Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan peningkatan penyajian informasi dan tata ruang pamer Gedung Juang 45 Medan dapat dilakukan kembali untuk menarik generasi muda untuk datang.

“Ke depan kita tingkatkan lagi, terutama dari sisi lighting, tata pamer, dan pemanfaatan teknologi digital agar pengalaman pengunjung semakin imersif,” ujar Fadli saat dikonfirmasi dari Jakarta, Senin.

Saat melakukan kunjungan kerja, Fadli juga menyoroti pentingnya koleksi numismatik yang dipamerkan di museum sebagai penanda sejarah perjalanan sebuah bangsa.

Menurutnya, uang dan prangko merupakan simbol penting identitas negara, terutama pada masa awal kemerdekaan.

Keberadaan koleksi tersebut tidak hanya menunjukkan dinamika ekonomi masa lalu, tetapi juga menggambarkan proses perjumpaan budaya yang melibatkan berbagai komunitas, termasuk pekerja perkebunan yang didatangkan dari Jawa.

Baca juga: Jakarta sediakan anggaran Rp15 M untuk revitalisasi Museum MH Thamrin

Melanjutkan agenda kerja, Menteri Kebudayaan meninjau Museum Perkebunan Indonesia serta mengapresiasi museum yang menyajikan narasi terkait kekayaan komoditas perkebunan Indonesia, khususnya yang berada di Sumatra bagian Utara.

Museum ini secara spesifik mengangkat sejarah perkebunan dan pengetahuan tentang tanaman dan produk perkebunan.

Menbud menambahkan bahwa jejak sejarah tersebut juga menunjukkan bagaimana kekayaan alam Nusantara pernah menjadi penopang kemakmuran negeri penjajah pada masa itu, melalui penyajian koleksi dan narasi sejarah, museum dapat menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran bagi publik.

Baca juga: Museum NTB jembatani dialog kolektor Australia dan Fadli Zon

“Di sini kita bisa melihat bagaimana sejarah perkebunan tumbuh sejak masa liberalisasi ekonomi pada tahun 1870. Berbagai komoditas seperti tebu, tembakau, dan tanaman perkebunan lainnya menjadi produk unggulan yang diekspor ke berbagai wilayah dunia, terutama ke Eropa,” jelasnya.

Kunjungan Menteri Kebudayaan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk terus memperkuat museum sebagai ruang kebudayaan yang hidup, inklusif, dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi masyarakat luas.

Melalui penguatan tata pamer, pemanfaatan teknologi, serta pengayaan narasi sejarah, Kementerian Kebudayaan mendorong museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga ruang publik yang aktif membangun kesadaran sejarah dan kebudayaan bangsa.

 

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026