{jpg*2}
  Matahari baru saja bergulir ke arah barat. Sinarnya yang tajam menerpa pasir putih sebesar merica memantulkan warna keemasan. Udara terik pun seperti mengepung. Namun hempasan angin pantai nan semilir itu mampu menghalau kegerahan dan kepenatan.
   Dari kejauhan nampak sekelompok bocah dengan kaki telanjang berkejaran menikmati kelembutan pasir yang bersih dan lembut. Di sudut lain terlihat sejumlah turis asing berjemur. Sesekali mereka berenang menikmati jernihnya air laut di obyek wisata di ujung barat Pulau Sumbawa itu.
  Hamparan pantai dihiasi pasir putih dikelilingi bukit cadas yang menjorok hingga bibir pantai membentang luas dari ujung utara di Poto Tano hingga Talonang di ujung selatan melengkapi keindahan obyek wisata "Bumi Undru" (julukan Kabupaten Sumbawa Barat).
   Pesisir pantai nan eksotis dengan ombak menggulung menuju daratan kemudian pecah di gugusan terumbu karang, membentuk sebuah terowongan setinggi dua meter lebih menjadi daya tarik lain bagi para wisatawan pecandu selancar.
  Keragaman seni budaya "Tana Samawa" nan unik dan sarat makna simbolik yang mencerminkan keterbukaan "tau samawa" (orang atau masyarakat Sumbawa Barat) untuk menerima kehadiran orang luar, menjadi modal utama membangun sektor pariwisata di "Bumi Undru".
  Potensi pariwisata yang merupakan perpaduan serasi antara pesona alam dan kearifan lokal itu menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dalam membangun pariwisata menuju masyarakat  yang mandiri secara ekonomi dan pemerintahan yang tangguh menghadapi tantangan di era pascatambang.
  Sektor pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat kini mulai menggeliat. Wisatawan lokal maupun mancanegara mulai melirik obyek wisata yang masih alami bak perawan yang belum terjamah itu.    
   Yuni White, pengusaha asal Bali yang juga salah seorang pelaku pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat mengagumi keindahan obyek wisata di ujung barat Pulau Sumbawa ini.
Bahkan pengusaha yang telah sukses mengelola usaha pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat menilai pesona alam "Bumi Undru" tidak kalah dengan keindahan Pulau Bali yang sudah mendunia itu.
   "Obyek wisata ini memang menyimpan segudang daya tarik. Keindahan alamnya tidak kalah dengan potensi wisata di daerah lain termasuk Bali," kata istri Tommy Lee White yang berkebangsaan Amerika Serikat.
Sejak dua tahun terakhir ia mulai memasarkan potensi wisata Kabupaten Sumbawa Barat di luar negeri dan kini sudah menampakkan hasil. Cukup banyak wisatawan yang datang dan sebagian besar merupakan tamu yang sudah sering berkunjung ke obyek wisata ini.
Para wisatawan yang berkunjung dan menghabiskan masa liburnya di obyek wisata ini umumnya tamu "return customer". Artinya wisatawan yang pernah bekunjung, kemudian datang lagi berulang-ulang karena terpesona dengan keindahan obyek wisata ini.  
  "Sejak awal saya tahu bahwa panorama alam di Kabupaten Sumbawa Barat ini sangat indah, bahkan tidak kalah dengan keindahan Pulau Bali yang dikunjungi jutaan wisatawan setiap tahun. Inilah yang mendorong saya membangun hotel dan restoran. Bahkan juga membangun bandar udara (bandara)," kata ibu mertua dari bintang sinetron Taxi, Nana Djamal Mirdad.
Untuk memasarkan potensi wisata Sumbawa Barat, Yuni White telah menjalin kerja sama dengan "Nomadsurf", biro perjalanan terkemuka dunia yang khusus menangani wisata surfing.
  Perjuangan memasarkan potensi wisata Sumbawa Barat itu nampaknya mulai membuahkan hasil. Hampir setiap hari cukup banyak wisatawan yang datang  bermain selancar di Pantai Maluk, Jelenga dan Pantai Pesin atau Pantai Tropi di Kabupaten Sumbawa Barat.
