Mataram (ANTARA) - Musim kemarau tahun 2026 dimulai sejak April dan kemunculannya datang lebih awal, lebih kering, serta lebih panjang. Hal ini menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan pengelolaan air dan kegiatan pertanian.
Kondisi cuaca kering tersebut dipicu berakhirnya fenomena La Niña lemah sejak Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Niño lemah hingga moderat pada pertengahan tahun.
Bila kita membuka aplikasi radar cuaca, peta Indonesia terlihat jelas dan hanya ada sedikit penghalang awan. Gumpalan Cumulonimbus dan Nimbostratus yang selalu menghasilkan hujan lebat dalam durasi lama kini sudah mulai jarang memayungi daratan.
Sejak pertengahan Maret 2026, langit biru terjadi hampir sepanjang hari yang membuat suhu udara terasa gerah. Gulma berdaun lebar perlahan menguning sebagai bentuk respon alami terhadap kondisi minim air.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan musim kemarau diawali dari wilayah lintang selatan bagian timur yang meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebelum merambat ke wilayah Indonesia lainnya.
Total durasi kemarau diprediksi terjadi selama 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan sampai sembilan bulan ke depan. Sedangkan, puncak periode kering berlangsung pada Agustus 2026.
Aktivitas pertanian harus menyesuaikan kondisi cuaca melalui pemilihan varietas tanaman tahan kering dan pengaturan irigasi yang efektif, sehingga hasil pertanian bisa maksimal serta ketersediaan sumber daya air bisa terjaga secara optimal selama musim kemarau panjang.
Hujan masih ada
Musim kemarau memang selalu identik dengan kondisi kering dan panas, tetapi hujan tetap bisa turun akibat faktor lokal yang cukup kuat untuk membentuk awan yang kaya uap air.
Daerah dengan topografi wilayah pegunungan cenderung lebih basah ketimbang hamparan dataran luas yang membentang di sepanjang wilayah pesisir.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Suci Agustiarini mengatakan cuaca pegunungan seringkali tidak sesuai dengan pola umum musim kemarau akibat kondisi topografi dan faktor lokal yang dominan.
Ketika massa udara yang terbawa angin menabrak pegunungan, maka udara tersebut dipaksa naik ke atas lereng dan mendingin. Saat itulah uap air mulai mengembun, terbentuk awan, kemudian turun hujan.
Puncak gunung atau lereng juga sering menahan awan, sehingga peluang turun hujan cenderung lebih besar. Tak jarang orang-orang menyebut pegunungan sebagai mesin pembuat hujan alami.
Berdasarkan analisa BMKG, wilayah Nusa Tenggara Barat yang paling awal memasuki musim kemarau adalah Bima atau lengkungan bagian timur Pulau Sumbawa.
Sedangkan di Pulau Lombok, daerah yang mengalami musim kemarau paling cepat meliputi Lombok Timur bagian timur, Lombok Utara bagian utara, Lombok Barat bagian selatan, dan Lombok Tengah bagian selatan. Kawasan pesisir tersebut mulai memasuki musim kemarau pada awal April 2026.
"Daerah terakhir yang memasuki musim kemarau adalah sekitar Gunung Rinjani. Kami prediksi kawasan itu masuk musim kemarau pada awal Mei 2026," ucap Suci saat ditemui di Mataram, NTB.
Wilayah Indonesia yang dikelilingi laut merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Tuhan. Hamparan laut yang lebih luas dibandingkan daratan menjadikan negeri ini selalu ada suplai uap air, bahkan saat puncak kemarau.
Matahari yang bersinar sepanjang hari memanaskan air laut dan membuat udara mengandung uap air. Hembusan angin laut saat siang membawa udara lembab tersebut menciptakan awan di wilayah daratan, kemudian menurunkan hujan.
Saluran irigasi dan berbagai tempat penampungan air merupakan ujung tombak dalam menghadapi kondisi kritis akibat kemarau panjang. Budidaya tanaman berumur pendek dan butuh sedikit air menjadi harapan bagi pemenuhan pangan ke depan.
Jaga gunung
Ketika kemarau, puncak Gunung Rinjani yang menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut dapat terlihat sangat jelas dari berbagai sudut dan mendominasi sebagian besar pemandangan Pulau Lombok.
Jalur pendakian menuju puncak gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia tersebut terasa lebih bersahabat selama periode musim kering.
Bagi banyak pendaki, kemarau adalah waktu terbaik untuk menikmati bentang savana, kaldera, punggungan bukit, hingga panorama puncak gunung.
Baca juga: Info BMKG: 10 zona musim di NTT memasuki musim kemarau
Taman Nasional Gunung Rinjani yang memiliki luas 41.330 hektare merupakan rumah bagi ratusan spesies hewan dan tumbuhan. Bahkan, ekosistem peralihan Asia-Australia dalam garis Wallace juga berada di Gunung Rinjani, termasuk hulu dari 90 persen daerah aliran sungai Pulau Lombok.
Bagi masyarakat Lombok, Rinjani adalah sumber kehidupan karena menyediakan air bersih untuk mendukung berbagai aktivitas sosial, budaya, agama, maupun ekonomi mereka.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menyadari peningkatan aktivitas manusia di dalam kawasan taman nasional berbanding lurus dengan potensi kebakaran hutan. Apalagi, musim kemarau tahun ini cenderung lebih lama akibat pengaruh fenomena global El Niño.
Balai TNGR menggandeng masyarakat sekitar kawasan taman nasional, kelompok masyarakat peduli api, hingga pemandu dan pramuantar untuk sama-sama mengawasi ancala sakral itu dari ancaman kebakaran.
Baca juga: BMKG imbau masyarakat panen hujan untuk mitigasi
Perhatian khusus ditujukan kepada kawasan savana dan jalur pendakian terbuka, seperti daerah Sembalun dan beberapa jalur pendakian di bagian utara Pulau Lombok.
"Kondisi kemarau tahun ini menjadi catatan penting bagi kami untuk memastikan bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sebisa mungkin tidak terjadi kebakaran," kata Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan.
Aktivitas pengawasan diperketat melalui patroli rutin, pemantauan titik panas berbasis digital melalui platform SiPongi dan BMKG, serta koordinasi lintas instansi. Keindahan Gunung Rinjani yang dinikmati hari ini hanya bisa lestari jika semua pihak memilih untuk menjaga lingkungan dan ekosistem.
Kita tidak perlu risau oleh kedatangan kemarau, karena setiap musim kering selalu mengajarkan kepada manusia bagaimana cara bertahan agar kelak lebih bersyukur atas nikmat saat turun hujan.
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026