Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) melakukan pendataan dan kajian teknis sebagai dasar percepatan penetapan Surat Keputusan (SK) Tanggap Darurat bagi daerah terdampak bencana hidrometeorologi.   

"Penetapan status ini penting untuk memperkuat sinergi pendanaan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) terutama dalam menangani kerusakan jalan, jembatan, saluran, dan penguatan tebing sungai," kata Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik dalam keterangan di Mataram, Kamis.

Ahsanul mengatakan kabupaten/kota yang telah memiliki SK Siaga Bencana harus segera menaikkan status menjadi tanggap darurat saat bencana terjadi.

Sedangkan, daerah yang belum memiliki SK Siaga Bencana dapat langsung menetapkan SK Tanggap Darurat agar respon penanganan tidak tertunda.

Baca juga: Pemkab Bima tetapkan status darurat bencana selama 14 hari

Pemerintah NTB memastikan kesiapan anggaran Belanja Tidak Terduga untuk mendukung penanganan dampak bencana hidrometeorologi di seluruh wilayah, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa.

"BTT harus siap digunakan untuk mempercepat pemulihan dengan pola sinergi antara provinsi dan kabupaten/kota," ujar Ahsanul.

Lebih lanjut ia menyampaikan koordinasi lintas sektor dengan pemerintah kabupaten maupun kota terus ditingkatkan untuk memastikan respons darurat, penanganan infrastruktur rusak, serta perlindungan masyarakat terdampak dapat dilakukan secara optimal.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya tercatat ada 570 kepala keluarga atau 1.711 jiwa yang terdampak bencana banjir di Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Bencana banjir juga melanda Kabupaten Lombok Tengah dengan jumlah korban terdampak sebanyak 50 kepala keluarga di Desa Montong Ajang dan 250 kepala keluarga di Desa Selong Belanak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir terjadi selama beberapa hari ke depan di Nusa Tenggara Barat.

Fenomena cuaca buruk tersebut terjadi akibat dinamika atmosfer, di antaranya kemunculan pusat tekanan rendah di Samudera Hindia bagian selatan NTB, Monsun Asia yang menguat, dan pembentukan zona konvergensi.