   "Saya sudah menikmati buah perjuangan memasarkan potensi pariwisata Sumbawa Barat. Mulai banyak wisatawan yang berkunjung. Para wisatawan itu paling banyak dari Jepang dan Austalia," ujar ibu kandung bintang sinetron "Si Cantik dan Si Buruk Rupa", Andrew White.
   Untuk melayani para tamu yang akan bermain surfing, Yuni White mengaku telah menyiapkan dua unit kapal dan sejumlah fasilitas lainnya untuk memudahkan para pecandu selancar menikmati "sensasi" ombak pantai barat Pulau Sumbawa itu.
  {jpg*3}
  Supersuck, Yoyo's dan Donut, adalah jenis ombak "langka" yang digemari para pesurfer dunia. Jenis ombak ini konon hanya ada di Kepulauan Hawai, Mentawai dan di Indonesia bisa ditemukan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Karena itu tidak mengherankan Yuni White menjadikan obyek wisata itu sebagai andalan untuk memikat wisatawan berkunjung ke obyek wisata di ujung Barat Pulau Sumbawa ini.    
  "Untuk sementara yang menjadi andalan kami adalah potensi 'surfing' (selancar). Tamu yang berkunjung umumnya wisatawan minat khusus, yakni turis yang hobi bermain  selancar karena  perairan pantai di Sumbawa Barat sangat cocok untuk jenis olah raga air itu," kata Yuni White.
   Selain wisata bahari, Yuni White juga menawarkan paket wisata golf yang ada di kawasan tambang dan "geowisata" atau wisata tambang Newmont Batu Hijau.    

                                              Berbagai kendala
  Sebagai kabupaten yang baru seumur jagung, pengembangan sektor pariwisata Sumbawa Barat ini memang masih menghadapi berbagai kendala, seperti belum memadainya infrastruktur dan minimnya fasilitas pendukung di obyek wisata itu.
  Yuni White mengakui pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat masih menghadapi berbagai kendala, antara lain terbatasnya ketersediaan energi listrik dan belum memadainya infrastruktur jalan termasuk fasilitas transportasi udara.
  Berkunjung ke obyek wisata yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Mataram, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat itu, para wisatawan hanya mengandalkan moda transportasi darat.
  Untuk menjangkau obyek wisata di Kabupaten Sumbawa Barat membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam perjalanan darat dan  menyeberangi Selat Alas menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur menuju Poto Tano di Sumbawa Barat.
   Kendati demikian hampir setiap hari selalu ada wisatawan mancanegara yang datang menggunakan bus jurusan Mataram-Maluk dengan biaya Rp65.000 per orang. Umumnya para turis itu datang untuk bermain selancar atau menikmati pesona pantai dan keindahan panorama alam Sumbawa Barat.
  Bahkan cukup banyak wisatawan yang menggunakan sepeda motor kendati harus menempuh jarak ratusan kilometer sambil membawa papan selancar dan menyeberangi lautan dengan kapal ferry .
   Belum tersedianya transportasi udara juga menjadi kendala pengembangan sektor pariwisata di kabupaten muda yang kini sedang berjuang mengembangkan industri "pelancongan" itu.  
   {jpg*4} 
  Karena itu Yuni White menyambut baik ketika Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berniat membeli dan mengoperasikan Bandara Sekongkang yang telah dibangun beberapa tahun lalu.
  Ia optimis dengan beroperasinya Bandara Sekongkang di Kabupaten Sumbawa Barat itu akan memberikan kemudahan bagi wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini.
  "Selama bertahun-tahun saya menunggu Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengambil Bandara Sekongkang, karena itu saya menyambut baik keputusan strategis itu, sebab kalau memang benar bandara tersebut dioperasikan mulai tahun ini, saya yakin tahun depan angka kunjungan wisatawan akan meningkat tajam," kata Yuni White.
