Mogadishu (ANTARA/Reuters) - Pasukan Somalia dan milisi sekutunya membunuh sedikitnya 27 gerilyawan Al-Shabaab dalam pertempuran di perbatasan Somalia dengan Kenya, kata beberapa warga setempat dan seorang komandan milisi, Jumat.

Bentrokan meletus Kamis di kota perbatasan Balad Hawa yang dikuasai pemerintah Somalia ketika penduduk sedang pergi untuk melaksanakan sholat isa. Tembakan mortir bergema di jalan-jalan berdebu sampai selepas tengah malam ketika gerilyawan Al-Shabaab melancarkan serangan balasan.

Seorang aparat keamanan Kenya di perbatasan mengatakan, puluhan prajurit Kenya ditempatkan di daerah perbatasan sebagai langkah kesiagaan.

Seorang warga bernama Ahmed Osman mengatakan, ia menghitung 32 mayat di Balad Hawa pada Jumat pagi. Pasukan Somalia menyebut jumlah kematian gerilyawan 27 dan mengatakan, sejumlah prajurit mereka juga tewas.

Beberapa orang lain mengatakan, pertempuran itu membuat ratusan orang mengungsi dari kota tersebut menuju Kenya dan Ethiopia.

"Al-Shabaab menyerang posisi-posisi pertahanan kami... namun kami kemudian mengalahkan mereka dan menghalau mereka dari kota itu dan daerah-daerah sekitarnya," kata Sharif Abdiwahid, seorang juru bicara pasukan gabungan pemerintah Somalia dan milisi Ahlu Sunna Waljamaca.

Al-Shabaab menguasai banyak wilayah tengah dan selatan Somalia, yang terperangkap ke dalam perang saudara selama dua dasawarsa terakhir.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli lalu.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab, kelompok muslim garis keras yang menguasai sebagian besar wilayah tengah dan barat Somalia, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 76 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaeda.

Serangan-serangan bom pada 11 Juli itu dilakukan di sebuah restoran dan sebuah tempat minum yang ramai di Kampala ketika orang sedang menyaksikan siaran final Piala Dunia di Afrika Selatan.

Pemimpin Al-Shabaab telah memperingatkan dalam pesan terekam pada Juli bahwa Uganda akan menghadapi pembalasan karena peranannya dalam membantu pemerintah sementara Somalia yang didukung Barat.

Uganda adalah negara pertama yang menempatkan pasukan di Somalia pada awal 2007 untuk misi Uni Afrika yang bertujuan melindungi pemerintah sementara dari Al-Shabaab dan sekutu mereka yang berhaluan keras di negara Tanduk Afrika tersebut.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya, Hezb al-Islam, berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Penculikan, kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026