Jakarta (ANTARA) - Di penghujung Februari 2026, perhatian dunia tertuju pada Iran —bangsa bersejarah panjang seluas sekitar 1,65 juta kilometer persegi di Timur Tengah—, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah lokasi, termasuk Teheran. Teluk Persia pun kembali menjadi saksi pertumpahan darah.

Memasuki pekan keempat, perang masih jauh dari titik terang. Kedua kubu saling mengklaim keberhasilan strategis sembari membantah narasi lawan. Selama sebulan terakhir —dan tampaknya masih akan berlanjut— layar kaca serta jagat maya dipenuhi simbol putih-biru bertatahkan bintang Daud, representasi Israel.

Namun, konflik ini tak dapat dipahami hanya dalam hitungan bulan. Sejak Oktober 2023, ketika serangan Israel ke Gaza dimulai, bendera Israel telah mendominasi ruang publik fisik maupun digital, berhadapan dengan panji pan-Arab Palestina berwarna merah, hitam, putih, dan hijau. Kedua simbol itu perlahan membelah dunia, bukan hanya di medan tempur, tetapi juga dalam ruang percakapan global.

Setelah hampir tiga tahun dunia disibukkan oleh dua panji yang saling bertolak belakang itu, Iran kini hadir sebagai wajah baru dengan triwarna hijau, putih, dan merah yang memenuhi jalanan, gedung, ruang redaksi, hingga media sosial.

Tanpa mengerdilkan bendera Amerika Serikat yang telah lama menjadi bagian budaya pop global, menjamurnya simbol Israel, Palestina, dan Iran menegaskan satu hal, bahwa kekuatan simbol tetap menjadi bahasa politik paling tua sekaligus paling bertahan dalam peradaban manusia.

Karena itu, alih-alih menelaah Iran melalui lensa strategi, ekonomi, atau geografi, tulisan ini memilih jalur lain, yakni mengenal negara yang tengah berperang melalui panji yang mewakilinya selama hampir setengah abad, beserta simbol kuno nan kontroversial yang kembali menemukan momentumnya.

Merah, Islam, dan tulip

Bendera merupakan instrumen identitas paling sederhana sekaligus paling efektif. Ia tidak sekadar menandai sebuah bangsa, tetapi juga menggaungkan ideologi, falsafah, harapan, bahkan ambisi kolektif yang diwakilinya. Hampir seluruh negara mengandalkan simbolisme ini, termasuk mereka yang pengakuan internasionalnya terbatas, bahkan nihil.

Republik Islam Iran kini memasuki dasawarsa kelima di bawah bendera triwarna horizontal hijau, putih, dan merah, panji yang diakui luas oleh komunitas internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Seperti banyak bangsa lain, setiap warna memuat makna simbolik. Mengacu pada A Flag Worth Dying For karya Tim Marshall, hijau melambangkan Islam sekaligus kebahagiaan, vitalitas, dan tradisi budaya Iran, serta kerap dikaitkan dengan warisan Syiah Dinasti Fatimiyah; putih merepresentasikan kebebasan dan kemerdekaan; merah melambangkan kesyahidan, keberanian, api, dan cinta yang abadi.

Pasal 18 Konstitusi Republik Islam Iran menyebutkan bahwa triwarna tersebut dilengkapi lambang negara dan motto resmi. Desainnya merupakan karya Hamid Nadimi, profesor arsitektur Universitas Shahid Beheshti di Teheran.

Sekilas, lambang merah di pusat bendera menyerupai stilisasi lafaz Allah, sebuah kesan yang wajar mengingat karakter teokratis negara tersebut. Namun, simbol yang dikenal sebagai Nishan Rasmi ini menyimpan makna berlapis. Ia tersusun dari empat bulan sabit yang mengapit bentuk pedang bermahkota tasydid, melambangkan Lima Rukun Islam sekaligus membentuk lafaz Allah yang menyerupai laleh, bunga tulip Persia yang jadi simbol musim semi dan perayaan Nowruz.

