Oleh Masnun
Puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (dpl) diyakini masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu jin bernama Dewi Anjani, putri raja Datu Tuan dari permaisurinya Dewi Mas, yang memerintah sebuah kerajaan kecil di Lombok.
{jpg*2}
Gunung Rinjani di pulau Lombok ini juga dijadikan sebagai titik orientasi spiritual bagi umat Hindu, sebagaimana tertulis dalam 'Purana Hyang Pasupati', gunungapi itu diyakini memliki hubungan erat dengan Gunung Semeru di Jawa dan Gunung Agung di Bali.
Menurut "Purana Bhuwana Kosa", ada tujuh gunung yang disebut sebagai "istana" Tuhan, yakni: Gunung Mahameru (India), Gunung Kailas (Tibet), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Agung (Bali), Gunung Rinjani (Lombok) dan Gunung Lampo Batang (Sulawesi).
Danau Segara Anak di Gunung Rinjani diyakini menyimpan berbagai misteri dan kekuatan, di gunung tersebut bermukim komunitas mahluk jin yang dimpimpin seorang ratu bernama Dewi Anjani.
Terlepas dari legenda itu, Gunung Rinjani yang memiliki potensi geowisata yang menarik, antara lain berupa panorama kaldera, danau, puncak, kawah, air terjun, mata air panas, goa, lubang letusan dan aliran lava baru, layak diusulkan sebagai "Geopark" (taman bumi) pertama di Indonesia.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB, Ir Heryadi Rachmat mengatakan, Gunung Rinjani layak untuk diusulkan menjadi Geopark, antara lain karena memiliki keunikan dari segi geologis dan pemandangan alam yang menakjubkan terutama dengan adanya kaldera Danau Segara Anak dan air terjun.
Selain memiliki berbagai keunikan, Gunung Rinjani juga kaya dengan berbagai jenis flora dan fauna, di sebelah selatan dan barat pada ketinggian 1.000 - 2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba.
Pada ketinggian 2.000-3.000 meter banyak tumbuh cemara gunung (Casuarina junghuhniana), namun pada ketinggian diatas 3.000 meter miskin akan tumbuhan, hanya ditumbuhi rumput dan bunga edelweiss (Anaphalis javanica ) dan di sebelah timur gunung banyak ditumbuhi pohon acasia.
Selain itu tercatat 109 jenis burung hidup di Gunung Rinjani, beberapa diantaranya adalah jenis burung yang ada di Australia, monyet perak yang berasal dari Bali, rusa dan landak.
Sementara di Pelawangan Sembalun, Lombok Timur terdapat monyet ekor panjang yang suka menggangu kemah para pendaki, mereka sangat pandai membuka tenda untuk mengambil makanan, selain itu monyet-monyet tersebut sangat garang dan berani.
Selama ini pengelolaan Gunung Rinjani termasuk di dalam Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dikelola oleh Rinjani Treck Manajemen Board (RTMB), yakni sebuah badan yang terdiri atas pemerintah swasta, masyarakat dan pelaku pariwisata.
Dibawah pengelolaan RTMB Gunung Rinjani beberapa kali mendapat penghargaan nasional maupun internasional, diantaranya Word Legacy Award tahun 2004 dan Finalis Tourism For Tomorrow Award (2005-2008).
Karena itu berbagai pihak terutama para pakar menilai bahwa Gunung Rinjani layak diususlkan menjadi Geopark pertama di Indonesia.
Jika usulan dikabulkan maka, Geopark Rinjani akan menambah geopark dunia saat ini yang berjumlah 53 tersebar di 17 negara di bawah jaringan UNESCO, dan kedua di Asia Tenggara setelah Pulau Langkawi di Malaysia.
Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 dpl memiliki sebuah kaldera berbentuk lonjong, dalamnya terdapat sebuah danau berbentuk bulan sabit dengan kedalaman sekitar 230 meter.