  Selain kekayaan seni budaya yang unik dan pantai yang indah, panorama alam pedalaman Brangrea yang atraktif dengan sejumlah goa alam yang eksotis, semisal Goa Mumber di Bangkat Monte dan air terjun Rarak di Brangrea serta Liang (goa) Serunga dan Liang Kalela di Kecamatan Jereweh juga merupakan potensi wisata "Bumi Undru" yang layak jual.
  Kekayaan kuliner khas Sumbawa Barat, seperti "Pelopo". (susu kerbau yang difermentasi), "Singang" (menu masakan berbahan baku ikan) dan "Sepat" (sejenis menu masakan berbahan baku ikan dilengkapi penyedap dari dedaunan) mulai digemari wisatawan.
   Karena itu tekad Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk mulai membenahi dan mengembangkan pariwisata dinilai banyak pihak sebagai keputusan yang cerdas, karena kedepan sektor ini cukup menjanjikan.
   Bupati Sumbawa Barat KH Zulkifli Muhadli mengaku sejak awal sudah mengetahui berbagai potensi wisata yang dimiliki daerahnya, baik pantai yang indah, panorama alam yang memikat maupun khasanah seni budaya yang unik dan potensi beragam kuliner yang menggugah selera.
   "Menurut saya keindahan pantai dan panorama alam Sumbawa Barat tidak kalah dengan yang ada di daerah lain di Indonesia. Bahkan mungkin di dunia, karena beberapa negara yang telah saya kunjungi, belum pernah melihat alam seindah ini," kata Bupati Sumbawa Barat yang kerap disapa Kyai Zul.
   Namun ia mengakui Kabupaten Sumbawa Barat yang baru memasuki usia sewindu ini masih banyak kekurangan dan ini menjadi kendala dalam mengembangkan sektor pariwisata daerah ini.
   Berbagai kendala itu tidak mengurangi tekad Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan para pelaku industri pariwisata daerah ini termasuk perusahaan tambang tembaga PT Newmont Nusa Tenggara Batu Hijau yang selama ini ikut membantu menata dan membangun fasilitas pendukung di obyek wisata di Sumbawa Barat.
Keterbatasan energi listrik juga diakui Kyai Zul sebagai kendala utama dalam pengembangan sektor pariwisata di "Bumi Undru".
   Namun ia optimis masalah itu segera bisa diatasi, karena persoalan energi listrik sudah dibicarakan dengan PT PLN dan insyaAllah tahun ini bisa teratasi.
  "Memang benar banyak hal yang belum sempat dan belum mampu kami lakukan dalam mengembangkan industri pariwisata, seperti membangun infrastruktur jalan untuk menunjang kelancaran arus transportasi ke obyek wisata dan menyiapkan fasilitas transportasi udara yang juga sangat diperlukan untuk mendukung program percepatan pembangunan sektor pariwisata," kata bupati yang memiliki segudang ide ini.    
   Sebagai wujud keseriusan mengembangkan sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat segera membangun infrastruktur jalan dan akan mengoperasikan Bandara Sekongkang yang dibeli dari seorang pengusaha hotel dan restoran di daerah itu.
   Menurut Kyai Zul, Bandara Sekongkang akan dioperasikan sebagai bandara umum mulai Juni 2012 untuk menunjang pengembangan pariwisata dan menarik minta para investor mengembangkan usahanya di daerah ini.
   Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat akan mengoperasikan Bandara Sekongkang itu bekerja sama dengan pengusaha pariwisata asal Bali yang juga pemilik hotel Tropical Beach Resort Sumbawa Barat di Kecamatan Sekongkang.
  "Bandara Sekongkang akan kita jadikan bandara umum dan manajemen pengelolaannya kerja sama Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan Tropical Beach Resort Sekongkang. Kami mengharapkan pertengahan 2012 bandara tersebut mulai beroperasi," katanya.
Proses pembelian Bandara Sekongkang tersebut sudah selesai tinggal menunggu izin pengoperasian dari Kementerian Perhubungan. Diharapkan pada pertengahan 2012 bisa didarati pesawat.
