Jakarta (ANTARA) - Desainer Wilsen Willim merancang busana-busana untuk perayaan tahun baru Imlek yang juga bisa dipakai pada kesempatan lain.

Wilsen melakukan perjalanan ke beberapa negara guna melakukan riset dalam upaya untuk menghadirkan busana-busana Imlek dengan ciri budaya peranakan Tionghoa.

"Akhir-akhir ini saya transform brand ke arah peranakan wear. Saya banyak riset dan traveling, termasuk ke China," katanya dalam acara bincang-bincang bertajuk "Lunaire a La Mode" di gerai Pendopo, Living World, Tangerang Selatan, Kamis.

"Saya ingin menyajikan warna muted supaya di luar Imlek pun masih bisa dipakai," katanya merujuk pada warna-warna yang tidak mencolok.

Baca juga: Desainer Wilsen Willim tonjolkan teknik tailoring dalam koleksi Lunar

Ia merancang busana-busana Imlek dengan mempertimbangkan fungsi pemakaian dalam jangka panjang. Sebagai contoh, atasan dibuat dengan potongan yang mudah dipadukan dengan kain maupun model bawahan lain untuk menghadirkan fleksibilitas dalam penggunaan.

Wilsen mengemukakan bahwa preferensi warna busana perayaan Imlek telah bergeser. Orang-orang tidak lagi terpaku pada warna merah terang, tetapi mulai menerima pilihan warna yang lebih netral.

Baca juga: ADGI Design Week 2025 soroti desain grafis

"Sekarang orang sudah lebih banyak riset. Di beberapa tempat, warna seperti light grey (abu-abu muda) sampai hitam juga dipakai saat Imlek. Hitam dan putih tidak masalah selama tidak tampil monokrom seperti suasana duka," katanya.

Ia menambahkan, busana Imlek dengan warna yang lebih tenang lebih mudah dipadupadankan dengan pakaian yang lain, sehingga dapat dipakai untuk kesempatan yang lain.

 

 


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026