Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut komoditas tembaga mendominasi kinerja ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Januari 2026 dengan kontribusi lebih dari dua pertiga dari total nilai ekspor.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan aktivitas industri smelter yang mulai aktif telah berkontribusi besar terhadap penjualan tembaga ke luar negeri.

"Nilai ekspor NTB secara tahunan pada Januari 2026 meningkat sebesar 1.868,45 persen dibandingkan Januari 2025," ujarnya di Mataram, Senin.

Wahyudin memaparkan nilai ekspor sepanjang Januari 2026 tercatat sebesar 76,64 juta dolar AS. Nominal itu jauh lebih tinggi ketimbang capaian Januari 2025 yang hanya sebanyak 3,89 juta dolar AS.

Baca juga: Konsentrat tambang dongkrak nilai ekspor NTB

Dari total nilai ekspor tersebut, komoditas tembaga menjadi penopang utama dengan nilai 50,83 juta dolar AS atau setara 66,33 persen dari keseluruhan ekspor. Dominasi tembaga dalam struktur ekspor menandakan peran sektor pertambangan masih kuat dalam sistem perekonomian daerah di Nusa Tenggara Barat.

"Peningkatan itu didorong oleh kenaikan ekspor komoditas non penambangan (langsung), terutama tembaga yang merupakan hasil industri smelter," kata Wahyudin.

Baca juga: DPMPTSP NTB bantu percepatan izin tambang di Dompu

Selain tembaga, ekspor NTB juga ditopang oleh barang galian senilai 18,85 juta dolar AS (24,60 persen); ikan dan udang 5,97 juta dolar AS (7,79 persen); daging dan ikan olahan 542,30 ribu dolar AS (0,71 persen); serta komoditas garam, belerang, dan kapur sebesar 154,09 ribu dolar AS (0,20 persen).

Negara tujuan ekspor NTB paling banyak adalah Thailand dengan pangsa 59,59 persen, lalu diikuti Tiongkok sebesar 31,72 persen dan Amerika Serikat 8,45 persen. Sementara itu, ekspor ke Jepang dan India masing-masing tercatat di bawah satu persen dengan sisanya menuju negara lain.

Baca juga: Ekspor NTB mencapai 54,32 juta dolar AS pada Mei 2025
Baca juga: Ekspor komoditas tembaga di NTB alami tren kenaikan


Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026