   "Saya sudah membicarakan dengan manajemen Newmont Batu Hijau untuk ikut memanfaatkan Bandara Sekongkang agar 'load factor' bisa terpenuhi. Kita mengharapkan karyawan dan kontraktor PTNNT, para wisatawan dan tamu pemerintah daerah nantinya menggunakan pesawat melalui Bandara Sekongkang," kata Kyai Zul.
   Selain itu para pejabat yang melakukan perjalanan dinas juga diwajibkan menggunakan pesawat melalui bandara ini
  Landasan pacu atau "runway" Bandara Sekongkang akan diperpanjang dari 850 meter menjadi 1.500 meter. Peningkatan kapasitas bandara tersebut diperkirakan menelan biaya Rp25 miliar.
  Setelah dikembangkan, bandara tersebut bisa didarati pesawat jenis "Avions de Transport Regional" (ATR) atau jenis pesawat khusus untuk penerbangan regional.
"Kami sangat optimistis pengoperasian Bandara Sekongkang ini akan berhasil, karena calon penumpang cukup banyak baik karyawan PTNNT dan subkontraktor maupun wisatawan," katanya.
  Menurut Kyai Zul, pemasaran dan promosi potensi wisata Sumbawa Barat sudah dilakukan oleh para pelaku pariwisata termasuk Yuni White yang juga pemilik Tropical Beach Resort.
  Pangsa pasar angkutan udara di kawasan pariwisata Sumbawa Barat cukup potensial, yakni karyawan dan kontraktor PTNNT yang datang silih berganti termasuk para tamu perusahaan.  
  "Para tamu dan karyawan PTNNT serta subkontraktor cukup banyak termasuk para tenaga kerja asing. Ini sekaligus bisa dijadikan promosi gratis dalam memasarkan pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat," kata Kyai Zul.
   Untuk menunjang pengembangan sektor pariwisata, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat nampaknya tak hanya mengandalkan pesona pantai dan keindahan panorama alam, tetapi sejak beberapa tahun ini mulai menggali dan memanfaatkan kekayaan seni budaya "Tana Samawa" sebagai daya tarik wisata.
   Bahkan kini telah dibuat kalender wisata mingguan, bulanan, setengah tahunan dan tahunan, salah satu di antaranya adalah "Berapan Kebo" atau balapan kerbau.
  "Berapan kebo akan kita dijadikan ikon pariwisata Sumbawa Barat. Penyelenggaraan event tersebut akan diatur agar bisa dimasukkan dalam paket wisata. Kami akan menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di daerah ini.
Kyai Zul mengaku optimis industri pariwisata Sumbawa Barat akan berkembang pesat, karena potensi wisata sudah ada dan layak jual, tinggal dipasarkan dan ini telah dilakukan oleh sejumlah pelaku pariwisata yang ada di daerah ini," ujar bupati dari kalangan ulama itu.
   Ia tidak menampik angka kunjungan wisatawan ke Sumbawa Barat masih relatif kecil demikian juga kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata.  
  Itulah yang harus dikejar. Belajar dari pengalaman Kabupaten Badung, Provinsi Bali yang kini berhasil meraup PAD sebesar  Rp1 triliun lebih setiap dari sektor pariwisata.
   "Dengan beragam potensi pariwisata yang kita miliki, tidak mustahil impian untuk meraup PAD miliaran, bahkan triliunan rupiah itu akan menjadi kenyataan," kata Kyai Zul dengan penuh semangat.    
Di Kabupaten Sumbawa Barat tak hanya pantai dan keindahan alam yang bisa dijual, tetapi juga wisata tambang atau "geowisata". Para wisatawan diberikan kesempatan untuk menikmati kawasan tambang.
   "Kita bisa melibatkan pengusaha pariwisata untuk menangani geowisata. Para wisatawaan yang berminat menyaksikan kegiatan penambangan disediakan fasilitas angkutan dan mereka akan dipandu petugas dari PTNNT," kata Kyai Zul  
Perjuangan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bersama para pelaku pariwisata yang didukung perusahaan tambang tembaga dan emas PTNNT itu berdimenasi masa depan dalam rangka merajut kemandirian di era pascatambang.  
