Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat dari kuartal ke kuartal pada triwulan II 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 6,56 persen yang didorong aktivitas industri pengolahan mineral dan ekspor.
"Pertumbuhan itu menunjukkan kapasitas produksi daerah mulai pulih dan tumbuh, khususnya setelah beroperasinya fasilitas smelter di Sumbawa Barat," kata Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Selasa.
Sektor industri pengolahan tumbuh pesat sebesar 37,69 persen dan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi triwulanan. Hal itu didorong oleh aktivitas pemurnian mineral oleh PT Amman Mineral Industri (AMIN) di Kabupaten Sumbawa Barat, katanya, menjelaskan.
Baca juga: Ekspor komoditas tembaga di NTB alami tren kenaikan
Menurut dia, di sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mengalami kenaikan sebesar 26,62 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun, secara tahunan komponen itu tetap terkontraksi hingga minus 40,02 persen.
Ekonomi Nusa Tenggara Barat masih mencatatkan kondisi kontraksi minus 0,82 persen secara tahunan akibat penurunan sektor pertambangan dan penggalian. Produksi tembaga tercatat anjlok 57 persen sejak dihentikannya ekspor konsentrat mentah oleh pemerintah pusat.
Kategori administrasi pemerintahan juga mengalami kontraksi karena belanja pegawai turun dari Rp3,2 triliun menjadi Rp2,9 triliun, menyusul realisasi Tunjangan Hari Raya (THR) yang telah dibayarkan pada triwulan sebelumnya.
Baca juga: DPRD NTB mendorong peningkatan kapasitas produksi smelter PT Amman
Meski demikian, BPS mencatat sebanyak 15 dari 17 lapangan usaha justru mencatat pertumbuhan positif. Penyediaan akomodasi dan makan serta minum tumbuh sebesar 17,83 persen didorong oleh peningkatan wisatawan dan okupansi hotel yang naik tajam.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, yang menyumbang 23,31 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB juga mengalami pertumbuhan sebesar 7,80 persen ditopang oleh naiknya produksi padi sebesar 5,86 persen secara tahunan.
Baca juga: Gubernur NTB: Smelter jadi pintu masuk industri berkelanjutan di Sumbawa Barat
Konsumsi rumah tangga naik sebesar 2,89 persen secara kuartal ke kuartal menandakan daya beli masyarakat mulai pulih. Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mencatat kenaikan sebesar 1,08 persen menjadi indikator kepercayaan pelaku usaha.
BPS memandang dengan struktur produk domestik regional bruto yang semakin seimbang antara sektor tradisional dan industri baru, NTB menunjukkan arah pemulihan ekonomi yang kuat meskipun tetap menghadapi risiko kontraksi eksternal dari sektor tambang dan ekspor.
Baca juga: Hilirisasi mineral berpeluang dongkrak pertumbuhan ekonomi di NTB
Pewarta : Sugiharto Purnama/Akke Alifwibia Ningsih
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026