Ribuan tahun silam telah tumbuh Gunung Rinjani Tua dengan ketinggian mencapai 5.000 meter, namun akibat suatu letusan dahsyat sekitar 122 tahun silam, tepatnya tahun 1884 tubuh gunung itu runtuh mengakibatkan lebih dari separuh tubuhnya hilang dan sisanya berupa kaldera segara anak.
Gunung Rinjani yang secara adminisitrasi masuk tiga wilayah, yakni Lombok Barat, Lombok Timur dan Lombok Tengah ini merupakan gunungapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung setelah Gunung Kerinci di Sumatera dengan ketinggian 3.800 meter dpl.
Terkait dengan usulan Gunung Rinjani sebagai gunungapi pertama di dunia yang usulkan menjadi geopark, berbagai upaya telah dilakukan, antara penelitian yang dilakukan sejumlah pakar gunungapi dan ahli geologi.
Dua pakar gunungapi dan ahli geologi yang melakukan penelitian di Gunung Rinjani belum lama ini untuk mencari berbagai masukan terkait dengan usulan Gunung Rinjani menjadi geopark pertama di Indonesia adalah
Dr.Ir.B. Brahmantyo dan Ir Igan S.S.
Selain itu terkait usulan Gunung Rinjani menjadi geopark pertama pertama di Indonesia juga telah digelar diskusi nasioanl yang dihadiri sejumlah pakar di bidang kegunungapian dan ahli geologi.
Pertemuan tersebut menampilkan sejumlah ahli geologi, pakar kegunungapian dan geowisata sebagai narasumber, antara lain Dr. Ir. Yunus K yang mengupas makalah bertajuk M.Sc Geopark Gunung Rinjani dan Geowisata NTB Firmansyah Rahim, MM. Para pakar tersebut menyampaikan berbagai lontaran dan pujian mengenai keindahan dan kelebihan serta keunikan dari Gunung Rinjani dan mereka menyatakan mendukung usulan gunuapi ini menjadi geopark.
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan Ir. Darori MM mengatakan, Taman Nasional termasuk TNGR memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurangi laju kehilangan keanekaragaman hayati melalui proteksi dan pengelolaan kawasan serta riset.
"Terkait dengan rencana pembangunan Geopark Gunung Rinjani yang meruapkan situs pertamadi Indonesia yang akan diusulkan kepada Unesco kami secara prinsip mendukunnya," ujarnya.
Di bawah payung Unesco geopark menyediakan suatu flatform untuk kerjasama aktif antara ahli dan praktisi geologi, melalui pariwisata yang berkelanjutan, pengelolaan geopark akan dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal.
Dalam kerangka geopark kekayaan geologi dan pengetahuan mengenai geologi dibagikan kepada masyarakat umum yang juga dikaitkan dengan aspek yang lebih luas mengenai lingkungan alam maupun budaya.
Hal tersebut sangat relevan dengan pengelolaan taman nasional yang juga menjadi salah satu obyek ekowisata, dalam kaitan itu geopark Taman Nasional dan masyarakat sekitar merupakan satu kesatuan yang harus dikelola bersama-sama untuk kepentingan ekonomi dan budaya lokal
"Karena Taman Nasional Gunung Rinjani saat ini sudah dikelola dengan baik dan didanai melalui anggaran pemerintah pusat, maka saya mengusulkan pengelolaan Geopark jika sudah mendapat persetujuan dari Unesco, maka merupakan bagian tidak terpisahkan dari pengelolaan tamana nasional," ujarnya.
Kaldera langka
Sementara itu Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. DR. Emmy Suparka Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter dpl merupakan gunungapi yang memiliki panorama indah dan danau kaldera langka.
Bahkan keindahan dan keterkenalan Danau Segaraanak yang merupakan kaldera Gunung Rinjani sudah menyebar hingga mancanegara, Banyak wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara yang rela bersusah payah memeras tenaga mendaki gunung tersebut hanya semata-mata ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan serta keajaiban danau kaldera Segaraanak.