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Nusa Tenggara Barat I Gusti Lanang Patra menilai langkah Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengembangkan sektor pariwisata itu merupakan langkah tepat dan pilihan cerdas.
  "Kami menilai upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mulai mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu proogram unggulan merupakan langkah tepat, karena industri tambang tidak akan bertahan selamanya, berbeda dengan pariwisata," katanya.
   Dengan mengembangkan sektor pariwisata secara serius, berarti Pemkab Sumbawa Barat berpikir jauh ke depan dan tidak lalai kendati saat ini sedang menikmati pendapatan besar dari hasil tambang.
   "Hasil yang diperoleh dari industri tambang sebagian dimanfaatkan untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat. Ketika masa penambangan berakhir tidak akan menimbulkan masalah, karena industri pariwisata sudah berkembang dan pondasi ekonomi di daerah ini kuat," katanya.
  Dengan berkembangnya pariwisata, menurut Patra, maka perekonomian Sumbawa Barat tidak akan mati kendati masa penambangan berakhir. Perekonomian di daerah ini akan terus berkembang sejalan dengan kian ramainya wisatawan berkunjung ke daerah itu.
  Kabupaten Sumbawa Barat tidak akan menjadi "kota mati" setelah berakhirnya masa tambang,  jika industri pariwisata sudah berkembang pesat di daerah itu.
  "Penambangan PTNNT di Kabupaten Sumbawa Barat akan berakhir belasan tahun mendatang. Saya yakin pada saat itu kabupaten yang kini baru berusia sewindu ini akan menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang berkembang pesat, kalau sejak sekarang sektor pariwisata dibangun dengan penuh perencanaan," ujarnya.
   Namun kalau tidak ada upaya untuk mengembangkan pariwisata atau sektor lainnya, maka Kabupaten Sumbawa Barat dikhawatirkan akan bernasib sama dengan kebanyakan kabupaten penghasil tambang yang kondisinya cukup memprihatinkan.
  Menurut Patra, banyak potensi pariwisata yang bisa dikembangkan di daerah itu, antara lain obyek wisata pantai dan budaya yang keindahan dan keunikannya tidak kalah dengan yang ada di daerah lain.
   "Saya pernah melihat pantai yang cocok untuk bermain selancar mulai ramai dikunjungi wisatawan mancanegara. Ini akan menjadi modal utama pengembangan industri pariwisata di Kabupaten Sumbawa Barat di samping kekayaan seni dan budaya yang unik dan menarik," ujarnya.
   Namun, kata Patra,  untuk pengembangan industri pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, perlu dukungan masyarakat termasuk para pengusaha, seperti PTNNT yang kini sedang beroperasi di daerah itu.
   Untuk memajukan pariwisata Kabupaten Sumbawa Barat perlu dibangun sinergi antara pemerintah, para pelaku pariwisata dan pengusaha termasuk masyarakat. Dalam hal ini masyarakat harus dilibatkan, jangan biarkan mereka menjadi penonton di daerahnya sendiri.
 
                                         "Bergandengan mesra"
   Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat agaknya tidak berjuang sendiri dalam membangun sektor pariwisata "Bumi Undru" ini. Selain para pelaku pariwisata, PTNNT yang kini sudah memasuki 12 tahun masa produksi di Batu Hijau juga ikut membantu mengembangkan industri pariwisata daerah ini.
   PTNNT dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat nampaknya mulai "bergandengan mesra" membangun industri pariwisata di kabupaten muda dengan segudang prestasi ini.  
   Perusahaan tambang tembaga dan emas PTNNT ini sejak tujuh tahun lalu sudah mulai menata dan membangun fasilitas pendukung di obyek wisata, seperti tempat berjualan para pedagang, antara lain di Pantai Maluk yang kini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, demikian juga di obyek wisata lainnya, seperti di Pantai Jelenga.
