Kampung wisata ala Jepang di Mataram diburu pengunjung

id wisata mataram,taman ala jepang,sosmed,spot foto

Kampung wisata ala Jepang di Mataram diburu pengunjung

Kampung wisata ala Jepang di Mataram, Nusa Tenggara Barat, setiap hari ramai dikunjugi kalangan milenial. (ANTARA/Nirkomala)

Mataram (ANTARA) - Kampung wisata ala Jepang yang berada di Lingkungan Kebon Talo, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi objek swafoto baru di daerah ini sehingga setiap harinya dibanjiri pengunjung yang rata-rata dari kalangan generasi milenial.

Pengelola taman ala Jepang yang juga warga Tinggar Ampenan, Ray Anugerah di Mataram, Minggu itu mengatakan, dalam sehari pengunjung taman ala Jepang yang diberi nama Taman Sosmed itu mencapai 150-200 orang.

"Pengunjung taman rata-rata dari kalangan milenial yang aktif bermain sosial media (sosmed), sehingga saat musim libur seperti sekarang ini jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 200 orang," katanya.

Ia mengatakan, konsep Taman Sosmed ini awalnya adalah taman bunga sebagai lokasi swafoto kekinian, namun karena bunganya masih kecil-kecil dan belum terlalu banyak, muncullah ide menyiasatinya yakni membuat spot foto yang unik.

Salah satu lokasi foto yang dianggapnya unik adalah membangun model rumah Jepang dari bahan triplek lengkap dengan ornamen lampion dan bunga sakura, meskipun bunga sakura itu hanya buatan dari bunga plastik.

Kendati demikian, keberadaan rumah Jepang, ornamen lampion dan bunga sakura tersebut spontan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, tidak hanya warga Kota Mataram melainkan juga warga luar kota.

"Keberadaan rumah Jepang inilah yang menjadi daya tarik tersendiri, sehingga sejak kami mulai beroperasional pada 1 Juni 2019, pengunjung tidak pernah sepi," katanya.

Ray merasa diuntungkan dengan datangnya pengunjung yang berswafoto di Taman Sosmed karena satu orang yang memposting foto tersebut, maka ratusan bahkan ribuan orang bisa melihat dan akhirnya ingin datang ke lokasinya.

Saat ditanya dari mana ide membangun rumah Jepang sebagai daya tarik utama, Ray mengaku sebenarnya tidak ada yang "spesial" atau kenangan khusus dengan Negara Jepang, akan tetapi ide itu spontan muncul begitu saja.

"Untuk ide taman ini saya banyak melihat di pulau Jawa, tapi untuk rumah Jepang spontan saja saya buat dan coba-coba, karena di kawasan Montong ala Korea sudah ada meskipun belum maksimal," katanya.

Dengan melihat tingginya animo masyarakat datang ke Taman Sosmed, ke depan Ray berencana akan menambah koleksi bunga-bunga untuk mengembalikan konsep awal sebagai taman bunga.

Sementara spot rumah Jepang akan terus diperbaharui sesuai dengan kondisi kekinian agar pengunjung tidak bosan. "Kalau tahun ini kita buat konsep Jepang, mungkin tahun depan ada konsep baru lagi," kata Ray yang enggan membocorkan konsepnya.

Menyinggung tentang modal yang dikeluarkannya, Ray yang juga bekerja pada salah satu "travel" di Mataram ini mengatakan, modal riil yang dikeluarkannya hanya untuk sewa lahan seluas 22 are lebih sebesar Rp40 juta selama lima tahun.

"Selebihnya, modal membuat berbagai fasilitas di Taman Sosmed saya dapat dari bantuan sanak sodara dan keluarga," katanya.

Karenanya dalam mengelola Taman Sosmed, Ray dibantu oleh keluarganya termasuk untuk membuka warung sebagai pelengkap taman untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang haus atau ingin sekedar menyantap makanan ringan.

Untuk dapat menikmati Taman Sosmed yang sebelumnya merupakan hamparan areal persawahan ini, pengunjung hanya membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang, sementara biaya parkir gratis.

Dengan biaya 5.000, pengunjung bisa berswafoto sepuasnya pada sejumlah spot yang disediakan, selain rumah Jepang, ada juga taman bunga, ayunan, taman kincir angin, ayunan, berugak mini (tempat peristrirahan khas suku Sasak) dan lainnya.

Bahkan pengunjung dapat memakai aksesori tambahan seperti bando dari bunga, topi, korsi yang unik-unik dan lainnya. Di Taman Sosmed bahkan ada fotografer handal lengkap dengan kamera dan tripod seperti layaknya foto di studio.

"Satu kali foto hanya seribu (Rp1.000), pengunjung sudah bisa mengambil foto melalui bluetooth dan pengunjung bisa memilih foto mana saja yang akan diambil," kata Enong salah seorang fotografer yang mangkal di Taman Sosmed.




 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar