (Sumatera Barat dan Jambi).
Adapun jumlah perguruan tinggi yang mendukung kegiatan ini adalah 61 perguruan tinggi dan terdapat 68 pusat layanan di lapangan, termasuk yang terkait layanan psikososial dan pendidikan darurat. Kemdiktisaintek juga telah mengirimkan 2.260 dokter, 1.267 tenaga kesehatan, dan 219 relawan.
Baca juga: Mendiktisaintek menekankan kolaborasi antar-perguruan tinggi
"Dukungan pembiayaan bagi mahasiswa terdampak serta penguatan riset mitigasi bencana menjadi langkah berkelanjutan agar sistem pendidikan tinggi semakin tangguh menghadapi situasi serupa di masa mendatang," ujar Ahmad Najib Burhani.
Senada dengan Najib, Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menegaskan banjir yang terjadi di Sumatera Utara telah menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat dan mengganggu keberlangsungan layanan publik strategis lintas sektor.
"Dampak banjir ini tidak hanya dirasakan pada sektor pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, tetapi juga pada layanan perpustakaan, pemajuan dan pelestarian kebudayaan, pembinaan pemuda dan olahraga, serta kualitas data statistik kebencanaan. Karena itu, kami ingin memastikan koordinasi pusat dan daerah berjalan efektif serta masukan dari daerah dapat menjadi dasar penguatan kebijakan nasional," ucap Sofyan Tan.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026