Wujud akulturasi di kota tua Ampenan

id sejarah ampenan,kota tua ampenan,bangunan sejarah

Kepala LKBN Antara Biro NTB Riza Fahriza bersama pelajar SMPN 15 Mataram ketika berkunjung ke Vihara (Klenteng) Po Hwa Kong di Ampenan, Minggu (3/3/2019). (Foto Antaranews NTB/Ist)

Mataram (ANTARA) - Mengunjungi kota tua Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, memberikan banyak cerita masa lalu, karena kota yang berada di pesisir pantai ini dihuni berbagai etnis.

Kota Tua Ampenan ini sebagai salah satu wujud dari Bhineka Tunggal Ika. Kota ini sangat kental dengan nuansa akulturasi budaya atau pecampuran antara lain budaya Melayu, Bugis, Jawa dan Sasak (Lombok). Hal ini menghasilkan kekayaan seni dan budaya.

Alkulturasi atau percampuran anatara dua lebih di Kota Tua Ampenan ini, dibutikan dengan banyaknya nama kampung, seperti Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Arab dan Komplek pecinan di Jalan Pabean, Ampenan.

Kawasan Kampung Melayu berada di dekat Kampung Arab, sementara di sebelah timur jalan terdapat Kampung Bugis dan Makam Bintaro.

Pemandu wisata siswa yang tergabung dalam Jurnalis Libels, Riza Fahriza mengatakan penduduk Kota Tua Ampenan sangat kental dengan alkulturasi budaya.

"Walaupun dari berbagai suku, budaya dan agama serta etnis, mereka hidup berdampingan secara rukun dan damai, tidak pernah terjadi konlflik," kata Riza.

Ampenan yang merupakan kota tua di Pulau Lombok tidak hanya berupa banguan tua, melainkan wujud reprensentasi dari alkulturasi budaya dan entis yang ada di wilayah Lombok, tetapi juga di Nusantara.

Kota tua Ampenan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang cukup ramai dikunjungi wisatawa yang ingin menikmati keindahan dan keunikan kota tua tersebut.

Kota Tua Ampenan merupakan saksi sejarah keberadaan pemerintah Kolonial Belanda dan sekaligus sebagai kota dagang. Bahkan Kota Tua Ampenan pernah menjadi pelabuhan ekspor ternak.(*)
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar