Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan enam artefak wastra unggulan untuk dipamerkan dalam ajang internasional di Kota Adelaide, Australia Selatan pada 15 Mei sampai 11 Oktober 2026.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan enam koleksi itu punya nilai sejarah tinggi yang mewakili identitas budaya masyarakat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok.
"Koleksi itu mencerminkan dan representatif budaya masyarakat Lombok dalam kain," ujarnya saat ditemui di Mataram, Kamis.
Nuralam menuturkan enam koleksi yang dipamerkan oleh Museum NTB meliputi kain songket bintang remawa, kain dodot songket, kain songket seret penginang, kain tapo kemalo, dan dua lembar kain kemalik.
Koleksi kain mahakarya Museum NTB adalah kain dodot songket yang diperkirakan berasal dari periode pemerintahan Raja Mataram Lombok terakhir bernama Anak Agung Gede Ngurah Karangasem pada periode tahun 1870 hingga 1894.
Baca juga: Museum NTB: Wastra Lombok-Bali tembus panggung internasional
Kain yang umum digunakan sebagai kelengkapan upacara adat dan keagamaan tersebut terbuat dari benang sutera dengan teknik songket. Hiasan kain memiliki motif burung lyre bird endemik Australia, burung merak, kala, pucuk rebung, dan bunga.
Nuralam menjelaskan motif-motif yang terpatri dalam kain dodot songket mengandung makna yang berisi harapan bahwa pemakai kain mendapatkan kebahagiaan dan perlindungan.
Wastra Lombok tidak hanya sekadar produk tekstil, tetapi juga sarat nilai filosofis yang mengakar dan dipercayai oleh penduduk setempat.
Kain kemalik digunakan sebagai simbol tolak bala, sedangkan motif pada songket seret penginang mengandung makna kebersamaan dan kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat.
"Ada simbol yang memiliki makna menjadi bagian hari keseharian masyarakat dalam upacara adat maupun agama," paparnya.
Baca juga: Museum NTB diundang ke Australia, Wastra Lombok tembus panggung Internasional
Pameran wastra internasional bertajuk Two Islands, One Thread: The Textiles of Lombok and Bali tersebut digelar oleh Art Gallery of South Australia (AGSA) di Kota Adelaide, Australia Selatan.
Pameran itu mengeksplorasi kisah luar biasa dan unik tentang pertukaran artistik yang terjadi antara masyarakat Hindu Bali dan masyarakat Muslim Lombok selama milenium terakhir.
Pameran tersebut menyoroti keragaman seni termasuk tekstil tenun, sulaman, lukisan, dan ikat celup yang dibuat oleh masyarakat Lombok dan Bali sebagai ekspresi kepercayaan spiritual, nilai-nilai komunitas, dan penghormatan mereka kepada leluhur.
"Ternyata kain sangat kaya simbol, tradisi, dan segala macam. Ini salah satu cara kita membawa budaya kita ke level internasional," pungkas Nuralam.
Baca juga: Museum NTB jembatani dialog kolektor Australia dan Fadli Zon
Baca juga: Museum NTB memperluas jaringan internasional bersama Museum of Sydney
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026