Dalam artikel akademik Blood of Tulips karya Salar Mameni, tulip merah dipahami sebagai simbol darah para martir, sebagaimana tergambar dalam syair patriotik karya Abol-Qasim ‘Arif Qazvini pada era Revolusi Konstitusional awal abad ke-20. Sebuah perangko tahun 1979 --tahun runtuhnya Dinasti Pahlavi-- bahkan menampilkan martir yang darahnya digambarkan menumbuhkan tulip merah, sebelum bendera Republik Islam diresmikan setahun kemudian oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Simbolisme tulip sendiri jauh lebih tua. Tradisi Syiah mengisahkan syahidnya Hussein di Karbala pada 680 Masehi, dari darahnya konon tumbuh tulip merah. Legenda serupa muncul dalam epos romantis Nizami Ganjavi tentang Farhad dan Shirin, ketika bunga laleh tumbuh dari darah sang pecinta tragis.

Dengan demikian, Nishan Rasmi bukan sekadar lambang negara, melainkan pertemuan antara religiusitas, patriotisme, dan narasi pengorbanan dalam imajinasi kolektif Iran.

Elemen khas lain adalah kaligrafi takbir Allahu akbar yang diulang 22 kali pada batas bidang warna, merujuk pada 22 Bahman 1979 —tanggal berakhirnya monarki dan lahirnya Republik Islam. Detail ini menjadikan bendera Iran unik sebagai satu-satunya panji nasional yang mengisi garis pemisah warna dengan kaligrafi kompleks.

Tak heran, panji Iran tampak mencolok dibanding bendera triwarna negara lain seperti Suriname, Kenya, Eswatini, Gambia, Botswana, Uzbekistan, dan Korea Utara.

Kini, bendera Republik Islam Iran terus berkibar, baik di dalam negeri maupun di ruang global dan digital di tengah tekanan militer Israel dan Amerika Serikat. Jutaan warga turun ke jalan membawa panji tersebut sebagai simbol loyalitas politik, terutama setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang digantikan putranya, Mojtaba Khamenei.

Di dunia maya, pengguna internet lintas negara mengekspresikan sikap terhadap perang dengan menyisipkan emotikon bendera Iran bertatahkan tulip merah, sebagai pernyataan politik maupun solidaritas.

Kencana, surya, dan singa

Meski tampak baru dalam pemberitaan geopolitik, bendera Republik Islam Iran hanyalah satu bab dari sejarah panjang simbol Persia.

Sebagai peradaban yang dahulu dikenal sebagai Persia, Iran telah lama menjadi kekuatan regional dengan beragam panji sepanjang sejarah. Bahkan setelah Revolusi Islam, negara ini sempat menggunakan bendera triwarna dengan lambang cakram matahari karya Sadegh Tabrizi yang dihiasi delapan kepalan tangan dan 22 bintang, panji transisi yang hanya bertahan dari Januari hingga Mei 1980.

Simbol tersebut masih menunjukkan kesinambungan dengan bendera era Dinasti Pahlavi, yang menampilkan singa emas menggenggam pedang dengan matahari terbit di belakangnya. Ini ikon yang telah hadir sejak dinasti Safawi, Afshariyah, Zand, hingga Qajar.

Di era Republik Islam, lambang singa dan matahari diasosiasikan dengan kelompok nasionalis dan royalis, terutama pendukung Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran. Sejak awal 2026, simbol ini kembali digunakan dalam mobilisasi demonstrasi anti-pemerintah di Iran maupun di kalangan diaspora.

Panji Pahlavi bahkan sempat muncul dalam ruang digital ketika platform X mengganti emotikon bendera Iran dengan versi singa dan matahari, meski perangkat pengguna tetap menampilkan versi resmi Republik Islam.

Namun, terlepas dari upaya menghidupkan kembali simbol lama, bendera Iran berhias bulan sabit, pedang, tulip merah, dan kaligrafi takbir tampaknya akan terus berkibar, bahkan semakin dikenal secara global, selama Republik Islam tetap berdiri di tengah tekanan militer asing.

Fenomena berkibarnya panji-panji tersebut, menunjukkan bahwa konflik di Iran hari ini bukan semata-mata benturan senjata, tapi juga merupakan pertarungan simbol; sebuah gelanggang tempat panji, warna, dan makna saling berebut ruang pengaruh, dari geopolitik kawasan hingga imajinasi masyarakat dunia.


 





COPYRIGHT © ANTARA 2026