Mataram (ANTARA) - Car free day (CFD) di Jalan Udayana telah berkembang menjadi salah satu ruang publik terpenting di Kota Mataram. Ia bukan sekadar agenda mingguan bebas kendaraan bermotor, melainkan ruang pertemuan sosial, aktivitas olahraga, sekaligus denyut ekonomi rakyat. Namun, popularitas yang terus meningkat membawa konsekuensi serius yang tidak lagi bisa diabaikan.
Kepadatan pengunjung, menjamurnya pedagang kaki lima, parkir liar, kemacetan di sekitar kawasan, hingga persoalan sampah menunjukkan bahwa Jalan Udayana berada di persimpangan antara fungsi ideal ruang publik dan risiko kekacauan tata kelola.
Pembentukan Satuan Tugas Penataan Udayana oleh Pemerintah Kota Mataram patut diapresiasi sebagai bentuk pengakuan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan berjalan alamiah. Ruang publik, dalam perspektif tata kota modern, membutuhkan pengelolaan aktif dan berkelanjutan.
Tanpa itu, ruang yang seharusnya inklusif justru berpotensi dikuasai oleh kepentingan tertentu, menggerus hak kelompok lain, terutama pejalan kaki dan warga yang datang untuk berolahraga atau rekreasi.
Data keberadaan ratusan pedagang setiap Minggu pagi mencerminkan besarnya manfaat ekonomi CFD Udayana. Aktivitas ini menjadi sumber penghasilan penting bagi pelaku usaha kecil dan mikro. Karena itu, penataan tidak boleh dimaknai sebagai upaya penggusuran.
Kebijakan zonasi pedagang dari blok A hingga blok F menunjukkan pendekatan yang relatif berkeadilan: ekonomi rakyat tetap berjalan, tetapi dalam koridor keteraturan. Penarikan retribusi kebersihan juga menandai upaya membangun tanggung jawab kolektif terhadap ruang bersama.
Meski demikian, penataan zonasi saja tidak cukup. Masalah Udayana bersifat sistemik. Penutupan jalan utama setiap Minggu pagi menuntut manajemen lalu lintas yang matang di kawasan penyangga. Tanpa kantong parkir resmi dan pengaturan arus kendaraan yang jelas, kemacetan hanya berpindah lokasi.
Di sisi lain, lonjakan volume sampah menjadi ancaman rutin bagi kualitas lingkungan. Inisiatif petugas kebersihan bersepeda dengan tong sampah patut didukung, tetapi tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku pengunjung dan pedagang.
Investasi pemerintah dalam memperindah Udayana melalui taman bunga dan ruang hijau harus dibarengi pengawasan ketat. Ruang hijau bukan sekadar pemanis visual, melainkan elemen penting keberlanjutan kota.
Kerusakan taman dan jogging track akibat aktivitas yang tidak sesuai peruntukan justru akan meniadakan manfaat jangka panjang yang ingin dicapai.
Pengalaman kota lain menunjukkan bahwa CFD dapat dikelola secara multifungsi dan tertib. Dengan visi yang jelas, ruang publik bisa menjadi tempat olahraga, ekonomi, edukasi, bahkan pelayanan publik. Kuncinya terletak pada konsistensi kebijakan dan disiplin bersama.
Dalam konteks Mataram, pembentukan Satgas Udayana harus dimaknai lebih dari sekadar alat penertiban. Edukasi publik, dialog dengan pedagang, dan kehadiran petugas yang humanis perlu menjadi roh utama.
Penataan Jalan Udayana pada akhirnya adalah soal bagaimana kota mengelola keramaian. Kota yang baik bukanlah kota tanpa aktivitas, melainkan kota yang mampu menata dinamika warganya secara adil dan bijaksana.
Jika dikelola dengan konsisten dan partisipatif, Udayana dapat menjadi cermin tata kelola ruang publik yang matang, yakni tertib tanpa mematikan ekonomi, ramai tanpa kehilangan kenyamanan, dan hidup tanpa mengorbankan keberlanjutan.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lakey Dompu dan gagalnya ruang aman bagi anak
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar arah keterbukaan informasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Alarm BPK dan ujian tata kelola NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tragedi Sekotong dan retaknya nurani keluarga
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tempah Dedoro dan ujian keseriusan Kota Mataram kelola sampah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Samalas: Sejarah Dunia yang dibiarkan terlantar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ruang digital NTB dan tantangan menjaga norma sosial
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB dan ujian ketangguhan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kebon Kongok, ujian keseriusan pengelolaan sampah NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika bukit dikeruk, banjir menagih Sekotong
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lobster NTB: Kaya benih, miskin nilai
Tajuk ANTARA NTB - Menata Udayana, Menata wajah kota
Minggu, 1 Februari 2026 10:37 WIB
Kegiatan "car free day" di sepanjang Jalan Udayana Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang dilaksanakan setiap hari Minggu mulai pukul 09.00 Wita sampai 09.00 Wita. (ANTARA/Nirkomala)
Pewarta : Abdul Hakim
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Tajuk
Lihat Juga
Tajuk ANTARA NTB - NTB di persimpangan event: antara ledakan agenda dan dampak nyata
01 April 2026 10:00 WIB
Tajuk ANTARA NTB - Mengayuh di tengah krisis: Uji nyali kebijakan sepeda birokrasi Mataram
28 March 2026 6:34 WIB