Mataram (ANTARA) - Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Nusa Tenggara Barat, Sinta Agathia M. Iqbal menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan gerakan bersama melawan kanker.

Sinta Agathia menegaskan penanganan kanker tidak dapat hanya mengandalkan tenaga medis, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

"Isu kanker adalah persoalan besar. Ini harus menjadi gerakan bersama, karena kolaborasi adalah kekuatan utama," ujarnya usai dilantik sebagai Ketua YKI NTB periode 2026-2031 oleh Ketua Umum YKI Pusat Prof. Aru Wisaksono Sudoyo di Mataram, Jumat.

Ia mengatakan upaya menekan angka kasus kanker harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi, perubahan pola hidup, hingga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.

Sementara, Ketua Umum YKI Pusat Prof. Aru Wisaksono Sudoyo menyoroti tingginya angka kasus kanker di Indonesia, di mana sekitar 90 persen dipengaruhi oleh faktor risiko gaya hidup dan lingkungan.

Hal ini, menurutnya, menjadi pengingat penting bahwa upaya pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas utama.

Baca juga: Dokter sebut usia pasien kanker paru di Indonesia 10 tahun lebih muda

"Penurunan angka kanker tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi pada pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan," tegasnya.

Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara YKI, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Baca juga: AI dinilai meniingkatkan akurasi diagnosis kanker payudara

Pelantikan YKI NTB ini menjadi momentum penting dalam mendorong transformasi organisasi agar lebih profesional, akuntabel, dan adaptif terhadap perkembangan regulasi.

"Transformasi ini bukan sekedar formalitas, tetapi menyangkut perubahan cara kerja, tata kelola organisasi, hingga pola koordinasi antara pusat dan daerah," katanya.