Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memanfaatkan ajang Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 untuk memperkuat promosi pariwisata daerah melalui kegiatan familiarization trip (famtrip) yang diikuti puluhan buyer dan pelaku industri pariwisata internasional dari belasan negara.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan para buyer yang berasal dari Australia, Malaysia, India, Belanda, Afrika Selatan, Polandia, Prancis, Kenya, Lithuania, Tiongkok, Hong Kong, Pakistan, Filipina, Kazakhstan, Myanmar, dan Slovakia. 

Mereka diajak mengenal secara langsung destinasi wisata, budaya, kuliner, serta fasilitas pariwisata unggulan yang dimiliki Lombok.

"Antusiasme peserta sangat besar. Ini menjadi kesempatan penting agar mereka mengetahui kondisi terkini destinasi wisata di NTB, termasuk budaya, kuliner, dan berbagai potensi yang kita miliki," kata Aulia saat menjamu para buyer di Qunci Villas, Kabupaten Lombok Barat.

Ia menjelaskan kunjungan langsung ke destinasi dinilai lebih efektif dibandingkan pertemuan bisnis singkat dalam pameran pariwisata. Melalui program famtrip, para buyer dapat merasakan pengalaman wisata secara langsung sehingga lebih memahami produk wisata yang nantinya akan dipasarkan kepada wisatawan di negara asal mereka.

Menurut Aulia, pengalaman langsung tersebut menjadi modal penting dalam membangun kerja sama yang berkelanjutan antara pelaku industri pariwisata NTB dan pasar internasional.

"Harapannya tentu ada kemitraan yang kuat antara pelaku usaha pariwisata NTB dengan buyer dari berbagai negara sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke NTB," ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pemprov NTB tidak hanya memperkenalkan destinasi wisata unggulan, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya lokal, kuliner tradisional, hingga konsep wisata gastronomi yang saat ini menjadi tren di pasar pariwisata global.

Aulia mengatakan strategi promosi pariwisata NTB harus terus berinovasi di tengah persaingan industri wisata dunia yang semakin ketat. Oleh karena itu, pengenalan budaya dan kuliner daerah menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik destinasi.

"Pariwisata saat ini menghadapi berbagai tantangan. Karena itu dibutuhkan inovasi dan optimalisasi promosi agar NTB tetap menjadi pilihan wisatawan dunia," katanya.

Selama berada di Lombok, para buyer menikmati beragam aktivitas wisata yang telah disiapkan oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, serta pelaku industri pariwisata setempat.

Pada hari pertama, peserta famtrip mengunjungi kawasan wisata Gili Trawangan. Mereka mencoba berbagai aktivitas seperti bersepeda, menaiki cidomo, snorkeling, hingga mengenal potensi wisata selam yang menjadi salah satu andalan NTB.

Ketua BPPD NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan buyer yang diundang merupakan mitra potensial dari kawasan Eropa, Asia, Afrika, hingga Amerika yang memiliki peluang besar memasarkan paket wisata Lombok di negara masing-masing.

Menurutnya, tujuan utama famtrip bukan untuk menghasilkan transaksi bisnis secara instan, melainkan membangun pemahaman yang mendalam mengenai produk wisata NTB.

"Yang ingin kita gali adalah komitmen mereka untuk menjual Lombok secara serius. Karena itu mereka harus melihat sendiri destinasi, hotel, atraksi wisata, dan pengalaman yang ditawarkan Lombok," katanya.

Sahlan menjelaskan para peserta juga dijadwalkan mengunjungi sentra kerajinan gerabah Banyumulek, Desa Adat Sukarara yang terkenal dengan tenun tradisionalnya, serta Desa Adat Ende untuk mengenal lebih dekat budaya masyarakat Sasak.

Di Desa Sukarara, buyer dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kain tenun tradisional sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sementara di Desa Ende, mereka diperkenalkan dengan kesenian tradisional, tarian daerah, dan kuliner khas masyarakat Sasak.

Baca juga: ITDC memperkuat manfaat digital wujudkan promosi pariwisata berkelanjutan

Selain itu, peserta famtrip juga menikmati wisata gastronomi melalui sajian kuliner tradisional Lombok seperti serabi dan cerorot yang dibuat langsung oleh masyarakat setempat.

Rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke kawasan wisata The Mandalika. Para buyer diajak melihat langsung kawasan destinasi super prioritas tersebut, termasuk Sirkuit Mandalika dan sejumlah pantai unggulan yang menjadi daya tarik wisata NTB.

Sahlan menuturkan sebagian besar buyer yang hadir merupakan agen perjalanan internasional yang membutuhkan pemahaman mendalam terhadap sebuah destinasi sebelum menyusun dan menjual paket wisata kepada konsumen.

Baca juga: Kemenpar tarik wisatawan potensial di ITB Berlin 2026

"Karakter travel agent internasional itu mereka harus memahami destinasi terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka menyusun dan menjual paket wisata. Karena bagi sebagian dari mereka, Lombok masih merupakan destinasi baru yang perlu dipelajari lebih dalam," ujarnya.

Melalui kegiatan famtrip BBTF 2026, BPPD NTB berharap kerja sama yang terjalin dapat berkembang menjadi paket-paket wisata baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

"Target akhirnya tentu peningkatan kunjungan wisatawan dan dampak ekonomi bagi daerah. Semakin banyak buyer yang mengenal Lombok, semakin besar peluang destinasi kita dipasarkan secara global," ucap Sahlan.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026