Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat sistem tanggap darurat kebakaran melalui simulasi dan peningkatan kesiapsiagaan petugas untuk melindungi koleksi artefak dan pengunjung dari risiko bencana.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam di Mataram, Selasa, mengatakan kegiatan itu sebagai upaya mitigasi mengingat telah terjadi beberapa kasus kebakaran museum, salah satunya kebakaran Museum Nasional di Jakarta.
"Koleksi museum tidak bisa diganti. Ketika rusak terbakar, maka artefak itu hilang," ujarnya.
Museum NTB menggandeng Dinas Kebudayaan NTB, Taman Budaya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Barat dalam kegiatan simulasi kebakaran tersebut.
Pihaknya menjadikan simulasi kebakaran sebagai agenda rutin tahunan untuk memastikan seluruh petugas memahami langkah-langkah penanganan keadaan darurat.
"Posisi kami sangat rentan sehingga kegiatan itu mengingatkan kembali bahwa risiko bencana terkhusus kebakaran harus menjadi prioritas untuk kami waspadai," ucap dia.
Ia menjelaskan beberapa waktu lalu Museum NTB sempat mengalami insiden kecil kebakaran yang dipicu oleh satu mesin pendingin ruangan.
Baca juga: Museum NTB menelusuri jejak kain Pesujudan warisan kebudayaan Islam
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran berharga bagi pengelolaan museum untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi dan potensi bencana, terutama kebakaran.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD NTB Wahid Dody Kurniawan mengatakan Museum NTB merupakan objek vital yang harus memiliki sistem perlindungan menyeluruh mulai dari aset maupun keselamatan pengunjung.
Baca juga: Museum NTB gencarkan mengedukasi perawatan artefak bagi warga desa
Ia menegaskan pengetahuan mengenai penanganan kebakaran tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus dilatih secara langsung melalui praktik dan simulasi berkala.
Dinas Pemadam Kebakaran Lombok Barat melatih petugas Museum NTB tentang cara menangani ular, penggunaan alat pemadam ringan (apar), memadamkan api pakai kain basah, hingga mengatasi kebocoran elpiji.
"Kunci kedaruratan adalah tidak panik dan semua harus berjalan paralel secara efektif dan efisien," demikian Dody.