   Cukup banyak warga di Kecamatan Maluk yang mengais rezeki di obyek wisata pantai Maluk dengan berjualan berbagai jenis makanan termasuk menu masakan khas Sumbawa Barat, seperti "Sepat", "Singang"   ikan bakar, ikan goreng dan kelapa muda. Kini mereka sudah menikmati dampak pariwisata.
Pendapatan para pedagang di pantai yang menyimpan segudang pesona itu terus meningkat sejalan dengan kian ramainya kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke obyek wisata ini.
Pantai Maluk dan Jelenga yang beberapa tahun lalu hanya tempat membuang sampah atau tempat para nelayan membuat gubuk sederhana untuk beristirahat menghilangkan penat setelah seharian melaut, kini berubah menjadi obyek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.
   {jpg*5}
  H Kasan Mulyono yang mewakili manajemen PTNNT ketika menjamu sejumlah wartawan dari Mataram, Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat beberapa waktu lalu menyatakan siap mendukung pemerintah "Bumi Undru" mengembangkan sektor pariwisata.
  "Sejak beberapa tahun lalu kami telah membenahi dan membangun Pantai Sekongkang Maluk, Jelenga di Benete dan Pantai Balat. Kini sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang berjualan di tempat wisata itu," kata Kasan yang ikut terlibat dalam merancang dan membangun obyek wisata itu sekitar lima tahun lalu.  
Ia mengatakan, PTNNT akan terus mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mengembangkan sektor pariwisata, termasuk membangun infrastruktur penunjang di sekitar kawasan wisata tersebut.
Selain itu manajemen PTNNT juga membuka pintu lebar-lebar untuk menerima kunjungan wisatawan yang berminat menyaksikan obyek wisata tambang atau "geowisata".  
"Geowisata" ini ditangani oleh pemerintah bekerja sama dengan swasta.  Para wisatawan diberikan kesempatan menyaksikan secara langsung kegiatan penambangan. Obyek wisata ini tidak ditemukan di daerah lain termasuk di Bali.
  "Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para wisatawan yang berminat mengunjungi kawasan tambang dan melihat secara langsung kegiatan penambangan di Batu Hijau," kata Kasan yang kini menjabat Manajer Eksternal Eksplorasi PTNNT.
  Perusahaan tambang tembaga dan emas yang berkantor pusat di Denver Colorado, Amerika Serikat ini juga menyatakan siap mendukung keinginan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk membuka dan memasarkan wisata tambang. Bahkan akan menyiapkan fasilitas untuk memudahkan para wisatawan mengunjungi kawasan tambang itu.
Bentuk dukungan lain, menurut Kasan, adalah kesiapan manajemen PTNNT untuk membantu Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat membangun fasilitas penunjang pariwisata, seperti membangun arena "Berapan Kebo" (balapan kerbau) dan merenovasi Bandara Sekongkang.
Selama ini perusahaan tambang itu juga telah membantu pemerintah mengembangkan seni budaya dengan membina sejumlah sanggar seni di Kabupaten Sumbawa Barat. Bahkan perusahaan tambang ini juga sering menampilkan kesenian khas "Bumi Undru" pada setiap kegiatan berskala lokal maupun nasional.
   Semua itu sebagai wujud komitmen perusahaan untuk ikut memajukan Kabupaten Sumbawa Barat sebagai perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan.
Bagi Newmont Batu Hijau, komitmen adalah refleksi tanggung jawab sosial berdimensi masa depan. Ada mata rantai yang berkelanjutan sejak dulu, sekarang, masa mendatang hingga pascatambang.
Komitmen itu tersurat dan tersirat dalam visi Korporasi Tambang Newmont, yakni menjadi perusahaan  tambang yang paling dihargai dan dihormati melalui pencapaian kinerja terdepan di industri tambang kepemimpinan di bidang keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial.    