"Nampaknya fakta ini menyadarkan berbagai pihak untuk tidak tinggal diam, kemudian muncul kesadaran untuk mengelola kegiatan pendakian Gunung Rinjani yang merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Jami Sumatera Barat setinggi 3.805 meter dpl," ujarnya.
Ini, terbukti dengan adanya berbagai organsisasi pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), seperti Pemprop NTB, Dinas Pertambangan dan Energi serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang bersinergi dibawah satu forum yang dikenal dengan nama Badan Pembina Trekking Rinjani (BPTR).
Hasilnya cukup menggembirakan Gunung Rinjani mendapat dua penghargaan tingkat dunia, yakni Word Legacy Award dari Conservation International dan National Geographic Traveler 2004 untuk kategori Destination Stewardship dan Tourism for Tomorrow Award dari Word Travel and Tourism Council tahun 2007.
Prestasi yang telah diraih BPTR yang melibatkan masyarakat lokal dan kepentingan yang lebih besar dalam hal konservasi lingkungan gunungapi serta potensi limu pengetahuan geologi/volkanologi yang dimiliki Gunung Rinjani.
Ini membawa Gunung Rinjani sebagai kandidat Geopark untuk diusulkan ke Badan PBB yang membawahi bidang pendidikan, kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan (Unesco).
Kalau ini berhasil, kata Emmy, maka Gunung Rinjani merupakan geopark pertama di Indonesia dan yang kedua di Asia Tenggara setelah Pulau Langkawi, Malaysia dan yang ke 58 di dunia.
Pulau Langkawi di Malaysia yang memiliki obyek wisata 99 pulau dan telah ditetapkan menjadi geopark pertama di Asia kini dibanjiri wistawan.
Tercatat rata-rata 1.000 orang termasuk sekitar 100 hingga 200 orang mengunjungi 'Underwater Word dari Indonesia, salah satu daya tarik wisata di pulau yang terkenal di dunia itu.
Gunung Rinjani yang keindahan dan keunikannya tidak kalah dengan Pulau Langkawi, Malaysia ini sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata berkelas dunia, yang menjadi masalah belum adanya aksesibilitas untuk mempermudah wisatawan berkunjung ke obyek wisata tersebut.
Ahli geologi dan pakar kegunungapian dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Budi Brahmantyo MSc mengatakan, dari sisi syarat geopark sepertia acuan dan kriteria yang ditetapkan Unesco, Gunung Rinjani layak menjadi Geopark.
"Satu kekurangan yang mungkin perlu dipertimbangkan dimasa mendatang adalah bagaimana agar semua orang dapat menikmati pamandangan luar biasa dari Danau Segara Anak," kata dosen senior Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB.
Beberapa pihak mengusulkan agar agar dibuat 'cableway' atau kereta gantung untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke Gunung Rinjani.
Namun mengingat Gunung Rinjani merupakan gunungapi aktif yang menyebab bahan kereta gantung cepat berkarat, sehingga membahayakan, maka perlu dipertimbangkan dengan sangat cermat mengingat biayanya juga cukup mahal.
Salah satu alternatif yang layak dipertimbangkan adalah dengan membangun jalan darat yang bisa dilalui dengan kendaraan roda empat hingga bibir kaldera Danau Segara Anak dan salah satu jalur yang memungkinkan adalah di Sembalun di Kabupaten Lombok Timur.
Menurut data dari TNGR jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TNGR di Gunung Rinjani tahun 2007 sebanyak 4.249 orang, meningkat dibandingkan 2006 sebanyak 3.386 orang.
Wisatawan yang berkunjung ke TNGR tersebut masih sebatas wisatawan minta khusus yang memiliki kekuatan fisik untuk mendaki menaklukkan gunung yang tertinggi kedua di Indonesia itu.
Pendakian ke danau Segara Anak melalui rute Senaru-Pelawangan-Segara Anak membutuhkan waktu 10-12 jam, selanjutnya pendakian ke puncak Gunung Rinjani membutuhkan waktu 4-5 jam.(*)
Foto: Humas Pemkab Lombok Barat
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026