Jakarta (ANTARA) - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut 95 persen penyebab kebakaran di wilayah Jakarta berasal dari korsleting atau hubungan arus pendek listrik.

“Pemprov DKI prihatin dengan kejadian ini, dan sekali lagi yang bisa kita lakukan adalah me-warning kepada masyarakat, yang harus pertama kali dijaga adalah listrik. Karena di Jakarta ini hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kita hampir 95 persen,” ungkap Rano usai meninjau lokasi kebakaran di Kemayoran, Selasa.

Rano menyebut berdasarkan data sementara, kebakaran di lokasi itu berdampak pada 304 bangunan dan menyebabkan 354 kepala keluarga atau 679 jiwa terdampak.

Jumlah korban terdampak terdiri dari 326 laki-laki dan 353 perempuan. Di antara korban, terdapat 35 lansia, 90 balita, 53 anak usia sekolah dasar, enam anak usia SMP, 22 remaja usia SMK, serta 414 warga dewasa termasuk ibu hamil.

Untuk membantu para korban, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah fasilitas di lokasi pengungsian yang berada di Lapangan Yusuf Hamka.

Baca juga: Respons cepat damkar memadamkan kebakaran rumah panggung di Muara Karang

"Kita seperti teman-teman lihat, sudah menyiapkan posko di lapangan Yusuf Hamka ini, lengkap dengan pengungsi, ada posko kesehatan, ada dapur umum, kemudian ada posko dukungan psikologi untuk anak-anak," kata Rano.

Rano mengaku sebenarnya ingin meninjau lokasi kebakaran sejak Senin (1/6) malam. Namun, ia menunda kunjungannya atas saran Wali Kota Jakarta Pusat Arifin untuk menghindari kerumunan yang dapat mengganggu proses penanganan di lapangan.

Baca juga: Wagub NTB tinjau korban kebakaran di Desa Lido Bima

Lebih lanjut, Rano mengatakan Dinas Sosial DKI Jakarta juga telah menyalurkan berbagai bantuan logistik, mulai dari makanan, matras, hingga bantuan sandang dan pangan bagi warga terdampak.

Rano berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi dan meminta masyarakat lebih memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggalnya.

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026