   Upaya PT Newmont Batu Hijau dalam konteks pembangunan pariwisata "Bumi Undru" juga merupakan salah satu wujud kepedulian perusahaan tambang ini dalam rangka mewujudkan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat yang mandiri secara ekonomi dan pemerintahan yang mampu bersaing kelak setelah berakhirnya masa penambangan.   
   Bagi Newmont Batu Hijau persahabatan dalam kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah untuk melangkah bersama adalah refleksi sebuah lisensi sosial untuk pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sumbawa Barat.
  Tanggung jawab perusahaan itu juga diwujudkan PTNNT dengan melaksanakan kewajiban keuangan tepat waktu yang disetorkan ke negara sebagaimana diatur dalam Kontrak Karya (KK)
   Presiden Direktur (Presdir) PTNNT Martiono Hadianto mengatakan, selama 2011 PTNNT telah menyetor dana sebesar Rp7,40 triliun berupa pajak, non pajak dan royalti kepada pemerintah Indonesia sesuai ketentuan Kontrak Karya.
   Pembayaran terbesar adalah pajak penghasilan badan yang mencapai Rp6,17 triliun, kemudian pajak penghasilan lainnya Rp270,9 miliar, pajak atas dividen Rp217,5 miliar dan pajak penghasilan karyawan sebesar Rp224,2 miliar. Sementara pembayaran royalti produksi mencapai Rp168,4 miliar.  
   Menurut Martiono, nilai pembayaran pajak pada 2011 lebih besar dari 2010 sebesar  Rp5,96 triliun. Peningkatan yang signifikan itu disebabkan adanya pembayaran PPh badan  tahun pajak 2010 yang dibayarkan pada 2011 saat penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak.
Sejak 2003 perusahaan tambang tembaga dan emas, PTNNT selalu mendapatkan predikat wajib pajak patuh dari pemerintah.
  Mulai 1999 hingga 2011, PTNNT telah menyetor pemasukan untuk negara sebesar Rp60,67 triliun, berupa pajak, non pajak  royalti, pembelian barang dan jasa dari pengusaha lokal maupun nasional, serta program pengembangan masyarakat.
  Selain memberikan manfaat keuangan langsung kepada pemerintah, PTNNT juga memberi nilai tambah ekonomi lainnya, misalnya  pembayaran gaji kepada lebih dari 4.000 karyawan Newmont dan 3.000 karyawan kontraktor.
  Dana triliun rupiah dari PTNNT itu sebagian dinikmati Pemerintah Provinsi NTB dan sejumlah kabupaten/kota termasuk Sumbawa Barat sebagai kabupaten penghasil.
  Sejatinya pengembangan industri pariwisata "Bumi Undru" merupakan sebuah keharusan sebagai salah satu ikhtiar dalam rangka mewujudkan Kabupaten Sumbawa Barat yang mandiri secara ekonomi, sosial dan budaya setelah berakhirnya masa penambangan PT Newmont Nusa Tenggara di Batu Hijau.
  Julukan "Bumi Undru" yang diangkat dari nama seorang tokoh, "Undru" atau "Dea Mas", pahlawan sejati yang berjuang pantang menyerah melawan penjajahan Belanda tahun 1906 silam di Sapugara (Taliawang) bisa dijadikan pemacu dan pemicu semangat masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dalam merajut kemandirian setelah berakhirnya masa penambangan Newmont Batu Hijau.

KETERANGAN FOTO: PASIR PUTIH-Panorama pantai di Kabupaten Sumbawa Barat 
yang menyimpan sejuta pesona

OMBAK SELANCAR-Ombak di pantai Barat Sumbawa Barat menjadi daya tarik wisatawan pecandu selancar

BANDARA SEKONGKANG-Bandara Sekongkang di Kabupaten Sumbawa Barat akan dioperasikan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk menunjang pengembangan sektor pariwisata dan investasi.

BERAPAN KEBO-"Berapan Kebo" (balapan kerbau) menjadi ikon pariwisata Sumbawa Barat.

(AntaraMataram.Com/Masnun)   

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026