Puluhan Petani HKm Santong Menunggu Diberangkatkan Haji
Selasa, 6 September 2016 23:10 WIB
Ketua Kelompok Petani HKm Santong H Artim, menunjukkan piala juara II pengelola HKm terbaik tingkat nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016. (ANTARA NTB/Awaludin) (1)
Lombok Utara (Antara NTB) - Sebanyak 25 petani pengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) Santong, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tengara Barat, masuk dalam daftar untuk diberangkatkan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.
"Ada 25 anggota saya yang sudah masuk dalam daftar tunggu calon jemaah haji," kata Ketua Kelompok Petani HKm Santong, H Artim, di Lombok Utara, Selasa.
Menurut dia, uang untuk membayar setoran awal biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) agar bisa mendapatkan kursi diperoleh sebagian besar dari hasil menjual berbagai komoditas hasil hutan buka kayu (HHBK) yang ditanam di dalam kawasan HKm.
Ada belasan jenis HHBK yang dihasilkan, seperti pakis, daun sirih, pisang, cengkih, kakao, kopi, madu, durian, kemiri dan jenis umbi-umbian.
Seluruh komoditas tersebut mampu memberikan pendapatan harian, bulanan dan tahunan.
Selain menanam jenis komoditas buah-buahan, umbi-umbian dan tanaman perkebunan, para petani juga menanam pepohonan, seperti sengon, rajumas, sentul, mahoni dan garu dengan tujuan untuk menjaga kelestarian hutan, sekaligus sebagai naungan.
Artim menyebutkan, sebanyak 25 anggotanya yang masuk daftar jemaah calon haji merupakan bagian dari 838 kepala keluarga yang diberikan Izin Usaha Pengelolaan HKm Santong seluas 753 hektare sejak 2011.
"Dari hasil HKm, anggota saya tidak saja bisa menunaikan ibadah haji, tapi bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana," ujarnya.
Menurut Artim, dengan diberikannya Izin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm (IUPHKM) oleh pemerintah sejak 2011, kehidupan warga di desanya menjadi lebih baik karena masing-masing kepala keluarga mendapatkan hak pengelolaan kawasan seluas dua hektare.
"Sebelum ada HKm, masyarakat di desa kami banyak yang berutang di rentenir, sekarang itu sudah tidak ada lagi. Bahkan, setiap rumah sudah punya sepeda motor," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan NTB Hj Husnanidiaty Nurdin, menilai pelaksanaan program HKm Santong sejauh ini dapat dikatakan berhasil, baik dari aspek konservasi maupun aspek ekonomi.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan seringnya HKm Santong menjadi lokasi studi banding dari berbagai pihak dan lembaga yang ingin mendapatkan pembelajaran tentang program HKm.
Berdasarkan hasil survei, kata dia, pendapatan masyarakat yang mengelola HKm Santong mencapai Rp300.000 per hari dari sebelumnya hanya Rp100.000 per hari.
"Dengan adanya tambahan pendapatan tersebut petani di Desa Santong mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, memperbaiki rumah, membeli sepeda motor bahkan menabung untuk biaya berhaji," katanya. (*)
"Ada 25 anggota saya yang sudah masuk dalam daftar tunggu calon jemaah haji," kata Ketua Kelompok Petani HKm Santong, H Artim, di Lombok Utara, Selasa.
Menurut dia, uang untuk membayar setoran awal biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) agar bisa mendapatkan kursi diperoleh sebagian besar dari hasil menjual berbagai komoditas hasil hutan buka kayu (HHBK) yang ditanam di dalam kawasan HKm.
Ada belasan jenis HHBK yang dihasilkan, seperti pakis, daun sirih, pisang, cengkih, kakao, kopi, madu, durian, kemiri dan jenis umbi-umbian.
Seluruh komoditas tersebut mampu memberikan pendapatan harian, bulanan dan tahunan.
Selain menanam jenis komoditas buah-buahan, umbi-umbian dan tanaman perkebunan, para petani juga menanam pepohonan, seperti sengon, rajumas, sentul, mahoni dan garu dengan tujuan untuk menjaga kelestarian hutan, sekaligus sebagai naungan.
Artim menyebutkan, sebanyak 25 anggotanya yang masuk daftar jemaah calon haji merupakan bagian dari 838 kepala keluarga yang diberikan Izin Usaha Pengelolaan HKm Santong seluas 753 hektare sejak 2011.
"Dari hasil HKm, anggota saya tidak saja bisa menunaikan ibadah haji, tapi bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana," ujarnya.
Menurut Artim, dengan diberikannya Izin Usaha Pemanfaatan Pengelolaan HKm (IUPHKM) oleh pemerintah sejak 2011, kehidupan warga di desanya menjadi lebih baik karena masing-masing kepala keluarga mendapatkan hak pengelolaan kawasan seluas dua hektare.
"Sebelum ada HKm, masyarakat di desa kami banyak yang berutang di rentenir, sekarang itu sudah tidak ada lagi. Bahkan, setiap rumah sudah punya sepeda motor," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan NTB Hj Husnanidiaty Nurdin, menilai pelaksanaan program HKm Santong sejauh ini dapat dikatakan berhasil, baik dari aspek konservasi maupun aspek ekonomi.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan seringnya HKm Santong menjadi lokasi studi banding dari berbagai pihak dan lembaga yang ingin mendapatkan pembelajaran tentang program HKm.
Berdasarkan hasil survei, kata dia, pendapatan masyarakat yang mengelola HKm Santong mencapai Rp300.000 per hari dari sebelumnya hanya Rp100.000 per hari.
"Dengan adanya tambahan pendapatan tersebut petani di Desa Santong mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, memperbaiki rumah, membeli sepeda motor bahkan menabung untuk biaya berhaji," katanya. (*)
Pewarta :
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Legislator terjaring operasi narkoba di Lombok Utara, Polisi amankan tujuh orang
11 February 2026 13:56 WIB
KPK periksa mantan pejabat NTB sidik korupsi shelter tsunami di KLU
05 September 2024 15:17 WIB, 2024
BPBD NTB tunggu putusan pengadilan soal pemanfaatan shelter tsunami di KLU
12 August 2024 15:32 WIB, 2024
KPK periksa PPK, Pokja dan Tim PPHP shelter tsunami KLU di kantor BPKP NTB
06 August 2024 12:25 WIB, 2024
Kasus pelecehan mahasiswi PKL di KLU dihentikan, Manajer hotel: Silakan kembali lapor
10 May 2024 15:59 WIB, 2024
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Wow kirab pemuda Nusantara di Lombok dimeriahkan tradisi "nyongkolan"
02 November 2018 4:47 WIB, 2018