268 petani santong dilatih penanganan pascapanen kopi

id tanaman,kopi sambung

268 petani santong dilatih penanganan pascapanen kopi

Seorang petani memberikan cairan larutan pupuk pada tanaman jagungnya yang berumur 20 hari di Desa Dasan Geres,Gerung,Lombok Barat,NTB

Pada setiap panen kami menjual biji kopi mentah dengan harga Rp20.000 per kilogram. Kalau diolah manjadi kopi bubuk, maka harganya akan lebih tinggi. Karea itu dengan adanya pelatihan tersebut para petani mampu mengolah sendiri hasil panennya
Mataram,(Antara Mataram) - Sebanyak 268 petani Hutan Kemasyarakatan (HKM) Santong, Kabupaten Lombk Utara akan dilatih penanganan pascapanen kopi agar mereka mampu mengolah komoditas tersebut menjadi kopi bubuk yang berkualitas dan benilai jual tinggi.

Ketua Koperasi Tani Hutan Maju Bersama Santong, Kecamatan Kayangan H Artim Yahya di Tanjung, Jumat mengatakan pelatihan pengolahan kopi itu akan dilaksanakan atas kerja sama dengan Dinas Kehutanan NTB dan LSM Konsorsium Untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi).

Ia mengatakan, pelatihan penanganan pascapanen kopi itu akan dilaksanakan pada awal Juni 2013 dengan melibatkan intruktur dari industri pengolahan kopi dan utusan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB.

"Pada setiap panen kami menjual biji kopi mentah dengan harga Rp20.000 per kilogram. Kalau diolah manjadi kopi bubuk, maka harganya akan lebih tinggi. Karea itu dengan adanya pelatihan tersebut para petani mampu mengolah sendiri hasil panennya," ujarnya.

Menurut Artim, luas lahan HKM Santong 221 hektare, sekitar 100 hektare di antaranya berisi tanaman kopi jenis arabika. Produksi kopi petani pada setiap musim panen mencapai 300 hingga 400 kilogram per hektare.

Ia mengatakan, kalau kopi yang dihasilkan petani itu diolah menjadi kopi bubuk kemudian dikemas dengan kemasan yang menarik, maka harga jualnya akan lebih tinggi, seperti di Kabupaten Lombok Tengah berhasil mengolah kopi dengan merek 555.

"Pada pelatihan tersebut, selain diberikan keterampilan mengenai pengolahan kopi, kami juga akan dilatih membuat kemasan yang dilengkapi logo yang menarik. Kami masih merancang merek yang cocok utuk kopi bubuk tersebut," ujarnya.

Artim mengaku optimis setelah petani mampu memproduksi kopi bubuk yang berkualitas, maka pendapatan mereka akan meningkat dibandingkan ketika menjual biji kopi mentah.

Hingga kini para petani pengelola HKM Santong menghasilkan berbagai komoditas antara lain kopi, pisang, kakao dan durian. Namun komoditas tersebut dijual berupa barang mentah, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengolah menjadi barang jadi.

"Para petani menjual buah pisang paling tinggi dengan harga Rp5.000 per sisir, sementara buah durian paling tinggi harganya Rp7.000 - Rp8000 per butir, sedangkan kalau diolah menjadi kripik pisang atau pisang sale harganya lebih tinggi," katanya.
Pewarta :
Editor: Zulaeha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar