Tokyo (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, Minggu (22/3), mengisyaratkan kemungkinan pengiriman Pasukan Bela Diri (SDF) Jepang untuk operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz, dengan syarat gencatan senjata terwujud dalam perang antara AS-Israel melawan Iran.
"Teknologi penyapuan ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia," kata Motegi dalam sebuah program televisi.
"Katakanlah (pihak-pihak telah mencapai) gencatan senjata, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya," tambahnya, merujuk pada potensi pengiriman SDF.
Motegi, yang hadir selama pembicaraan puncak Jepang-AS di Washington Kamis lalu, mengingat bagaimana Presiden AS Donald Trump mengangguk ketika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menjelaskan batasan hukum Jepang dalam mengirimkan kapal dari angkatan pertahanannya.
Baca juga: Iran ancam pasang ranjau laut, Selat Hormuz terancam ditutup
Menlu Jepang itu mengatakan bahwa "tidak ada janji khusus" yang dibuat atau masalah apa pun yang harus dibawa Jepang kembali ke dalam negeri untuk dipertimbangkan.
Konflik tersebut telah meningkat menjadi konflik dengan implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas di Timur Tengah dan pasokan energi global sejak pasukan AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari.
Jepang bergantung pada kawasan tersebut untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, yang sebagian besar biasanya melewati selat tersebut.
Motegi secara terpisah mengatakan bahwa salah satu dari dua warga negara Jepang yang ditahan di Iran telah dibebaskan. Orang tersebut dibebaskan Rabu lalu dan naik pesawat dari Azerbaijan menuju Jepang, menurut menteri luar negeri.
Baca juga: PM Jepang janji tempuh semua upaya diplomatik di Selat Hormuz
Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan bahwa individu tersebut, yang telah ditahan sejak Juni, tiba d Jepang pada Minggu dan tidak memiliki masalah kesehatan.
"Kami sedang berupaya untuk segera membebaskan individu lainnya," kata Motegi.
Sebuah organisasi nirlaba mengatakan bahwa warga negara Jepang lainnya adalah kepala biro Teheran dari lembaga penyiaran publik NHK, yang ditahan pada 20 Januari oleh otoritas setempat.
Pemerintah Jepang mengumumkan awal bulan ini bahwa dua warga negara Jepang ditahan, dan bahwa mereka telah meminta pembebasan mereka lebih awal.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Hanya operasi militer di Pulau Kharg dapat menaklukkkan Iran
Baca juga: Irak tolak ikut operasi Hormuz, peringatkan risiko Iran
Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026