Kerbau Sumbawa ini jaya sejak 1940-an karena dikirim ke sejumlah negara. Salah satunya Hongkong. Itu pertimbangan kami mengembalikan kejayaan masa lalu
Sumbawa Besar,  (Antara) - Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat bertekad mengembalikan kejayaan sebagai sentra kerbau seperti era tahun 1940-an.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumbawa Syafruddin Nur, di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin, mengatakan kerbau adalah ternak asli yang dipelihara masyarakat sejak zaman dahulu dan sudah diekspor ke sejumlah negara.

"Kerbau Sumbawa ini jaya sejak 1940-an karena dikirim ke sejumlah negara. Salah satunya Hongkong. Itu pertimbangan kami mengembalikan kejayaan masa lalu," katanya.

Menurut dia, pemeliharaan kerbau saat ini memang sudah bergeser ke ternak ruminansia jenis sapi. Hal itu disebabkan masyarakat menilai pemeliharaan sapi lebih sederhana, tahan panas dan sumber pakannya relatif tersedia.

Sistem pemeliharaan juga tidak membutuhkan kandang karena dilepas secara liar di alam bebas, sehingga sapi bisa mencari makan sendiri. Pola pemeliharaan itu disebut sistem Lar.

Dari sisi refroduksi, kata Syafruddin, sapi juga dianggap oleh masyarakat cepat beranak dibandingkan kerbau, sehingga menguntungkan secara ekonomi.

Namun, kerbau juga memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama jika sering digunakan dan menang dalam Karapan Kebo (Balapan kerbau).

"Apalagi kapasitas badannya bagus dan mencapai kriteria kerbau seperti masyarakat Tana Toraja. Kalau itu bisa dilakukan pemilik kerbau, bisa mendatangkan keuntungan besar," ucap Syafruddin.

Upaya untuk membangkitkan kejayaan kerbau Sumbawa, lanjutnya, dilakukan dengan cara membangkitkan tradisi Barapan Kebo setiap tahun. Tradisi ini bahkan sudah menjadi rangkaian Festival Moyo yang sudah dijadikan kalender pariwisata tetap oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa tiga tahun lalu.

Selain itu, mengembangkan kembali sentra produksi kerbau yang tersebar hampir di 24 kecamatan di Kabupaten Sumbawa, seperti Maronge, Tarano dan Empang.

"Khusus di Maronge, kami akan membangun unit pelaksana teknis dinas (UPTD) khusus untuk kerbau. UPTD seluas 20 hektare itu akan menjadi pusat pengembangan dan laboratorium kerbau di Sumbawa," katanya.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa, kata Syafruddin, juga memberikan bantuan kepada 12 kelompok ternak dan satu kelompok ternak penerima dana insentif yang memelihara kerbau betina produktif.

Melalui berbagai upaya itu, kata dia, diharapkan kejayaan kerbau Sumbawa akan bangkit kembali. Terlebih saat ini NTB merupakan sentra produksi kerbau terbesar ke enam secara nasional.

"Dari sekitar 150 ribu ekor kerbau di NTB, 50 persen lebih ada di Kabupaten Sumbawa," ujarnya.


Pewarta :
Editor: Yanes
COPYRIGHT © ANTARA 2026