Mataram, (ANTARA) - Kepala Kantor Pos Indonesia Cabang Mataram, Dewa Mertayasa mengatakan, transaksi pengiriman uang melalui "Western Union" didominasi kiriman Tenaga Kerja Indonesia asal Nusa Tenggara Barat yang bekerja di luar negeri.
"Rata-rata jumlah transaksi setiap bulan mencapai 10 ribu transaksi. Dari jumlah tersebut, 70 persennya berasal dari kiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bekerja di luar negeri, khususnya di Malaysia," katanya di Mataram (9/4).
"Western Union" adalah jasa pengiriman uang dari dan ke berbagai negara di dunia.
Jasa itu menggunakan teknologi elektronik yang secara "online" dan "real time" menjangkau ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia.
Ia mengatakan, pengiriman uang melalui fasilitas tersebut rata-rata mengalami peningkatan sebanyak 1.000 transaksi setiap bulannya.
Meningkatnya pengiriman uang melalui "Western Union" terjadi pada hari-hari besar Islam seperti pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjelang Idul Fitri.
Menurut dia, meningkatnya transaksi pengiriman uang melalui "Western Union" karena aman, mudah, cepat dan terpercaya serta telah melayani di banyak negara di dunia.
Kemudahan pengiriman uang melalui "Western Union" di antaranya karena biaya pengiriman yang terjangkau, tidak perlu memiliki rekening atau domisili di suatu tempat, dan tidak ada jumlah minimal uang yang dikirim.
"Dalam hitungan detik uang yang dikirim dari luar negeri sudah sampai tujuan," katanya.
Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi mengatakan, sekitar 10 persen dari 4,3 juta penduduk daerah itu bekerja di luar negeri dan kiriman uang dari mereka mencapai Rp1 triliun per tahun.
"'Remitance' dari TKI yang bekerja di luar negeri mencapai Rp1 trilun. Terbanyak kiriman dari tenaga kerja yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi," katanya.
Ia mengatakan, kiriman uang dari orang NTB yang bekerja di Malaysia dan Arab Saudi mencapai Rp700 miliar hingga Rp800 miliar per tahun, namun penggunaan dana yang cukup banyak itu lebih banyak bersifat konsumtif.
Menurut dia, dana hasil jerih payah para TKI yang bekerja di luar negeri itu tidak digunakan untuk hal-hal yang menumbuhkan kegiatan ekonomi, tetapi dimanfaatkan untuk membeli barang elektronik dan membangun rumah.
"Sebagian TKI tidak mau menggunakan uang tersebut untuk modal usaha, mereka lebih banyak menghabiskan untuk hal-hal konsumtif, Kalau sudah habis bisa bekerja lagi di luar negeri, ini menyebabkan banyak yang menggantungkan hidup mereka dari bekerja di luar negeri," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026