Mataram (ANTARA) - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Nusa Tenggara Barat mendorong petani lokal mengambil peran strategis dalam memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu offtaker utama sektor pertanian di daerah tersebut.
Ketua DPD HKTI Nusa Tenggara Barat (NTB), H Willgo Zainar, mengatakan penguatan rantai pasok dan jaminan kualitas produk menjadi kunci utama agar petani mampu berkontribusi secara berkelanjutan dalam program MBG.
Menurutnya, kebutuhan program MBG tidak hanya terbatas pada satu jenis komoditas, melainkan mencakup berbagai hasil pertanian seperti beras, sayuran, buah-buahan, daging, telur, hingga ikan. Oleh karena itu, diperlukan ekosistem pertanian yang terintegrasi agar suplai dapat terjaga secara konsisten.
"Rantai pasok harus terbentuk dalam satu ekosistem yang menjamin kepastian suplai, harga, dan mutu. Kebutuhan MBG bersifat rutin, minimal lima hingga enam hari dalam seminggu, sehingga pasokan harus stabil," katanya.
Ia menambahkan, tingginya kebutuhan pangan dalam program MBG berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan di NTB. Dengan pola kebutuhan harian dalam skala besar, nilai ekonomi yang dihasilkan diperkirakan dapat mencapai triliunan rupiah setiap tahun.
Potensi tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari pengadaan bahan pangan, distribusi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian dan turunannya. Hal ini dinilai menjadi peluang besar bagi petani lokal untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
HKTI NTB, lanjut Willgo, akan berperan sebagai lembaga advokasi yang memastikan petani mampu memenuhi standar yang ditetapkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas produk. Organisasi tersebut juga mendorong penguatan kapasitas petani melalui koordinasi dengan pengurus di tingkat kabupaten dan kota.
"Kami mendorong pengurus di daerah yang memiliki binaan petani untuk memastikan kebutuhan MBG dapat dipasok semaksimal mungkin dari produksi lokal," ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, khususnya melalui dinas pertanian dan tenaga penyuluh, dalam meningkatkan kualitas produksi petani. Dukungan tersebut dinilai krusial agar standar mutu yang ditetapkan dalam program MBG dapat terpenuhi secara menyeluruh.
Willgo juga menyoroti adanya investasi di sektor peternakan di NTB, terutama pada produksi daging ayam dan telur, sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian pangan daerah. Selama ini, sebagian kebutuhan komoditas tersebut masih dipasok dari luar daerah.
"Dengan adanya investasi ini, kami berharap NTB bisa mandiri, minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar," katanya.
HKTI NTB bersama para pemangku kepentingan berkomitmen mengawal rantai pasok agar kebutuhan program MBG dapat dipenuhi oleh produk lokal. Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas pasokan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.
Willgo menegaskan petani harus menjadi garda terdepan dalam memanfaatkan peluang dari program MBG. Ia menilai program tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat pasar lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat.
"Ini momentum yang sangat baik untuk meningkatkan peran dan kesejahteraan petani melalui penguatan pasar lokal," ucapnya.