Mataram (Antara NTB) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat memberikan pelatihan pemasaran produk melalui "electronic commerce" kepada 250 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi binaan.

"Pelatihan tersebut dalam rangka mendorong perluasan pasar produk UMKM dan peningkatan transaksi non-tunai dalam berbelanja di lingkup Pemprov NTB," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Prijono, pada acara pembukaan pelatihan, di Mataram, Senin.

Selain pelaku UMKM, pelatihan tersebut juga diikuti industri perbankan, instansi lingkup Pemprov NTB, Komunitas Tangan Di Atas (TDA), akademisi dan mahasiswa dari berbagai universitas dan sekolah tinggi di Mataram.

Kantor Perwakilan BI NTB menghadirkan Co-Founder sekaligus CFO Bukalapak M Fajrin Rasyid.

Prijono menyebutkan, jumlah pengguna internet di Indonesia, mencapai 132 juta pengguna atau lebih dari 51 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Sementara pengguna aktif telepon selular (ponsel) mencapai 92 juta orang dengan rata-rata setiap hari orang menggunakan ponsel selama 4 jam. Tingginya penggunaan ponsel serta akses internet tentunya merupakan peluang yang harus dimanfaatkan dalam rangka peningkatan skala ekonomi khususnya para pelaku UMKM.

Menurut dia, peluang tersebut juga didukung dengan kondisi saat ini, di mana hampir semua pelaku UMKM memiliki "smartphone" berbasis android. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan untuk berjualan secara "online" atau daring melalui berbagai "market place" yang telah tersedia.

Dengan penjualan secara online diharapkan produk umkm dari NTB dapat diakses oleh masyarakat tidak hanya sebatas NTB, tapi juga di seluruh Indonesia.

"Selain itu, penjualan online dapat mendorong penggunaan transaksi non-tunai dalam berbelanja, sehingga mendukung efisiensi dalam sistem pembayaran," ujarnya.

Sementara itu, CFO Bukalapak M Fajrin Rasyid, menyebutkan saat ini jumlah pelapak (orang berjualan) yang ada di Bukalapak, telah mencapai 1,2 juta UMKM dengan jumlah transaksi per bulan mencapai Rp1 triliun.

Ia mempredikasi dalam 10 tahun ke depan pertumbuhan pasar e-commerce akan tumbuh sangat pesat di Indonesia.

"Oleh sebab itu, saya mendorong para pelaku UMKM yang ada di Indonesia, harus memanfaatkan peluang yang ada untuk meningkatkan daya saing produk lokal," katanya.

Pada kesempatan itu, Fajrin memaparkan bagaimana cara UMKM dapat menjual berbagai produk di Bukalapak, termasuk menjadi "re-seller" produk dari UMKM lainnya.

Tidak terdapat biaya atau syarat-syarat khusus untuk memasarkan produk melalui e-commerce di Bukalapak, di mana UMKM cukup mengisi data-data tertentu yang dibutuhkan pada aplikasi yang telah disediakan.

E-commerce merupakan kumpulan teknologi, aplikasi, dan bisnis yang menghubungkan perusahaan atau perseorangan sebagai konsumen untuk melakukan transaksi elektronik, pertukaran barang, dan pertukaran informasi melalui internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. (*)